Recent

Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

01 March, 2017

Toilet Karya Sujiwo Tejo

Penulis : Sujiwo Tejo




Tidak Pancasilais itu membuat toilet, tapi tak dilengkapi semprotan.

Baik di toilet gedung DPR maupun di toilet-toilet masyarakat alias toilet non-DPR, keberadaan alat penyemprot mutlak diperlukan.

Semprotan tidak melulu penting untuk menghalau demo mahasiswa dan kaum buruh.

Lagi pula apa dosanya bersih-bersih pakai semprotan air? Toh ujung-ujungnya air balik lagi ke tanah. Air beda dibanding pajak. Dari rakyat, pajak belum tentu balik ke rakyat. Air sudah jelas, dari tanah kembali ke tanah. Entah nurun siapa, tapi sudah begitulah sifat air.

Lagian bersih-bersih pakai kertas itu menghabiskan hutan. Mending kertas dipakai buat koran walau jerih payah Wartawan pada akhirnya cuma untuk bacaan di atas kloset.

Masih lebih sopan menjadikan tisu toilet sebagai tisu makan di warung-Warung Tegal. Kita menghargai bidang kerja menteri kehutanan sebagai pembersih mulut, bukan pembersih anu.

Lalu ini: Mengharuskan duduk di setiap kloset juga tidak Pancasilais. Seluruh Warga negara, lebih-lebih anggota DPR, harus boleh jongkok. Satu-satunya yang tidak boleh jongkok di negeri ini cuma IQ.

Jangan sampai di negara merdeka jumlah semprotan makin sedikit dibanding jumlah sempritan di berbagai bidang termasuk bidang perwasitan di bidang sepak bola.

Sedikit-sedikit disemprit. Sedikit-sedikit menyemprit. Padahal nama yang hampir sama saja, yaitu burung emprit, sudah semakin jarang. Bukankah itu suatu pertanda bahwa di era keterbukaan ini sebaiknya sempritan agak dikurang-kurangilah.

Masa’ enak-enak di jalan, tahu-tahu disemprit karena ada yang mau lewat. Sama-sama nggak enak di jalan, karena sama-sama macet, eh tahu-tahu disemprit juga suruh menyisih karena ada yang mau menerobos kemacetan.

Masih lebih bagus penyiar televisi, kalau ada yang mau lewat, yaitu iklan. Kita justru tidak boleh pergi. Kita justru harus diem di tempat. “Jangan ke mana-mana,” begitu biasanya diucapkan oleh wajah-Wajah manis di layar kaca.

Kapan ya para pengawal petinggi negara itu bertindak lebih ramah atau setidaknya sama ramahnya dengan para penyiar televisi?

Saking ramahnya para penyiar manis-manis itu sampai-sampai para suami mereka betah berhangat-hangat di kamar. Konon karena mereka selalu merajuk ke para suami, “Jangan ke mana-mana…Jangan ke mana-mana…”

Aih, betapa sumringahnya hidup semacam itu. Tak boleh pergi ke lain tempat karena dicintai, bukan karena tak dipercaya.

Lain halnya hubungan rakyat dengan wakilnya di DPR. Tak ada saling percaya lagi. Sudah jelas-jelas dinyatakan bahwa Rp 2 miliar lebih biaya renovasi toilet itu bukan untuk satu toilet, namun untuk 220-an toilet di Senayan, tetap saja kami-kami ini tak mau dengar.

Menurut saya kok dalam kasus toilet DPR ini semua pihak salah. Bawahan, yaitu wakil rakyat, salah. Ketuanya, yaitu rakyat, juga bersalah.

Tidak semua hal bisa diwakilkan, kan? Tapi, wakil rakyat merasa bahwa segala hajat orang banyak termasuk perkara buang hajat besar dapat mereka wakili. Maka ketika masuk ke toilet, para anggota DPR merasa sedang sungguh-sungguh mewakili rakyat dalam ikhwal membuang tinja rakyat. Anggota DPR menganggap rakyat tak akan ambil pusing dengan segala biaya toilet yang menyangkut kepentingan rakyat sendiri.

Padahal jelas-jelas urusan “plung” adalah urusan pribadi para anggota parlemen. Rakyat sama sekali tidak ikut bagian enaknya, yaitu lobi-lobi anggaran di Hotel Mulia, Sultan, dan lain-lain, sambil makan-makan.

