Recent

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

02 March, 2017

SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU

Penulis : Seno Gumira Adji Darma



Alina tercinta,
 

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.

“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.


Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.



Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.


Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.


24 January, 2017

Kisah Sebuah Pulau



Oleh : Waliyulhamdi

Menurut cerita orang-orang di pulau ini, mahluk itu memiliki 2 bola mata yang besar dan tak berkelopak. Letak matanya pun tak seperti biasanya, agak diatas hampir di jidat. Tangannya dua namun jari-jari pada setiap tangan berjumlah delapan dan lentur seperti tentakel namun ujungnya seperti jari manusia pada umumnya, jari-jarinya tdk menggenggam tapi melilit. Telapak kakinya besar dan lebar-lebar. Dia juga punya ekor namun bentuknya menyerupai ekor ikan pari tapi ujungnya mirip ekor kuda. Satu lagi organ tubuh aneh yang katanya dimiliki mahluk itu, dia memiliki sepasang sayap seperti sayap naga.

Sepasang sayap inilah yang kadang membuatnya dianggap bisa terbang padahal dia hanya melompat, berlari dan meluncur cepat dengan bantuan jari-jarinya yang menyerupai tentakel dan lentur, saat sedang meluncur kedua sayapnya mengepak secara refleks senada dengan gerakan tubuhnya. Organ-organ tubuh yang lain tak jauh berbeda dengan organ tubuh manusia pada umumnya.

Orang-orang sudah jarang melihat kehadiran mahluk itu namun semua penduduk asli pulau ini tak memungkiri keberadaannya. Namun entah mengapa hanya pada anak-anak berusia di bawah 8 tahun mereka sering menampakkan diri dan anak-anak yang pernah melihat mahluk itu pasti akan menceritakan pada orang tua mereka sambil menunjukkan sebuah pisang pemberian mahluk itu. Mungkin ada juga anak-anak yang memang tak pernah melihatnya atau enggan menceritakan pada orang tua mereka pengalaman bertemu dengan mahluk itu. Anak-anak yang bercerita pada orang tuanya, pengalaman bertemu mahluk itu dan menunjukkan pisang pemberiannya bahwa akan ditanggapi dengan senyuman dan orang tuanya akan menganjurkan si anak untuk memakan pisang itu karena itu adalah hadiah spesial untuknya.

Pisang pemberian mahluk itu adalah pisang terbaik yang pernah ada namun selain mahluk itu tak ada yang tahu dimana pohon pisang seperti itu tumbuh. Di pulau ini memang banyak pisang namun banyak pisang yang dari baunya, bentuk dan warnanya mirip. Setelah melalui penelitian ternyata sangat jauh berbeda, dari baunya ada perbedaan ketajamannya, dari ukurannya biasa kalau tdk lebih besar pasti lebih kecil sekian mili, dari warna ada perbedaan intensitas warnanya. Pada saat dimakan, bagi orang dewasa tak akan terasa perbedaannya namun menurut pengakuan beberapa anak, pisang itu terasa betul perbedaannya di lidah mereka.

Banyak orang di luar pulau ini yang punya anak kecil setelah mendengar cerita orang atau membaca dalam catatan perjalanan tentang mahluk itu dan pisangnya sengaja menetap di pulau ini sampai anaknya berusia 8 tahun ke atas, mereka pada umumnya percaya cerita tentang mahluk itu beserta pisangnya dan berharap anaknya akan bertemu dengan mahluk itu lalu diberi hadiah pisang yang mereka percaya bisa menambah kecerdasan anaknya. Pada awalnya warga pulau ini membuka rumah-rumah mereka untuk para pendatang, setiap pendatang pasti akan meninggalkan pulau ini dengan cerita indah. 


Salah satunya adalah cerita berbagai olahan pisang menjadi berbagai makanan, dari kue-kue sampai makanan pokok yang semuanya sangat memanjakan lidah. Namun semakin banyaknya pendatang maka warga pun mulai kewalahan di tambah lagi mulai populernya istilah "agro wisata" dan "wisata kuliner" maka mulailah didirikan penginapan-penginapan di tengah-tengah perkebunan pisang dan di penginapan itu pun disiapkan restourant bergaya khas rumah perkebunan yang menyajikan berbagai makanan dari hasil olahan pisang yang tentu saja sudah diberi sedikit variasi dengan sentuhan tangan para chef yang memang ahli mengolah pisang.

