Recent

Showing posts with label Kolom Sastra. Show all posts
Showing posts with label Kolom Sastra. Show all posts

30 January, 2017

Puisi AJib Rosidi Ejaan Lama #4

Djalan Lempeng
sebuah lukisan S. Soedjojono


Burang gagak, burung gagak! Biarkan dia berdjalan!
Biarkan dia berdjalan, membungkuk pada kejakinannja
Bertolak dari bumi kehidupan lampau, begitu ia melangkah
Pasti dan jakin. Karena ada mimpi di balik gunung itu:
Lembah hidjau hidup segar. Karena di sini batu mentjair
Gurun mati. Tandus dan sepi.


Burung gagak, biarkan dia berdjalan. Di ruas2 langkahnja
Menjala dendam pada bumi lampau. Di dadanja padat kesumat
Pada dunia kehidupan jang mati di sini.


Burung gagak, sampaikan salamku padanja. Salam bagi
Jang sudah melangkah atas kejakinan. Salam bagi
Jang sudah berani bikin perhitungan tandas sekali.


Gunung2 jang membatu, gersang dan kering,
kan takluk pada tapaknja.
Satu demi satu kan dilewatinja. Ia terdjang dunia mati.


Burung gagak, kini ia berdjalan. Melangkah dengan gagah
Ia tahu di balik gunung ada mimpi, ada lembah
Tidak tjair meleleh seperti bumi jang menggolak ini.
Semua kan tunduk kepadanja.
Semau kan menjerah pada langkahnja. Karena ia berdjalan
Atas kejakinan.


Biarkan dia berdjalan!


Gunung dari lembah sana, gaung dari mimpi diri.
Burung gagak, ia dengar njanji itu. Dan ia menudju ke situ.
Pohon2 mati dan sepi. Padangpun mati dan sepi
Batu2 mentjongak ngeri, tadjam dan mengantjam
Tapi ia melangkah menudju lembah2 mimpi.


Ia sendirian. Batu2 dan alam geram.
Gunung mendinding di udjung. Langitpun kan menerkam.
Dan ia melangkah dengan pasti: Batu tjair djadi beku.


Langitpun djadi membiru, mengutjapkan selamat djalan
Menempuh kehidupan.


Burung gagak, burung gagak, biarkan dia berdjalan
Sampaikan salam jang erat dan hangat. Ia jang jakin
Ada mimpi di balik gunung batu, ada lembah hidjau dan lembut
Kehidupan tenang, sawah-ladang, padang rumput …


Djangan kauganggu!


1955




Tjinta dan Kepertjajaan


Dalam hidup ‘kan kupertahankan
Nilai hubungan antar-manusia, didasarkan
Atas tjinta dan kepertjajaan.
‘Kan kupertahankan kehangatan
Gamitan dua tangan, menjampaikan
Kehangatan rasa dua djiwa.


Tjinta adalah bunga tumbuh
Atas kesuburan tanah kasih, berakarkan
Hati mau mengerti, saling membagi.
Dan kepertjajaan, landasan
Kerelaan dan kemesraan.
Pertalian dua hati.


1960



Puisi Ajib Rosidi Ejaan Lama #2

Pedjalan Sepi


ia tembus kesenjapan dinihari
sepatunja berat menundjam bumi
menempuh kota jang lelap terlena
dalam pelukan tjahja purnama


ia tembus kedinginan pagi
siulnja njaring membelah sunji
membangunkan insan agar bangkit
dalam pertarungan hidup jang sengit


di sebuah djembatan ia berhenti
dihirupnja udara sedjuk dalam sekali:
bulan jang mengambang atas air kali
adalah gambaran hatinja sendiri!


1954




Lagu Kerinduan


wadjahmu antara batang kelapa langsing
menebar senjum dan matamu mendjadikan daku burung piaraan
semua hanja bajangan kerinduan: kau jang nun entah di mana
mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana


kudjalani kelengangan hari
sepandjang pagar bajangan: wadjahmu menanti
langkah kuhentikan dan kulihat
hanja senjummu memenuhi djagat


1954


Puisi Ajip Rosidi Ejaan Lama #1

Beberapa pilihan puisi Ajip Rosidi dalam Djeram(catatan: penulisan menggunakan ejaan lama, sesuai buku)


Memandang Kehidupan

Memandang relung2 kehidupan
Aku tak tahu pasti
Apakah mungkin mendjadi
Seorang tua jang tenang batja koran
Di tengah ribut dunia kebakaran?


Kusaksikan diriku dan kawan2
Sambil makan katjang dan asinan
Memperbintjangkan nasib negara
Sengit berdebat
Penuh semangat memberi perintah
Menentukan haluan dunia.


Tidakkah lebih baik kita tenggelamkan
Segala rumus dan perhitungan di warung kopi
Selagi matahari belum tinggi
Atau kupilih sadja ketenangan kursi gojang
Saban pagi semangkuk susu dan setangkup roti?