Tapi, rakyat juga keliru. Sudah jelas-jelas mereka tahu bahwa urusan buang air kecil maupun air besar adalah urusan yang tak bisa diwakil-wakilkan. Sebesar apa pun biaya pemugaran toilet itu tak masalah. Toh rakyat sendiri yang pakai. Mereka bisaramai-ramai datang sendiri ke toilet-toilet Gedung DPR Senayan untuk mengeluarkan sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Saya sih mau-mau saja ikutan, asal toiletnya pakai semprotan.

Sujiwo Tejo
Buku: Republik #Jancukers
Penerbit: Kompas

Rokok

Penulis : Sujiwo Tejo

Orang antirokok itu macam-macam. Ada yang antinya anti sama sekali. Orang seperti ini mirip mereka yang anti sama sekali berita politik. Koran atau televisi politik bukan saja ditutupnya, tapi ia matikan semua itu sambil marah-marah.

Ada yang antirokoknya setengah-setengah. Mereka tak mengisap, tapi tak keberatan orang-orang lain klepas-klepus berkemelut di sekitarnya. Bolehlah orang seperti ini diibaratkan mereka yang maniak infotainmen dan sinetron di televisi, tapi tak sampai muntah-muntah kalau pas makan restorannya nyetel teve politik.

Mungkin ia pikir, ah pasti para pelayan sedang di puncak sibuk sampai lupa memindahkan tevenya dari saluran politik. Itulah keadaan belalang di lain ladang.

Lain pula di negeri #Jancukers. Di negeri ini semua tempat adalah smoking area sebab asap rokok bisa ngeles dari hidung bukan perokok.

Itulah prestasi kerja sama para ahli kimia, ahli politik, dan ahli psikologi. Bermula dari obrolan mereka bertiga di sebuah kafe. Si ahli politik bilang, kalau pejabat saja sekarang banyak yang ngeles dari tanggung jawabnya, kenapa tak dapat digagas asap rokok dengan kepiawaian ngeles juga.

Alasannya, baik rokok dan pejabat dua-duanya sama, yaitu membahayakan bagi kesehatan. Bedanya, bungkus rokok diberi warning risiko rokok terhadap kanker, serangan jantung, dan lain-lain.

Bungkus pejabat, yaitu baju, tepatnya di bawah lencana, tak ada sematan warning bahwa korupsi bisa menyebabkan masyarakat stres sehingga kena kanker, serangan jantung, impotensi, dan lain-lain..

“Kalau pejabat bisa menghindari dari tanggung jawab, kenapa rokok, asapnya, nggak bisa dibikin ngeles juga?” ulang si ahli politik.

Aduh bagaimana ya, kata si ahli kimia. Dia mumet berpikir. Malah nyaris Vertigo. Mumetnya soal bahan tembakau apa yang kalau dibakar asapnya bisa kayak pesawat autopilot, mampu bermanuver sendiri baik mencapai maupun menghindari sasaran.

Bagi si ahli politik, ya itu bidangnya orang kimialah. Menganalisis hubungan threesome politika antara yudikathief, legislathief, dan eksekuthief saja ia sudah pusing. Apalagi diminta turut merenungrenung asap rokok autopilot. ”Saya sih ngertinya cuma negara autopilot,” tegasnya.

Mengoleskan semacam krim obat nyamuk di cuping-cuping hidung bukan para perokok dianggap terlalu rumit. Asap rokok tak akan mencapai hidung mereka sebagaimana nyamuk ogah hinggap ke kulit yang telah diblonyohi obat. Itu bisa saja. Tapi belum tentu mereka mau.

Salah-salah olesan bahan kimia pada cuping hidung itu akan mengurangi daya endus mereka. Padahal, dengan daya endus yang tajam, masyarakat masih merasa sering dikelabui.

Misalnya, mereka mengendus siapa saja yang sesungguhnya terlibat dalam kasus korupsi di kementerian agama, transmigrasi dan tenaga kerja, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Toh buktinya oknum-oknum yang ditersangkakan tidak sampai oknum puncak seperti endusan kolektif.

Di ujung perbincangan, ahli kimia sanggup membuat bahan olesan hidung antiasap rokok. Tinggal si ahli psikologi yang tampak berpikir-pikir.

“Bagaimana aku meyakinkan masyarakat bahwa olesan hidung antiasap rokok ini tak mengurangi kepekaan dan daya endus.”

Hmmmm….