Semua penginapan dan restourant adalah milik para pebisnis dari luar, warga pulau yang tanahnya dipakai hanya diberi tanggung jawab sebagai pengelolah. Untuk tetap melestarikan cerita tentang mahluk pemberi pisang pada anak-anak, di pintu masuk pelabuhan dibangun patung mahluk itu lengkap dengan pisang yang dililitnya dan dalam posisi seperti menyodorkannya pada setiap orang yang melihatnya. Patung mahluk itu juga bisa ditemui di hampir setiap penginapan dan restourant dengan sedikit modifikasi untuk penyesuaian dengan corak masing-masing penginapan atau restourant.

Namun itu cerita lalu.

Pulau ini kini jadi seperti pulau mati karena pernah sangat ramai dan dinamis lalu tiba-tiba menjadi sunyi. Sebahagian besar perkebunan pisang dibiarkan terbengkalai, begitupun penginapan-penginapan dan restourant-restourant ditinggalkan begitu saja oleh para pemilik dan pengelolahnya. Penghuni pulau ini pun tinggallah penduduk asli yang sebahagian besar sudah tua, hanya beberapa anak muda yg tersisa. Banyak anak muda pulau ini yang ikut pergi bersama gelombang kepulangan para pendatang. Meski mereka yang tersisa sudah berumur rata-rata hampir 1 abad, mereka masih bisa mengurus perkebunan walau tak bisa lagi seluas perkebunan yang mereka urus saat masih muda. 


Berhentinya orang-orang berdatangan ke pulau ini disebabkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh sekelompok pelajar dari universitas yang menemukan fakta bahwa peningkatan perkembangan otak dan kecerdasan anak-anak yang pernah menetap beberapa tahun di pulau ini adalah mereka mengkonsumsi pisang.

Pisang diketahui memang banyak mengandung unsur-unsur yang bisa membantu perkembangan otak anak. Hasil penelitian inilah yang kemudian menjadi alasan para pebisnis penginapan dan restorant memilih angkat kaki dari pulau ini, padahal mereka telah menjadi daya tarik utama untuk datang ke pulau ini. Para pebisnis lebih tertarik mengembangkan bisnis restaurant pisang mereka di tempat yang lebih dekat dengan konsumen jadi konsumen dimanja dengan tidak perlu lagi menyebrangi lautan hanya untuk menikmati kuliner pisang yg sangat berguna bagi perkembangan otak.

Ditambah lagi saat ini dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika sedang dilakukan berbagai percobaan untuk menciptakan jenis pisang seperti pisang terbaik pemberian mahluk pemberi pisang di pulau ini. Jika percobaan menciptakan jenis pisang terbaik berhasil maka di mata mereka sempurnalah akhir kisah unik dari pulau ini.

Lalu bagaimana dengan mahluk aneh dan unik yang katanya di setiap penampakannya di hadaan anak-anak selalu memberi pisang ? mahluk itu masih akan tetap hadir di pulau ini selama masih ada pohon pisang yang berbuah dan masih ada manusia yang suka makan pisang.

Dan menurut cerita orang-orang tua di pulau ini, mereka yang pernah memakan pisang pemberian mahluk itu meski dia pergi ke ujung dunia pasti akan kembali ke pulau ini bersama anak-anak mereka.

Percayalah itu !



Sumber gambar : http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/...