Masih pula merasa kuatir
Akan kepastian hari esok: Bukan tak mungkin
Tuhan tiba2 bertitah: Berhenti!
Maka planit2 bertubrukan, bintang2 padam.
Lalu apa jang masih dapat ditjapai?


Sedangkan bumi tak lagi pasti.


Jang tinggal hanja angan2 jang pandjang
Dan kelam. Sedang
Angan-anganpun
Membutuhkan suatu landasan.


Kuteliti tanganku: urat-uratnja, tulang-tulangnja …
Bisa sadja lenjap tiba2. Tak satupun kupunja.
Selain do’a.


1968



Sadjak Buat Sebuah Nama

Telah kausiram bumi pertiwi
dengan darahmu jang merah: Maka kini
kaulihat pemimpin-pemimpin besar tjakap
tak lebih dari para pemain sulap
jang bersumpah atas nama Tuhan
hanja untuk pangkat dan kedudukan.


Telah kauberi tjontoh keiklasan berkurban
terhadap tanahair, bangsa dan Kebenaran
jang selama ini hendak dipalsukan
di bawah kebuasan nafsu dan kesewenang-wenangan.


Dan telah kaubuktikan bahwa dari apapun
lebih kautjintai Kemerdekaan. Kehidupan
manusia-budak jang bergelimang kemewahan duniawi
kautolak dengan tegas dan pasti. Lalu setjara sederhana
kaupilih Keadilan – jang lama telah dilupakan
meski para pemimpin tak kundjung henti
mendjadjakannja dalam setiap upatjara
dengan berbagai pidato berapi api
dengan berbagai slogan dan sembojan
jang tak satupun punja arti
bagi kehidupan rakjat sehari-hari.


1967

29 January, 2017

27 January, 2017

Jalan Jalan



Oleh : Kahfi Lubahsa


Jalan ke jalan
Jalan ke atas jalan
Jalan ke bawa jalan
Jalan ke dalam jalan


Jalan ke lorong jalan
Jalan ke belokan jalan
Jalan ke terowongan jalan
Jalan ke suara jalan



                                                     Mario 2017

20 January, 2017

Tubuh Industri





Oleh : Kahfi Lubahsa

#1

Dia tertanam dalam godaan para konglomerat yang merasut tubuhku pada waktu sengganku. Bekerja saat tubuh tak menyadari ucapan tuan. Perkataan tuan menjadi nyawa dalam tubuhku. Sedangkan tubuh bagi dia telah hilang akibat ulah sistem kerja tuan.

Sehari dia bekerja bersama mesin dalam hitungan waktu dua belas jam. Berlarut-larut memandang bentuk sebuah mesin dan melihat mesin telah bekerja, hingga tubuhnya mengikuti bahasa dan gerakan mesin. Bunyinya sudah tak asing lagi dia mendengarnya. Iramanya hanya monoton sama ketika dia bersuara pada rekan pekerja.

Membuat dia semakin patuh pada ucapan mesin, menghiraukan apa perkataan tuan. Seakan mesin adalah tubuh baginya dan tuan adalah jiwanya. Lalu tubuh bagi dia apa ? baginya hanyalah mesin ? segala organ tubuh yang dia miliki teratur pada sistem kerja mesin.


#2

Dia telah menjadikan tubuhnya sebagai alat pekerja bagi mesin dan tuannya. Dia berusaha menyuruh gerak pada tubuhnya agar terbiasa pada pekerjaannya. kebiasaan itu dia jaga walau terluka pada anggota tubuhnya. Sampai batas kemampuan tubuh kepada tuannya.

Dalam dirinya tersugesti bahwa tubuh yang kuat adalah tubuh menjadi alat. Telah lama dia menjalani kehidupan petani. Tubuhnya tak diragukan pada setiap kali dia mengerjakan tanah tuannya. Kadang kala dia mendapatkan luka pada tubuhnya saat dia bekerja mengangat hasil garapannya.

Menjabat tangan pejabat seringkali dia temukan pada acara pemilihan jabatan. Bertemu para tubuh pejabat seolah tegar dan dia melihat kami pekerja seakan tubuh kami sedang rapuh. Mencitrakan tubuhnya dengan pada tubuh-tubuh kami yang katanya sedang rapuh.


#3

Tubuh tegar borjuis dia gunakan sebagai pelampiasan nafsu bagi tubuh-tubuh yang dia inginkan. Keberadaan borjuis telah merubah segala keadaan menjadi tubuh tertunduk. sehingga terjadilah perubahan besar-besaran, dari tubuh ke mesin, mesin ke robot. Tubuh bukanlah robot dan robot bukanlah tubuh.

01 September, 2016

Mengertilah


Oleh : Kahfi Lubahsa


03
Mengenalmu adalah derita bagiku,
Deritaku menyimpan rasa pahit
Yang ingin ku lampiaskan.
Apakah kau mengerti ?
Deritaku ?

Walaupun pahit rasanya
Tetap saja aku menerimanya.
Tanpa ada paksaan dalam diriku.
Itulah konsekuensi mengenalmu,
Bahwa aku merelakan diriku menderita.
Apakah engkau mengerti ?