Sujiwo Tejo
Buku: Republik #Jancukers
Penerbit: Kompas

24 January, 2017

Kisah Sebuah Pulau



Oleh : Waliyulhamdi

Menurut cerita orang-orang di pulau ini, mahluk itu memiliki 2 bola mata yang besar dan tak berkelopak. Letak matanya pun tak seperti biasanya, agak diatas hampir di jidat. Tangannya dua namun jari-jari pada setiap tangan berjumlah delapan dan lentur seperti tentakel namun ujungnya seperti jari manusia pada umumnya, jari-jarinya tdk menggenggam tapi melilit. Telapak kakinya besar dan lebar-lebar. Dia juga punya ekor namun bentuknya menyerupai ekor ikan pari tapi ujungnya mirip ekor kuda. Satu lagi organ tubuh aneh yang katanya dimiliki mahluk itu, dia memiliki sepasang sayap seperti sayap naga.

Sepasang sayap inilah yang kadang membuatnya dianggap bisa terbang padahal dia hanya melompat, berlari dan meluncur cepat dengan bantuan jari-jarinya yang menyerupai tentakel dan lentur, saat sedang meluncur kedua sayapnya mengepak secara refleks senada dengan gerakan tubuhnya. Organ-organ tubuh yang lain tak jauh berbeda dengan organ tubuh manusia pada umumnya.

Orang-orang sudah jarang melihat kehadiran mahluk itu namun semua penduduk asli pulau ini tak memungkiri keberadaannya. Namun entah mengapa hanya pada anak-anak berusia di bawah 8 tahun mereka sering menampakkan diri dan anak-anak yang pernah melihat mahluk itu pasti akan menceritakan pada orang tua mereka sambil menunjukkan sebuah pisang pemberian mahluk itu. Mungkin ada juga anak-anak yang memang tak pernah melihatnya atau enggan menceritakan pada orang tua mereka pengalaman bertemu dengan mahluk itu. Anak-anak yang bercerita pada orang tuanya, pengalaman bertemu mahluk itu dan menunjukkan pisang pemberiannya bahwa akan ditanggapi dengan senyuman dan orang tuanya akan menganjurkan si anak untuk memakan pisang itu karena itu adalah hadiah spesial untuknya.

Pisang pemberian mahluk itu adalah pisang terbaik yang pernah ada namun selain mahluk itu tak ada yang tahu dimana pohon pisang seperti itu tumbuh. Di pulau ini memang banyak pisang namun banyak pisang yang dari baunya, bentuk dan warnanya mirip. Setelah melalui penelitian ternyata sangat jauh berbeda, dari baunya ada perbedaan ketajamannya, dari ukurannya biasa kalau tdk lebih besar pasti lebih kecil sekian mili, dari warna ada perbedaan intensitas warnanya. Pada saat dimakan, bagi orang dewasa tak akan terasa perbedaannya namun menurut pengakuan beberapa anak, pisang itu terasa betul perbedaannya di lidah mereka.

Banyak orang di luar pulau ini yang punya anak kecil setelah mendengar cerita orang atau membaca dalam catatan perjalanan tentang mahluk itu dan pisangnya sengaja menetap di pulau ini sampai anaknya berusia 8 tahun ke atas, mereka pada umumnya percaya cerita tentang mahluk itu beserta pisangnya dan berharap anaknya akan bertemu dengan mahluk itu lalu diberi hadiah pisang yang mereka percaya bisa menambah kecerdasan anaknya. Pada awalnya warga pulau ini membuka rumah-rumah mereka untuk para pendatang, setiap pendatang pasti akan meninggalkan pulau ini dengan cerita indah. 


Salah satunya adalah cerita berbagai olahan pisang menjadi berbagai makanan, dari kue-kue sampai makanan pokok yang semuanya sangat memanjakan lidah. Namun semakin banyaknya pendatang maka warga pun mulai kewalahan di tambah lagi mulai populernya istilah "agro wisata" dan "wisata kuliner" maka mulailah didirikan penginapan-penginapan di tengah-tengah perkebunan pisang dan di penginapan itu pun disiapkan restourant bergaya khas rumah perkebunan yang menyajikan berbagai makanan dari hasil olahan pisang yang tentu saja sudah diberi sedikit variasi dengan sentuhan tangan para chef yang memang ahli mengolah pisang.