17 January, 2016

Kecapi Terakhir

 
Oleh : Esye Yusuf Lapimen
 
Sebelum listrik berada di desaku. Lampu dan segala peralatan elektronik lainnya belum bisa dinyalakan. Saat gelap malam tiba sempurna, para penduduk malas beranjak ke luar rumah. Mereka berdiam diri, melepas lelah setelah bekerja seharian. Tidak ada hiburan bagi mereka seperti sekarang.
Kaum perempuan memilih berbaring di ruang tengah bersama ibunya, menyalakan pelita lalu memandangi cahayanya. Sedangkan para lelaki, memilih duduk di teras rumah, menantang malam bersama ayahnya, melinting tembakau lalu menyalakan korek api. Di antaranya, sesekali saling melirik cahaya-cahaya kecil pada ujung rokok yang semakin memerah saat mereka isap.
Suatu waktu, tersiar kabar akan diadakan pesta pernikahan salah satu anak penduduk di desaku. Hajatannya akan berlangsung di malam hari. Konon, waktu itu, merupakan kali pertama, hajatan dilangsungkan pada malam hari. Jika demikian, hajatan itu terancam sepi. Sebab, para penduduk enggan beranjak ke luar rumah saat gelap malam tiba sempurna. Pemilik hajatan itu bernama, Daeng Tiro. 
Rupanya, Daeng Tiro bukan tanpa perhitungan. Sebagaimana namanya, yang mempunyai arti, mampu melihat. Daeng Tiro melihat dengan jelas segala pergerakan bulan dan matahari. Penanggalannya terbilang tepat. Saat hajatan berlangsung, bulan bersinar sempurna mengalahkan gelap malam yang tiba sempurna. Selain itu, pemilik hajatan juga telah mempersiapkan musik hiburan. Pakkacaping.
Berdatanganlah penduduk dari berbagai arah mata angin. Mereka datang dengan menggunakan pakaian putih-putih. Mungkin saja, mereka takut tidak terlihat di dalam gelap.
Saat pesta berlangsung, bunyi nyaring petikan kecapi membuai hadirin. Suara pelantun syair membawakan kerinduan dan mengobati sepi. Orang-orang tua, duduk paling depan. Meresapi petikan-petikan dawai tentang kisah-kisah sedih para pelaut. Kakek buyutnya. Sedangkan, para pemuda-pemudi duduk di kursi belakang, bahkan ada yang berdiri. Takjub akan nasihat-nasihat dan cerita kepahlawanan leluhur yang dikemas dengan jenaka melalui pelantun syair. Meski tidak mengenal, siapa dan bagaimana asal usul mereka yang disebutkan si pelantun.  
###
Listrik telah berada di desaku. Lampu dan segala peralatan elektronik lainnya, sudah bisa dinyalakan. Saat gelap malam tiba sempurna, para penduduk tidak lagi malas beranjak ke luar rumah. Mereka leluasa mengunjungi kerabat tanpa batas waktu. Selama lampu masih menyala di rumah, silahkan bertamu.
Setiap penduduk, merasa segalanya menjadi mudah. Jika mereka butuh hiburan, mereka menyalakan televisi. Jika mereka haus, mereka mengambil air es dari mesin pendingin. Jika mereka lapar, mereka menanak nasi melalui Rice Cooker. Jika pakaiannya kotor, mereka tidak lagi ke pinggir sungai, cukup dengan menyalakan mesin cuci. Dan, menyedot air sungai dengan pompa air, menyolok kabel mesin pada listrik. Air datang dengan sendirinya.
Suatu waktu, akan diadakan pesta pernikahan oleh salah satu anak penduduk desa. Hajatannya akan berlangsung di malam hari. Konon, hal tersebut sudah sangat sering terjadi, semenjak listrik telah berada di desaku. Apalagi yang ditakutkan untuk berkegiatan di malam hari? Takut gelap? Bola lampu akan memberikan cahaya sesuai keinginan.
Saat itu, hajatan dipersiapkan sangat meriah. Pemilik hajatan menyewa group musik penghibur, Electon lengkap dengan biduannya. Katanya, biduan itu adalah perempuan yang cantik dan seksi, dia akan bernyanyi sambil menari jingkrak-jingkak di atas panggung. Olehnya, seluruh lelaki di desaku bahu membahu membuat panggung yang  kuat, agar tidak roboh saat biduan beraksi.