Harapan itu ada ketika kamu mengerti penderitaanku.
Sekalipun kamu mengerti,
Ini bukan hanya sekedar untuk dimengerti
Tetapi
Kita mesti merasakannya bersama.
Jikalau engkau siap, mendekatlah padaku,
Sedekat-dekatnya antara Kau dan Aku.

Perkenalan bukan hanya sekedar kenal dan dikenalkan.
Tetapi ada pesan yang harus kamu tebak dalam pertemuan kita.
Antara perasaanmu yang tak
Bisa kamu bohongi,
Begitu pula dengan perasaanku padamu.
Ada ikatan yang harus kita jaga bilamana
Hatiku menginginkanmu berada disisiku.
Perlu kamu ketahui,
Bahwa pertemuan itu jika dimaknai adalah
Sebuah tanda kerinduan yang dimiliki oleh manusia.

Aku selalu ingin mengajakmu berbuat sesuatu yang tak kita ketahui,
Tetapi aku mengerti akan penolakanmu.
Bagiku penolakanmu adalah cahaya yang mampu menerangi
di saat aku sedang merasakan kegelapan yang tak gelap.

Rasakanlah kerinduanku padamu
walau hanya sedikit saja, dan
tak usah engkau paksakan dirimu jika
kamu tak merindukan Aku.
Aku sangat mengerti dengan hal itu,
Ingin aku jelaskan alasannya ?
Biarlah kamu mencari-cari alasan yang tepat untuk kamu jelaskan padaku,
Bahwa aku merindukan jiwamu.
Apakah kamu mengerti ?


Makassar 2016

21 March, 2016

Masihkah Ada Identitasmu ?


Oleh: Ash. Kahfi

Mereka menyuarakan perubahan dengan lantang,
tanpa melihat air mata berjatuhan.   
Betapa menyedihkannya seruan itu.
Telah diwariskan penderitaan yang cukup lama.
Tujuannya hanya kemerdekaan.

Segala macam cara engkau permainkan,
Hingga harta adalah tujuan yang engkau perjual-belikan.
Kemunafikan terus saja berjalan di arah kegaduhan sementara kesengsaraan telah terjadi dimana-mana, bahkan disampingmu.
Wahai pemilik peradaban, kembalilah ke langkah yang engkau perjuangkan.
Sebagaimana derita adalah hadiah terbesar yang terjadi disekitar kita.

Alam telah memberikan tanda-tanda kekecewaan terhadap gayamu.
Apakah engkau merasakannya di dalam jiwamu ?
Jiwamu adalah satu-satunya jalan kedamaian.
                                 Masihkah ada identitasmu ?


Maret 2016

29 December, 2015

Masihkah Bugis Memiliki Tabe’ ?


Oleh: Al-Fian Dippahatang
Dari kecil, saya tidak pernah ditinggalkan orangtua merantau sebagaimana ciri yang melekat pada orang Bugis. Malah, saya yang dianjurkan orangtua merantau demi alasan pendidikan. Didikan orangtua saya di rumah, hingga lepas dari pengamatannya secara langsung, tidak serta-merta membuat adab sopan santun yang getol menyuapi saya, bakal saya tinggalkan.

Saya percaya, adat menjadi cikal-bakal terbentuknya karakter ke dalam (diri sendiri), pantang melanggar petuah, karena penilaian bakal berpulang pada cara orangtua mendidik. Sedang, karakter di luar dari diri (lingkungan sosial masyarakat yang berbudaya), berkenaan penilai orang-orang berkenan dengan prinsip yang membentuk dalam lingkungan keluarga. Sebagai anak, tentu menjaga nama baik orangtua di perantauan suatu kewajiban, terlebih saya yang dibekali petuah.

Sebuah upaya keras saya bangun untuk menghargai dan menghormati siapapun yang berada di sekitar saya. Agar, tidak dinilai kurang beradab dan berbuat sesuka-sukanya. Dari kebudayaan Bugis, sopan santun dianggap sebagai salah satu konsep terbentuknya satu sistem nilai yang sangat berharga, yang dikenal dengan tabe’.

Bentuk petuah sopan santun diajarkan orangtua saya yang dimaksudkan diawal tulisan ini adalah tabe’. Petuah yang di mana pun, tidak boleh luput untuk saya junjung. Tabe’ menjadi penting dalam hidup saya, saat-saat diperhadapkan dengan situasi genting kehidupan modern dalam berperilaku. Terlebih orangtua sendiri, lebih-lebih orang yang dituakan, bahkan sekalipun usianya lebih muda. Tabe’ tak memandang usia, latar belakang keluarga dan pendidikannya nak, begitu ketus orangtua saya bergerutu jika berpetuah.

Melalatoa, Guru Besar Departemen Antropologi Universitas Indonesia menganggap, bahwa suku Bugis tidak bakal lepas dari aturan dan sistem norma adat yang cukup sakral yang disebut pangaderreng (Makassar: pangadakkang). Hal ini menjadi petunjuk orang Bugis dalam kehidupannya, dari lingkungan keluarga sampai yang lebih luas sebagai kelompok etnik. Tabe’ adalah bagian dari pangaderreng yang dijadikan titik perhatian dalam hidup yang berbudi suci.