Semua penginapan dan restourant adalah milik para pebisnis dari luar, warga pulau yang tanahnya dipakai hanya diberi tanggung jawab sebagai pengelolah. Untuk tetap melestarikan cerita tentang mahluk pemberi pisang pada anak-anak, di pintu masuk pelabuhan dibangun patung mahluk itu lengkap dengan pisang yang dililitnya dan dalam posisi seperti menyodorkannya pada setiap orang yang melihatnya. Patung mahluk itu juga bisa ditemui di hampir setiap penginapan dan restourant dengan sedikit modifikasi untuk penyesuaian dengan corak masing-masing penginapan atau restourant.

Namun itu cerita lalu.

Pulau ini kini jadi seperti pulau mati karena pernah sangat ramai dan dinamis lalu tiba-tiba menjadi sunyi. Sebahagian besar perkebunan pisang dibiarkan terbengkalai, begitupun penginapan-penginapan dan restourant-restourant ditinggalkan begitu saja oleh para pemilik dan pengelolahnya. Penghuni pulau ini pun tinggallah penduduk asli yang sebahagian besar sudah tua, hanya beberapa anak muda yg tersisa. Banyak anak muda pulau ini yang ikut pergi bersama gelombang kepulangan para pendatang. Meski mereka yang tersisa sudah berumur rata-rata hampir 1 abad, mereka masih bisa mengurus perkebunan walau tak bisa lagi seluas perkebunan yang mereka urus saat masih muda. 


Berhentinya orang-orang berdatangan ke pulau ini disebabkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh sekelompok pelajar dari universitas yang menemukan fakta bahwa peningkatan perkembangan otak dan kecerdasan anak-anak yang pernah menetap beberapa tahun di pulau ini adalah mereka mengkonsumsi pisang.

Pisang diketahui memang banyak mengandung unsur-unsur yang bisa membantu perkembangan otak anak. Hasil penelitian inilah yang kemudian menjadi alasan para pebisnis penginapan dan restorant memilih angkat kaki dari pulau ini, padahal mereka telah menjadi daya tarik utama untuk datang ke pulau ini. Para pebisnis lebih tertarik mengembangkan bisnis restaurant pisang mereka di tempat yang lebih dekat dengan konsumen jadi konsumen dimanja dengan tidak perlu lagi menyebrangi lautan hanya untuk menikmati kuliner pisang yg sangat berguna bagi perkembangan otak.

Ditambah lagi saat ini dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika sedang dilakukan berbagai percobaan untuk menciptakan jenis pisang seperti pisang terbaik pemberian mahluk pemberi pisang di pulau ini. Jika percobaan menciptakan jenis pisang terbaik berhasil maka di mata mereka sempurnalah akhir kisah unik dari pulau ini.

Lalu bagaimana dengan mahluk aneh dan unik yang katanya di setiap penampakannya di hadaan anak-anak selalu memberi pisang ? mahluk itu masih akan tetap hadir di pulau ini selama masih ada pohon pisang yang berbuah dan masih ada manusia yang suka makan pisang.

Dan menurut cerita orang-orang tua di pulau ini, mereka yang pernah memakan pisang pemberian mahluk itu meski dia pergi ke ujung dunia pasti akan kembali ke pulau ini bersama anak-anak mereka.

Percayalah itu !



Sumber gambar : http://cdn1-a.production.liputan6.static6.com/...

28 March, 2016

Rancunya Perempuan

Oleh : Zulfikar Hafid



Pada masa jelang Hari Ibu, Desember 2015 lalu, Majalah Tempo memuat tulisan Mariana Amiruddin, DewanRedaksiJurnalPerempuan, dalam kolom Tempo Bahasa. Mariana menyoal rujukan dari peringatan Hari Ibu yang saat ini keliru dipahami oleh khalayak. Mariana menjelaskan, Hari Ibu 22 Desember bukanlah Mother's Day seperti yang diperingati oleh Barat. Peringatan ini tidaklah untuk menghargai jasa perempuan-disebut ‘ibu’ yang melahirkan dan merawat anak-anaknya. Ini tidak pulauntuk memanjakan Ibu yang selama ini telah menahan lelah "melayani" keluarganya. Hari Ibu, 22 Desember, senyatanya adalah peringatan atas turut andil perempuan-perempuan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa melalui Kongres Perempuan Indonesia I, tahun 1928. Saat itu, mayoritas peserta kongres adalah perempuan dewasa yang lazim disebut 'ibu'.

Dari penjelasan historis di atas, kata 'ibu' pada 'Hari Ibu' merujuk pada perempuan dewasa yang lazim disapa atau disebut'ibu'. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema ‘ibu’ memang memiliki beberapa makna, salah satunya adalah yang telah saya sebutkan di atas. Tanggal 22 Desember ini diperingati sebagai Hari Ibu setiap tahun karena dekrit Presiden Soekarno pada tahun 1959.Begitu penjelasan Mariana.