Saat hajatan dimulai, mereka beramai-ramai ingin menyaksikan pertunjukan musik tersebut untuk pertama kalinya. Tua dan muda tumpah ruah di jalanan, sebab tempat duduk yang disediakan tidak lagi cukup. Bahkan, halaman rumah pemilik hajatan penuh sesak penduduk dari segala penjuru. Bukan hanya dari penduduk desa setempat, tetapi juga dari penduduk desa lainnya. 
Setelah hajatan selesai. Laki-laki desa mulai ramai membicarakan bentuk tubuh para biduan dengan sembunyi-sembunyi, rupanya mereka takut dengan perempuan-perempuannya.  Imnyung, suami beranak lima, bahkan menyebut, jika tubuh biduan malam itu, telah memantulkan cahaya rembulan ke matanya. Sinarannya begitu silau tetapi menyejukkan mata. Sementara Jarre, laki-laki ompong yang mengaku telah merasakan semangat cintanya mulai bertunas lagi. Saat melihat biduan, dia merasa telah sembuh dari pikunnya, tetapi telah melupakan istrinya. 
Elekton pertama malam itu, menjadi inspirasi bagi seluruh penduduk, sebagai tips dan kiat-kiat untuk meramaikan hajatan yang akan berlangsung. Tidak heran, setiap mereka yang hendak menggelar hajatan, rela menguras uang demi menyewa elekton. Bahkan, meminjam jika uang miliknya belum cukup. Acara syukuran, hakikah, khitanan, pernikahan, bahkan kematian, semuanya dihibur dengan elekton.  
Semakin sering elekton yang tampil di desaku. Semakin banyak pula, perbincangan tentang biduan. Sampai juga perbincangan itu ke telinga para perempuan-perempuannya. Mereka mulai cemburu dengan para biduan-biduan yang dibicarakan suami-suaminya. Akhirnya, dilarangnya suami-suami mereka untuk menonton elekton lagi. Tentu saja, itu tidak mudah.
Jamilah, Istri Museng, adalah perempuan yang paling uring-uringan jika suaminya hendak keluar rumah saat pertunjukan elekton sementara berlangsung, entah itu di desanya sendiri ataukah di desa tetangga.
Jika suaminya mencoba menuruni tangga rumah, dia akan berteriak sejadi-jadinya. Perempuan tetangga akan keluar dari rumah mereka masing-masing, menyaksikan apa yang sementara terjadi. Lalu paham dan ikut berjaga-jaga di teras, mengawasi jangan sampai suaminya kabur.
Meski para suami-suami diawasi, elekton tetap saja ramai penonton. Ada-ada saja alasan para suami-suami untuk lepas dari pengawasan istri-istri mereka. Ada yang beralasan ingin melakukan ronda malam, ada yang beralasan ingin menjaga kebun dari babi, ada yang beralasan ingin mengecek mesin perahu, bahkan ada yang beralasan ingin menjenguk teman yang sakit. Tetapi buntutnya, mereka menonton para biduan.
Langkasa contohya, lelaki ini dilempar sandal jepit oleh istrinya saat berada di tengah kerumunan penduduk. Tepat di depan panggung elekton, lelaki tanpa gigi depan itu, terlihat cengingisan saat mencoba tersenyum, spontan kaget saat sandal jepit mendarat di mukanya. Dicarinya, siapa pelaku yang telah berani mempermalukannya di depan umum. Saat melihat istrinya bertolak pinggang dari kejauhan, dipilihnya untuk lari terbirit-birit meninggalkan pertunjukkan.
“Dasar lelaki jahannam, katanya ingin menjaga kebun ternyata menjaga biduan,” teriak istrinya yang memburu dari belakang.
Ternyata, bukan hanya istri Langkasa yang mengalami nasib dibohongi suami karena biduan. Istri Jamarro, Ida, juga pernah mengalami hal yang sama. Saat itu, suami minta izin untuk mencari sapinya yang hilang di puncak bukit. Sementara itu, Ida bersama perempuan-perempuan desa menghadiri undangan pernikahan yang ditujukan kepada rumah tangganya. Naas, dilihatnya suaminya celingak-celinguk di pingir jalan, berusaha melihat biduan yang semakin beringas di atas panggung. Dihampirinya lelaki itu, menjewer telinganya, sambil berkata, “Sapimu kesasar di gunung biduan itu? Huh?”