Secara sederhana, orangtua saya ingin memberikan pemahaman, bahwa tabe’ yang dimaksudkannya adalah minta permisi untuk lewat, sambil mengucapkan kata tabe’ tersebut ketika orang-orang duduk berkumpul. Tidak sekadar mengucapkannya, tabe’ yang dipahamkan kepada saya, jika melakoninya sambil berjalan dengan diikuti tubuh membungkuk seperti sedang rukuk. Menunduk meluruskan tangan di samping lutut atau menggerakkan tangan kanan atau sepasang tangan ke bawah mengarah ke tanah. Selain itu, tabe’ yang dipahamkan kepada saya, mengambil sudut pandang, jika hendak mengambil alih sebuah pembicaraan atau mengawali sebuah percakapan, hendaknya berucap tabe’.

Jika dikaitkan sebagai kesatuan nilai taro ada taro gau’—hal yang selalu sesuai yang diucapkan dengan penerapannya melalui perbuatan. Orang Bugis akan meraih pemaknaan yang lebih dalam mengenai tabe’ sebagai suatu fungsi dan nilai yang cukup sakral. Hal ini, dimaksudkan, agar, tabe’ yang dilisankan diikuti dengan menggerakan anggota tubuh tertentu tetap seiring dan sejalan dalam menjaga nilai kearifan lokal.
                                                                                ***
Saya yakin, orang yang sopan santun disenangi lingkungannya. Digemari orang-orang dalam bergaul tanpa takut dikatakan tidak paham dengan kebudayaan. Sebab, kita tidak akan lepas menerapkan kebudayaan. Memahami kebudayaan hanya sekadar tataran teori dan tanpa praktek bakal tidak seimbang bahkan pincang. Kedua-duanya penting sejalan, agar kita tidak semu bahkan buta dengan pengetahuan yang bertabur dengan kearifan lokal.

Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer mengutip pemikiran antropolog dari Inggris Edward Burnett Taylor dalam bukunya, Primitive Culture and Anthropology, mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Tabe’ adalah anak dari ibu kebudayaan yang ingin disampaikan Taylor kepada kita sebagai orang Bugis. Agar, tetap memiliki kepedulian dan kesadaran terhadap kekayaan nilai-nilai kearifan lokal. Menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sangat penting demi menepis anggapan, orang Bugis tidak Bugis lagi dengan kebudayaannya.

Namun, dibesarkan dari suku manapun selain Bugis, menjunjung nilai-nilai kearifan lokal yang searti dengan tinjauan penerapan dari tabe’ penting melaksanakannya. Jangan sampai menggugurkan niat orangtua yang berbusa-busa berpetuah kepada kita lantas dengan pengaruh kebudayaan luar, kita semaunya saja melepaskan gaun kearifan lokal tersebut.

Tidak ingin menampik untuk ingkar, saat ini tabe’ perlahan terkikis penerapannya. Jika kita tilik dari perilaku orang-orang tua dulu yang kurang mengenyam, bahkan tidak kenyang dengan pendidikan. Mampu membuat anak-anaknya bisa terdidik dengan baik atau dari didikannya selalu tampak nilai dari karakter sopan santun.

Saya lantas menganggap, apa yang dilakoni orang-orang tua dulu, suatu kebiasaan yang tidak lepas dilakukan untuk anak-anaknya. Mapan dalam menegakkan sikap malu—lebih kuatnya, karena tidak ingin memunggungi siri’, harga diri yang lekat pada orang Bugis mengalir kepada anak-anaknya jika tak tahu tabe’. Jika sedang dianjurkan menerapkan sopan santun, tabe’ akan menjadi mappatabe’ atau merasakan keindahan dari kebudayaan yang ada dalam diri anaknya. Agar, tidak mendapat gunjingan dari tetangga bahkan orang-orang dari kampung sebelah.

Menyerukan tabe’, menyuarakan kebudayaan. Kita adalah pelaku nilai-nilai kearifan lokal, khususnya yang ada di Sulawesi Selatan ini. Tak sekadar menyadarinya. Di mana pun kita berada mesti menunaikannya. Jangan sampai, kita berpendidikan tinggi, lantas kita rendah pada hal sepele dan mengabaikan nilai-nilai karifan lokal.

Masikah Bugis memiliki tabe’? Sebaiknya, mari kita merenunginya bersama-sama, tabe’.

Tentang Penulis

Al-Fian Dippahatang lahir di Bulukumba. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin ini sehari-hari belajar sastra di Komunitas Penulis Lego-Lego dan Komunitas Penulis Lamaruddani di Makassar. Mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Makassar International Writers Festival 2015. Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Nasional Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (GBSI UPI) 2015. 
 Twitter: @pentilmerah

27 December, 2015

Saat Bayangan Seketika Memudar


Oleh : Esye Yusuf Lapimen

Kasih sayang telah bermekaran usai pernikahannya dengan Wina, perempuan imut penyuka kerudung cerah. Memang seharusnya demikian, menyayangi istri, melindungi, apapun resikonya adalah kewajiban suami. Ia yang dahulunya pemarah, kini tak. Ia yang dahulunya emosional, kini tak. Sudah sepatutnya, ia harus pandai menyembunyikan amarah dan emosi.

Wina, perempuan yang dikenalinya selama tiga tahun lima bulan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menikah. Perempuan yang telah mengenalkan makna setia, semenjak masa-masa mudanya. Namun, setelah pernikahannya, makna setia menjadi rumit. Hingga akhirnya, sulit baginya untuk merumuskan garis pemisah antara makna setia dan makna rumit. Terkadang, kesetiaan bermakna harus mempertahankan hubungan yang telah terjalin, di saat itu pulalah makna rumit menghampiri untuk mempertegas dirinya, bahwa mempertahankan hubungan adalah kerumitan yang sangat esensi. Jikalau kerumitan harus diacuhkan, itulah berarti kesetiaan harus pula ditanggalkan.

Terkadang Wina menyisakan amarah untuknya, ia sabar. Tak pantas baginya untuk memarahi seorang perempuan, apalagi perempuan itu adalah istrinya sendiri. Meskipun istrinya telah berlebihan, ia hanya mengelus dada, meredam emosi agar tak beruap. Sebab, bisa saja uapnya memanasi seisi rumah, dan di luar rumah, embun akan mengundang kabut hitam keruntuhan rumah tangga. Ia tak mau itu.

Suatu malam yang larut dalam gelap, Ia setia menunggu daun pintu berderik. Pandangannya terus menatap dalam, menyiapkan sekotak senyum untuk menyambut istrinya. Disimpannya kotak itu di dalam hatinya yang seketika berubah menjadi pink. Namun, istrinya tak kunjung datang hingga shubuh mampir terlebih dahulu mengetuk pelipisnya yang lelap. Selepas panggilan Adzan, suara istrinya belum juga terdengar, telinganya seketika menangkap sunyi. Ada gemuruh di dada dan semacam dentuman keras di batok kepala. Daun pintu menari-nari dan penglihatannya seketika memudar. Hatinya bimbang memilih warna; tetap menjadi pink atau kembali menjadi merah.

###

“Pak Rangga menderita gagal ginjal,” suara dokter seketika menakutkan. Segala ucapannya berubah menjadi dogma yang harus dituruti. Jika tak, kejadian selanjutnyalah yang semakin mengerikan.

“Gagal ginjal? Bukankah, ia tak mempunyai riwayat kesehatan terkait gangguan seputar ginjal, dok,” Rivai, kakak tertuanya mencoba bertanya kebenaran diagnosa dokter.

Dokter mengangguk sejenak sambil menyiapkan argumen untuk membuktikan diagnosanya tidak salah. Ia mengambil botol air mineral yang sedari tadi diletakkannya di meja, membuka tutupnya, menenguk sekali, lalu kemudian meletakkan kembali botol tersebut. “Mmmm….,” suaranya berat hingga ia harus menyandarkan tubuh pada kursi kerjanya. Telunjuk kanan memukul-mukul ujung bibirnya, sekali, dua kali, tiga kali, beberapa kali, tak terhitung. Sedangkan matanya memandang langit-langit sebelum kemudian tatapannya ditujukan kepada dua orang di depannya.

“Awalnya Ia menderita hipertensi,” dokter kembali berbicara dengan suara yang semakin berat, setelah hembusan nafas panjangnya. “Ya… tekanan darah tinggi. Ia sering marah, namun pandai menyembunyikan. Amarahnya ia pendam dan emosinya ia redam. Meski dirinya bergejolak, darahnya mendidih, dan urat-urat nadinya menegang, raut wajah yang seram berusaha ia sembunyikan. Memang matanya tak perlu melotot, dan suaranya tidak perlu kasar, tetapi batinnya rapuh,” dokter menjelaskan. Kedua orang di depannya saling berpandangan.

“Jadi Dok, ia sekarang bagaimana?” seorang perempuan tiba-tiba bertanya dengan gesa.

“Ibu, siapa?”

“Saya istrinya, dok,” jawabnya.

###

“Aku malu pak, malu sama keluarga. Hampir tiap bulan, tiap minggu bahkan tiap hari mereka bertanya, kapan punya anak? Nah… Ibu pak! Ibu…! Seringkali bertanya, kapan cucu saya lahir? Aku malu pak!” katanya sambil berlalu, memasuki kamar dan membanting pintu. Rangga menyusul istrinya ke dalam, di pintu ia berdiri lalu berkata lembut, “Ma… anak itu amanah Tuhan. Mungkin saja, kita belum diberikan amanah.”