Semakin resahlah para perempuan dengan biduan. Akhirnya, mereka mengadukan hal tesebut kepada kepala desa. Meminta agar pemilik hajatan yang mengundang biduan, tidak mengundang biduan yang berpakaian tidak jadi. Sebab, itu akan merusak iman suami-suami mereka. Kepala desa mengiyakan dan menulis surat kepada pemilik elekton. Ditulisnya bahwa siapapun elekton yang hendak bermain di desaku, harus membawa biduan yang sopan. Bingunglah pemilik elekton, mereka mengirim surat balasan.
Dalam surat balasan, ditulisnya, jika selama ini, pihaknya telah sopan saat mengunjungi tiap-tiap desa. Di akhir suratnya, pemilik elekton menuliskan bahwa pihaknya telah tersinggung. Mereka merasa bahwa kepala desa telah melecehkan profesi penyanyinya dengan tuduhan tidak sopan.
Kepala desa pun mengirimkan surat balasan, dikatakannya, bukan maksud untuk menyebut pihak elekton tidak sopan. Melainkan meminta untuk memakai pakaian yang sopan. Surat terakhir kepala desa pun dimengerti. Saat mengunjungi kampung itu lagi. Biduan memakai pakaian yang menurutnya sopan. Kaos oblong ketat dan celana jeans. Lelaki desa semakin kepanasan melihatnya. Perempuan desa semakin kesetanan terhadap suaminya.
Begitulah seterusnya, pesta-pesta semakin meriah saat elekton dihadirkan sebagai penghibur. Mereka telah melupakan desaku yang dahulu. Jauh sebelumnya, sebelum listrik berada di desaku, semua hajatan dilangsungkan di siang hari, kecuali satu hajatan dengan hiburan Pakkacaping di bawah sinar bulan yang sempurna. Mereka tidak lagi butuh musik itu. Mereka butuh hiburan yang lebih meriah, dan listrik telah menjawabnya.
Saat-saat seperti itu, tersiar kabar. Akan dilaksanakan pernikahan cucu Daeng Tiro, Serli. Pernikahan tersebut akan dilaksanakan pada malam hari, saat bulan bersinar sempurna mengalahkan malam dengan gelap sempurna. Tidak akan ada elekton dalam hajatan tersebut, orang tuanya akan mengundang pakkacaping. Hajatan terancam sepi.
Serli tidak menerima, dia merengek kepada bapaknya agar pestanya menampilkan elekton pula. Tetapi, bukan anak Daeng Tiro jika menerima begitu saja. Sebab, jauh sebelum pesta perkawinan anaknya terancam sepi. Hal serupa pernah dialaminya. Saat itu, ayahnya, bersikukuh untuk melangsungkan hajatan di malam hari. Percaya bahwa waktu tersebut baik, serta percaya akan penglihatannya tentang waktu yang tepat dan tidak takut akan pesta yang sepi.
“Tetapi ini beda bapak,” Serli merengek. “Waktu itu belum ada listrik, jadi pestanya terancam sepi. Untung ada sinar bulan, jadi mereka tidak takut untuk melangkah ke luar rumah. Tetapi sekarang, listrik sudah ada, semua peralatan bisa dinikmati. Penduduk mau datang, jika ada hiburan. Jika pakkacaping, seperti yang bapak inginkan. Hajatan ini akan betul-betul sepi,” jelasnya.
Bapaknya tetap tidak peduli. Dia telah berketetapan hati. “Biarlah terlihat sepi, asal bukan jiwa ini yang sepi,” kata bapaknya, sekaligus sebagai kesimpulan pembicaraan mereka berdua.
Serli menerima keputusan bapaknya, meski tetap yakin bahwa pestanya akan sepi. Dan, saat hari itu tiba. Semenjak pagi, tidak seorang pun penduduk desa yang mendatangi rumahnya, menawarkan jasa pembuatan panggung hiburan. Hanya keluarga terdekat saja yang lalu lalang, bolak-balik, masuk-keluar rumah, mempersiapkan segalanya. Perlahan, matahari bergerak menuju laut, sebentar lagi malam akan tiba. Saat gelapnya sempurna, hajatan akan segera dimulai.