Istrinya berbalik seperti ingin mencengkram, dia memandang suaminya dengan gigi taring di depan. “Sampai kapan!” bentaknya lalu meremas-remas rambutnya. “Sampai semua rasa malu ini berubah menjadi pasrah!” katanya sembari membuka lemari dan mengambil beberapa lembar pakaian. “Sudah empat tahun kita bersama. Hasilnya?” lanjutnya dengan tanya sebagai penutup.

“Mau ke mana, Ma?” tanya Rangga sembari mendekati istrinya, kalimatnya tidak di respon. Ia mencoba memegang pundak istrinya, ditolak, tangannya ditepis. Ia mundur dan memilih duduk di tepi ranjang memperhatikan tingkah istrinya yang sementara berkemas. Ia paham, istrinya akan pergi, bendungan di matanya pun pecah.

Saat itu, cintanya berubah menjadi badai. Datang sesaat dan menyapu semuanya, tak tersisa kecuali puing. Ia merasa dirinya sebagai lelaki bodoh, tak mampu menghalau kepergian orang yang dikasihinya, namun berharap kembali. Saat bayangan istrinya seketika memudar, ia setia menunggu daun pintu berderik. Pandangannya terus menatap dalam, menyiapkan sekotak senyum untuk menyambut istrinya. Disimpannya kotak itu di dalam hatinya yang seketika berubah menjadi pink.

Hingga badai susulan datang menyapa. Badai yang ingin menyapunya tanpa sisa, ia berusaha bertahan. Saat-saat itu, Ia memberikan isyarat kepada tetangganya agar ke rumah sakit. Tetangga itulah yang menghubungi sanak keluarganya, serta istrinya.

“Ia masih pingsan, bu,” kata tetangga itu, saat Wina bertanya keadaan suaminya melalui jaringan seluler.

“Aku akan menyusul ke sana,” timpal Wina sesaat sebelum pembicaraan singkat itu berakhir dan menyisakan sesal. Dalam benaknya berkecamuk, Ia telah menyalahkan dirinya sendiri yang meninggalkan suaminya seorang diri.

###

“Apa? Ia buta permanen?” Wina seketika kaget

“Iya, Bu. Tekanan darah yang merusak fungsi ginjal mangakibatkan sel-sel darah yang berasal dari ginjal ke mata tidak berfungsi secara optimal. Suami ibu sering mengalami sakit kepala yang terus menerus, akhirnya sakit itu telah terbiasa ia rasakan dan akhirnya ia menganggap sakit kepala itu telah menjadi bagian dari hidupnya, dan memutuskan untuk tidak mengeluh,” dokter menjelaskan.

“Bukan. Bukan itu, dok. Ia ingin mengeluh, tetapi aku tidak pernah mau menjadi pendengar yang baik untuknya,” Wina menyela dengan sesak. “Sudahlah, dok. Bagaimana selanjutnya?” katanya kemudian dengan sekali usapan tissue di pelipisnya.

“Karena sakit kepalanya telah terbiasa dan menganggap itu bukan persoalan. Berakibat fatal terhadap sel-sel darah di bagian mata. Hingga ia harus mengalami kebutaan. Maaf bu, penyakitnya sudah dalam kategori akut dan tidak bisa diusahakan untuk melihat kembali, kecuali…”

“Diganti. Aku siap! Gunakan mataku,” Wina memotong penjelasan dokter.

“Bukan itu, lagian percuma, bu. Tetap akan kembali rusak, sebab ginjalnya yang menjadi akar masalah,”

“Termasuk ginjal yang aku miliki. Aku siap! Ia telah banyak berkorban untukku,” Wina menatap dokter dengan dalam.

“Tidak semudah itu, bu,” dokter kembali bersandar di kursi kerjanya. Sementara Wina merasa semua kejadian adalah akibat dari tingkahnya. Penyalahan terhadap dirinya telah melampaui kebenaran nalarnya. Ia mencoba meyakinkan dokter.

“Kali ini saja, dok!” 

25 December, 2015

Tangisan Bisu


Oleh : Ash Kahfi

Bisu.
Bisu.
Teriaklah.
Teriaklah.


Teriaklah.
Sekencang air mengalir deras.
Suara yang engkau pendam adalah jeritan kedamaian.
tangisan hanyalah palsu.

Teriaklah.
Kata tak lagi bermakna pada hakikatnya.
Telah terkubur oleh mesin kebodohan.
Hingga melupakan Esensinya.
Bahagia kini adalah kehampaan, sebab kerakusan sedang merajalela.

Teriak.
Teriak.

Kepada siapa ?
Malaikat ?
Rohani ?
Ilusi ?
Harapan ?

Meriak jika perlu berteriak.
Ungkap yang tak terungkap.
Matikan suara mesin mematikan.
Teriaklah. Teriaklah. Teriaklah.

Makassar 2015

24 December, 2015

Ikan Teri



Oleh : Esye Yusuf Lapimen

Bayi perempuan telah lahir di Bulan Oktober. Tepat, saat ayahnya mendengarkan lagu Undangan Palsu lantunan Caca Handika. Berharap cemas, dan menunggu kabar terbaik. Kabar itu, tidak juga datang, bahkan tidak akan pernah datang tanpa dicari.

Sementara Ibunya, menyudahi kesedihan akibat ulah suaminya sendiri. Kesedihan yang terjadi dua minggu lalu. Saat seorang perempuan datang meminta tanggung jawab sang suami. Tanpa memberikan hak jawab, dia meninggalkan rumah yang memang bukan miliknya. Berikrar, bahwa dirinya telah menjanda, ada ataupun tanpa putusan pengadilan tentang status cerai antara mereka berdua. Dia ingin hidup tanpa suami, dan tak perlu ada kabar apapun untuknya, termasuk kabar kelahiran anak perempuannya.

3 Oktober 1993. Bayi itu memberikan tangisan pertama, tepat ketika hujan pertama menyapa Oktober. Tangisannya adalah pertanda ketakutan atas dunia baru yang didatanginya. Ketakutan yang kemudian disambut dengan kebahagiaan. Seminggu kemudian, ibunya memberinya nama Tragedi Okramuliana. Tragedi untuk memberi isyarat adanya luka atas kelahiran bayinya. Oktramuliana sebagai pengingat bulan Oktober, selebihnya mencari kemuliaan di tengah kepedihan. Panggilannya, Ana.

Kini, dia telah berumur dua puluh tahun. Dunia bukan lagi tempat yang baru untuknya. Ketakutannya telah diubahnya menjadi keberanian. Jika rasa takut itu muncul, dia menyebut rasa itu dengan nama lain, pengecut. Ana, gadis yang enggan melihat ke belakang, baginya melihat masa lalu, sama halnya mengenang kisah-kisah yang suram. Dia tidak tahu ataukah lupa, bahwa ada pelajaran berharga yang bisa dipetik, meskipun kisah itu sesuram penglihatan nenek tua.

Ana lebih menyukai berbicara soal ikan teri. Meski ikan kecil, berbadan bulat, kepala pendek, moncong runcing, punya sirip di pantat dan warna tubuh selalu pucat itu, selalu menjadi santapan ikan yang lebih besar. Baginya, ikan-ikan itu adalah kawanan yang tidak pernah patah arang, tidak pernah menyerah dan terus mencari akal untuk bertahan hidup.

Soal ikan ini, Ana pun sering bercanda, “ikan teri itu bertubuh pucat, kalian tahu mengapa?” Lawan bicaranya akan terdiam, lalu dia akan melanjutkan, “bagaimana tidak? Kalian makan mulai dari kepala, daging hingga tulangnya. Tentunya saja ikan itu pucat, sebab ikan itu menganggap kalian ini rakus, memakan tubuhnya tanpa menyisakan sedikitpun, kecuali dalam bentuk kotoran,” setelah itu, dia akan tertawa terbahak-bahak.

Banyak hal yang dia tahu tentang ikan teri, mulai dari kandungan zat kalsium yang tinggi dan baik untuk menunjang pertumbuhan tulang dan gigi, hingga kegiatan ekspor ikan-ikan tersebut ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, China dan Jepang. Suatu hari dia pernah berseloroh kepada teman-temannya, “Ikan teri mempunyai daerah penyebaran yang luas di daerah Indo-Pasifik bahkan sampai ke daerah Tahiti dan Madagaskar. Sementara di Indonesia sendiri, ikan ini hampir terdapat di seluruh wilayah perairan Indonesia,” yang mendengar spontan menggelengkan kepala, lalu berkata dalam hati, “apa pentingnya membahas itu.”

Soal Ana, teman-temannya telah tahu, jika hendak mengajaknya berbicara serius, ajaklah dia berbicara soal ikan teri terlebih dahulu. Nikmati penggalan-penggalan ceritanya tantang ikan teri yang selalu bermimpi untuk hidup bebas. Selalu ingin menikmati lautan, berbahagia bersama kawannnya, ingin menikmati liburan di samudra. Sayangnya, kata Ana, ikan-ikan itu tidak pernah sampai ke sana. Jangankan ke samudra, memasuki wilayah laut pun sulit. Bila ikan-ikan itu berhasil memasuki wilayah lautan, nelayan akan menangkap semuanya dengan jaring, pukat cincin, bagan tancap dan perangkap lainnya. Toh, Jika ikan-ikan itu berhasil menghindar dari nelayan. Tubuh-tubuh kecilnya belum bisa bernafas lega, dalam sekejap mereka akan habis menjadi santapan ikan-ikan yang besar.

Nah, Jika, satu atau dua bahkan lebih diantara ikan-ikan itu berhasil kabur, sudah pasti tidak akan melanjutkan perjalanan ke laut. Dipilihnya, kembali ke muara, bukan untuk merenungi kekalahan. Melainkan menyusun kembali kekuatan, beranak pinak dan membentuk kembali keluarga yang besar. Suatu saat, ikan-ikan itu akan kembali mencoba menuju laut, mewujudkan impiannya. “Satu hal, sepertinya yang sering kukatakan ikan-ikan itu adalah bangsa ikan yang pantang menyerah,” katanya dengan tegas sembari mengakhiri cerita. Setelah itu, ajaklah dia bercerita sesuai kebutuhan, sebelum menceritakan lebih lanjut soal ikan teri.