###
Penduduk desa berhamburan ke luar rumah. Semuanya mendongak ke langit, ada yang aneh malam itu. Sementara lengkingan suara kecapi membelai-belai gendang telinga, mereka tidak peduli. Mereka terus mendongak ke langit. Dilihatnya, langit seperti sedang terjadi pertempuran. Cahaya-cahaya berkilau, saling sambar menyambar. Cahaya itu menyerupai bintang yang semakin mendekat ke bumi, tetapi saling memotong jalan, serta saling berbalas. Jika, dua cahaya yang mirip bintang itu bertemu, terjadi percikan yang mirip kembang api. Penduduk terkaget-kaget, baru pertama kali mereka melihat hal seperti itu. Api bergerombol-gerombol, lalu berpencar-pencar dan berhamburan di langit.
“Sebentar lagi kiamat, bintang sudah berjatuhan menuju bumi,” teriak seorang penduduk sambil berlari, beberapa penduduk mengikut di belakangnya. “Ayo ke bukit, di sana ada gua. Minimal selamat dari sengatan panasnya cahaya bintang,” seru penduduk lainnya.
Penduduk yang mendengarnya, ikut berlari. Mereka ingin cepat mencapai bukit, masuk ke dalam gua dengan segera. Mereka ingin menyaksikan desa hangus karena panasnya cahaya ribuan bintang dari atas bukit.
Keluarga Daeng Tiro tetap saja melangsungkan hajatan. Alunan kecapi semakin membuai mereka, syair-syair nasihat membuat pendengarnya tidak bergeming. Suaranya menembus telinga dan menenangkan hati. Tanpa mereka sadari, di luar halaman rumah, telah datang orang-orang berpakaian putih-putih. Mereka ikut menimati alunan musik dan syair. Waktu terus bergerak, jumlah mereka terus bertambah.
Berlahan mereka memasuki halaman rumah pemilik hajatan. Dia memilih duduk di kursi paling depan. Semua pihak keluarga heran, dan tidak ada mengenal seorang pun tamu yang datang. Dalam benaknya, ini adalah rombongan pecinta kecapi yang datang untuk menikmati petikan tiap petikan, bait tiap bait, syair tiap syair. Tetapi semakin lama, semakin bertambah banyak. Kursi paling depan telah terisi semuanya, mereka mengisi kursi di deretan kedua. Begitu seterusnya, hingga kursi semua terisi. Diduduki tamu aneh, semua berbaju putih.
Di halaman, masih banyak lagi orang berbaju putih. Mereka berdiri menyesaki halaman. Semakin heranlah bapak Serli selaku pemilik hajatan. Mengapa tamunya semakin ramai dan semuanya berbaju putih? Dia mencoba keluar halaman untuk melihat dari mana asal kedatangan tamu berbaju putih itu. Dipandanginya arah kiri dan kanan jalan. Dia sangat kesulitan untuk melihat dari mana asal tamu-tamunya. Semua sisi jalan dipenuhi orang berbaju putih. Bertambah dan bertambah, semakin bertambah pula keherangannya.
Tiba-tiba, dilihatnya cahaya jatuh dari ujung kerumunan tamunya. Dia mendongak ke atas, ke langit. Cahaya putih menyerang hajatannya. Dia kaget, dia berlari ketakutan, melewati kerumunan para tamu berpakaian putih, masuk ke rumah. Dia berteriak ketakutan. “Ta...ta...tamunya, tamunya, se...se...semuanya berpakaian putih, semuanya dari langit,” katanya dengan terbata-bata.
Seluruh keluarga pemilik hajatan panik dan berlari ke luar rumah, menuju tepi jalan. Mendongak ke atas, ke langit. Lengkingan suara kecapi membelai-belai gendang telinga, mereka tidak peduli. Mereka terus mendongak ke langit. Dilihatnya, langit seperti sedang terjadi pertempuran. Cahaya-cahaya berkilau, saling sambar menyambar. Cahaya itu menyerupai bintang yang semakin mendekat ke bumi, tetapi saling memotong jalan, serta saling berbalas. Jika, dua cahaya yang mirip bintang itu bertemu, terjadi percikan yang mirip kembang api. Meraka terkaget-kaget. “Apa yang sedang terjadi?” mereka saling bertanya. Namun, tidak ada yang menjawab.
###
Penduduk yang berlari telah sampai ke puncak bukit. Sebelum memasuki gua, mereka menengok ke arah desa. Cahaya-cahaya putih itu terlihat mengepung sebuah lokasi dan membentuk lingkaran. “Lihat, tempat itu, tempat itu, itu rumah Daeng Tiro, cahaya putih mengepungnya,” teriak seorang penduduk. Seluruh pasang mata pun tertuju ke lokasi yang dimaksud. Mereka merinding dan saling bertanya, “Apa yang sedang terjadi?” Namun, tidak ada yang menjawab.
“Leluhur kembali,” seorang mengeluarkan suara dan mengundang tanya baru bagi penduduk desaku. Suara itu dari lelaki tua yang sudah lama ditinggal mati istrinya. Konon, kakek itu adalah bekas tentara pembela tanah air. Namun, dia hanya berjuang di desanya. 
“Siapa?” penduduk hampir bersamaan.
“Iya, siapa?” tanya seorang lagi yang ingin memperjelas.
“Cahaya putih itu. Adalah leluhur yang telah mati. Dia datang lagi, dia dipanggil oleh suara kecapi,” katanya. Penduduk semakin heran. Ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. “Mereka adalah pelaut-pelaut ulung, prajurit-prajurit laut yang ikut berperang dengan gagah berani. Mereka telah menghabiskan hidupnya di tengah laut,” jelasnya. 
Penduduk semakin bingung, kakek itu melanjutkan ceritanya, “mereka telah banyak bersedih, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan rumah, meninggalkan istri, meninggalkan anak, semuanya. Dia mengobati kesedihannya dengan caranya sendiri. Waktu itu, mereka mengikatkan tali-tali layar yang tersisa pada tiap ujung-ujung perahunya, lalu memetiknya, menghasilkan bunyi dan melantunkan syair-syair tentang gelombang, laut, bintang, dan angin. Kadang mereka saling mengingatkan, saling menasihati. Nasihatnya pun mereka nyanyikan masing-masing. Mereka terhibur sedikit demi sedikit, tetapi jiwa dan raganya masih merindukan kampung halaman, rumah, istri dan anak-anaknya,” jelas kakek itu.
“Mengapa mereka tidak pulang? Di mana kampungnya?” seorang anak-anak tiba bertanya.
“Asalnya bermacam-macam, ada juga dari desa ini. Mereka telah dipersatukan oleh kuatnya gelombang Selat Mengkasar. Mereka sangat ingin pulang. Mereka rindu semuanya. Tetapi bagi mereka, sekali layar terkembang. Pantang untuk memutar kemudi, dan balik ke pantai. Sebesar apapun ombak menerjang, sekeras apapun badai melanda. Baginya, tujuan adalah yang utama. Mereka telah merasakan bahwa kematian telah begitu dekat, tetapi mereka tidak mau menyerah. Mereka adalah orang-orang pilihan. Sayangnya, sebelum mereka bertemu dengan yang dirindukannya, kematian telah merindukannya terlebih dahulu,” kakek berhenti sejenak, nafasnya tersenggal-senggal. Dia kemudian melanjutkan ceritanya, “ada... Ada yang selamat waktu,” suara bergetar. “Dia kembali dan membuat kecapi. Dengan kecapi, dia bernyanyi. Bernyanyi sambil bercerita tentang semangatnya di tengah laut, sekaligus memperdengarkan kesedihannya.”
“Lalu, mengapa mereka kembali saat ini?” tanya seorang lagi.
“Kecapi adalah pengobat rindunya. Dan, mereka ingin berobat,” jawabnya.
“Aku ingin melihat wajahnya,” tiba-tiba seorang anak lelaki tujuh tahunan berteriak sambil berlari menuruni bukit. Sangat cepat, secepat rasa penasarannya. Melihatnya, bapaknya berusaha memburu anak itu dari belakang, ingin menangkapnya dan membawanya kembali ke bukit. Bapaknya tentu takut bila anaknya mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Karena kaget, ibunya menyusul mereka berdua. “Jangan. Jangan ke sana,’ teriaknya.