Pernah suatu hari, seorang temannya bertanya, mengapa dirinya hanya terus-terusan bercerita soal ikan teri yang kecil sekecil tubuhnya. Ana menjawab, “Karena ikan teri itu sama sepertiku. Mempunyai kisah yang suram. Tetapi ikan itu tidak pernah melihat ke belakang, terus menatap jauh ke depan. Merencanakan strategi dan masa depannya, meski telah percaya bahwa kesedihan bahkan kematian adalah sebuah kepastian. Makanya, jalan satu-satunya adalah melewatinya.”

Setelahnya, Ana bertanya balik, “Tahukah kamu mengapa ikan teri sangat ingin menembus wilayah lautan?” Yang ditanya hanya menggelengkan kepala. lalu Ana menjawab sendiri pertanyaannya, ”sebab di sana ada kebebasan. Ikan teri, yakin harga kebebasan itu sangat mahal, bahkan dengan nyawa sekalipun. Sayangnya, ikan-ikan itu belum pernah sampai. Hidupnya hanya di perairan dekat pantai, dekat muara sungai. Di sana mereka hidup bergerombol, menyembunyikan ketakutannya. Ketakutannyalah yang membuat warna tubuhnya selalu pucat, persis sama sepertiku.”

Sambil menepuk pundak temannya, Ana berkata; Meski kesedihan bahkan kematian adalah kepastian. Hidup bukan berarti penyerahan atasnya. Bila masih ada cara, berjuanglah dan pertahankan harapanmu. Itulah yang ikan teri lakukan. Bertahan hidup dengan cara berpindah-pindah. Dari muara ke muara lainnya. Beristrahat sejenak di bibir pantai, menetukan arah jalan yang lurus, lalu berdoa agar tidak tersesat. Jika mereka telah membentuk keluarga besar lagi, maka ikan-ikan itu akan kembali mencoba menembus wilayah lautan. Di darat, saat-saat tertentu ikan-ikan itu tidak lagi ditemukan,. Mungkin mereka sedang beristrahat di bibir pantai. Para nelayan hingga penjual akan berkilah, “saatnya bukan musim ikan teri, tunggu musim bulan depan. Mudah-mudahan banyak yang ketangkap,” ataukah mereka akan berkata, “saat ini bulan bersinar penuh, ikan-ikan pada lari sembunyi.”

“Aku adalah Ikan-ikan itu, menunggu saat yang tepat. Tidak pernah melihat ke belakang dan mengenang kisah yang suram. Selalu menatap ke depan, menyusun strategi dan harapan untuk terus maju wujudkan impian. Menuju laut. Ya... menuju laut dan membalaskan dendam ibuku” batinnya. []

23 December, 2015

Sebelum Pesta Perkawinan

Oleh : Al-Fian Dippahatang 

Buat: Mariati Atkah

1.      Mappasau
Terluap air di mulut bambu yang menguning.
Terjaga dari lumut hijau menyaring air agar lebih bening.
Hening engkau basuh wajahmu yang dari tapak tanganmu
jatuh ke kolam air mandi, cemerlang wajahmu engkau amati.
Sambil menghirup aroma bedak hitam dari beras ketan
sehabis digoreng hingga hangus, menutupi wajahmu.

Engkau tampung senang dari bahan-bahannya.
Seperti, asam Jawa dan jeruk nipis sendiri
yang engkau tanam semasa kanak di belakang rumahmu.
Kini, engkau petik bukan tuk engkau pakai mencecap,
atau melezatkan makanan yang hendak engkau santap.
Jeruk nipis itu melengkapi pestamu.

Juga, busa sabun di tubuhmu hilang, berulang-ulang engkau simbahi.
Berkali-kali matahari bertengger menyinari kulitmu.
Engkau beranjak mengenakan sarung baru.
Lalu, menjalani sesuai petuah—menyuruhmu jalan lamat-lamat.
Tak dibiarkan lantai papan berbunyi.

2.      Wenni Mappaci
Para tetangga yang risau anak gadisnya belum dilamar,
berbondong-bondong pasang diri di dekatmu melawan samar lampu kamar.
Pandangnya lurus—terperangah melihat sosokmu yang terurus.

Daun pacar kini tergantung di ujung
kuku-kukumu yang telah diperhalus.
Entah, manis jemarimu kelak mahir memotong-motong
daging di dapur. Atau, jemarimu hanya peka
bilamana jantungmu kacau melihat orang-orang
yang bahagia tanpa membahagiakan dirinya.

3.      Kawissoro
Sah adalah resah. Mengurus seseorang darinya tertidur hingga terbangun.
Sebab, kebahagiaan letaknya tak hanya di bibir.
Ia akan hinggap dibawa oleh kata-kata yang beterbangan.
Bertebaran ke telinga yang sehabis terucap.
Meluap ke isi kepala yang merasakan hari-hari penuh pesta.


Makassar, 2015