Anak itu terus berlari dengan kencang, bapaknya yang sudah tua, sangat kewalahan memburunya. Nafasnya tersenggal-senggal. Melihat adegan buru memburu itu, seorang penduduk berniat membantu. Namun, istrinya tidak menerima begitu saja jika suaminya berlalu pergi. Dia ikut memburu suami. Entah bagaimana lagi, kejadian tersebut menjadi adegan saling buru memburu. Semua penduduk desa terlibat, kecuali kakek tua itu.
“Di mana mereka pak?” tanyanya anak itu, saat sampai di rumah pemilik hajatan.
Bapaknya yang baru saja tiba, mengela nafas panjang. Ngos-ngosan. “Dia telah kembali, nak. Pestanya telah selesai,” jawabnya.
###
Penduduk yang saling memburu, mulai berdatangan satu persatu dengan nafas tersenggal-senggal.
Di luar rumah, terlihat bapak Serli membersihkan segala peralatan. Dia menoleh kepada suara-suara nafas yang tidak beraturan, tepat di balakangnya. “Maaf kecapinya telah selesai. Aku sangat berterima kasih, kalian mau meramaikan pesta anak kami. Silahkan masuk,” kata Bapak Serli.
Penduduk terheran-heran. Dicarinya cahaya yang mengepung hajatan tersebut, namun tidak menemukan apa-apa. Mereka saling bertanya, tetapi tidak ada yang menjawab.
Satu persatu, penduduk kembali ke rumah masing-masing. Malam itu, bulan bersinar sempurna mengalahkan malam dengan gelap sempurna.
“Cahaya putih tadi sudah jadi satu, pak. Mereka menjadi bulan penuh. Itu, terang sekali,” anak yang berlari sedari tadi, mengambil kesimpulan sendiri.     
###
Pemancar sinyal telah berdiri di desaku. Segalanya semakin mudah. Sisa memencet tombol-tombol angka saja, semua akan terhubung. Entah saat terang matahari bersinar sempurna ataukah gelap malam yang tiba sempurna. Dengan alat itu, para penduduk mengisi dayanya dengan listrik. Telepon genggam. Dengannya, penduduk desaku bukan hanya leluasa mengunjungi kerabat tanpa batas waktu. Melainkan leluasa menghubungi kerabat tanpa batas jarak. Hampir seluruh penduduk telah memilikinya. Termasuk aku.
Sore itu, seorang teman meneleponku berbicara panjang lebar dan bertanya beberapa hal. Salahsatunya dia menanyakan, kapan aku menikah dan mau menyewa apa sebagai hiburan pernikahan kelak. Teman itu bernama, Panji. 
Aku menjawab tidak tahu. Sebab, setahuku elekton, telah dilarang oleh kepala desaku. Sementara Pakkacaping. Entahlah, katanya, leluhur telah mengambil kecapi terakhir pada sebuah pesta yang sementara berlangsung di desaku.
“Kapan? Aku baru dengar?” Panji penasaran soal kecapi itu.
“Aku tidak tahu persis. Ceritanya begini. Konon, dulu sebelum orang tuaku dan orang tuamu lahir. Leluhur yang telah membuat kecapi, memanggil ribuan leluhur penikmat kecapi turun ke bumi. Mereka semuanya berbaju putih-putih, bergerak menyerupai cahaya menyerang bumi. Merampas kecapi pada sebuah hajatan yang sepi tanpa penduduk,” jelasku.
“Dirampas? Alasannya?” Panji terus bertanya.
“Katanya, mereka kecewa karena penduduk tidak menghadiri hajatan tersebut, karena hiburannya hanya pakkacaping. Padahal leluhur tahu, penduduk akan beramai-ramai menghadiri hajatan, jika menyediakan elekton sebagai hiburan. Sejak itulah kecapi hilang selamanya. Kau pernah melihat kecapi?”
“Belum. Bagaimana rupanya?” tanyanya lagi.
“Aku juga belum melihatnya. Kecapi sepertinya hilang ditelan bumi, leluhur belum mengembalikannya kepada manusia yang masih hidup. Tetapi, katanya mirip perahu. Berbunyi bila dipetik, dan pemetiknya, bernyanyi sambil bercakap-cakap,” kataku. “Berapa umurmu sekarang, Panji?” aku balik bertanya.
“Dua puluh tahun,” jawabnya.
“Kenapa belum menikah?” kataku.
“Masih bingung juga, sewa elekton atau pakkacaping?”
 “Panggillah pembaca barzanji!” jawabku sebelum sambungan telepon terputus.