Terlepas dari kekeliruan rujukan peringatan tersebut, ada hal yang rancu, menurut saya. Seiring dengan semangat kesetaraan gender yang tampaknya semakin digalakkan, peringatan seperti itu, justru akan melestarikan ketidakseteraan gender. Logika saya atas hal itu, kalau memang perempuan setara dengan laki-laki, mengapa harus ada hari khusus untuk perempuan? Perlakuan seperti ini, menurut saya, bukannya melahirkan kesadaran kesetaraan gender, malah akan semakin mempertahankan paradigma bahwa perempuan adalah manusia yang memang lemah. Lemah karena selalu mendamba pengkhususan; pendambaan pengkhususan ini mengindikasikan kelemahlembutan; kelembutan ini berujung pada indikasi kelemahan. Pemikiran atas kelemahan ini akan mengokohkan perempuan menjadi objek, sehingga tidak akan tercapailah kesetaraan gender. Terlebih, jika kekeliruan pemaknaan atas pengkhususan hari peringatan telah terjadi seperti saat ini, seperti yang ditulis Mariana.Renungkan saja, karena tanggal 22 Desember dimaknai sebagai Hari Ibu atas jasanya bagi keluarga, maka, pada hari itu, Ibu dibebaskan dari pekerjaan rumah (domestik) seperti memasak, menyapu, dan mencuci piring atau pakaian. Mengapa hanya di Hari Ibu? Toh, sebenarnya, pekerjaan tersebut adalah pekerjaan semua manusia tanpa memandang jenis kelamin. Kebersihan adalah tanggung jawab dan harus ditindaki oleh siapa saja. Hal ini dapat dilihat dari penindakan atas kebersihan tubuh. Laki-laki bisa membersihkan tubuhnya sendiri, tanpa harus dibersihkan oleh perempuan, melalui aktivitas mandi. Apa bedanya membersihkan rumah, piring, atau baju dengan membersihkan tubuh? 

Begitulah. Seyakin saya, secara gender, perempuan dan laki-laki memanglah tidak patut dibedakan. Perbedaan perempuan dan laki-laki hanya dalam hal sex. Gender yang saya pahami adalah penciptaan sosial-masyarakat atas diri perempuan dan laki-laki, sementara sex adalah keadaan biologis dan fisis yang kodrati perempuan dan laki-laki. Wujud gender di antaranya, seperti, kelembutan dan kelemahan perempuan, sementara untuk sex wujudnya adalah laki-laki memiliki penis, tidak memiliki rahim dan payudara, sementara perempuan memiliki vagina, rahim, dan payudara. Jadi, simpulannya, kelemahan perempuan selama ini hanyalah konstruksi sosial, bukan kodrat. Nyatanya, ada perempuan yang bisa menjadi buruh pangkul, atlet (termasuk atlet angkat besi), juga ada perempuan yang lebih hebat dan kuat dibanding laki-laki. Ada juga laki-laki yang lebih sensitif daripada perempuan, lebih senang akan keindahan dan kebersihan, juga lebih lemah dari segi kekuatan dan keberanian daripada perempuan.

Kekuatan manusia, menurut saya, sebenarnya hanyalah persoalan pembiasaan. Seorang perempuan atau pun laki-laki, bisa melakukan hal seberat apa pun jika dibiasakan! Rancunya, kebanyakan perempuan lebih senang dipandang lemah daripada harus dipandang setara gender-nya dengan laki-laki. Ini menurut saya, karena perempuan-perempuan tersebut sudah terlanjur nyaman dengan pembodohan cukup abadi ini. Perempuan telah terlanjur senang dengan ketidakbiasaan atas kerja-kerja berat yang memerlukan kekuatan ekstra dan ketangguhan. Hal yang lebih rancu, ada komunitas perempuan yang berlabel ajaran agama tertentu berpikiran bahwa keseteraan gender telah merendahkan perempuan. Pertanyaan saya, apa rendahya setara dengan laki-laki? Komunitas tersebut berusaha meyakinkan perempuan bahwa kesetaraan gender adalah gagasan tidak benar karena merupakan produk pemikiran orang-orang yang berprinsip demokratis-liberal. Mungkin, mereka tidak menyadari bahwa mereka dapat bebas berusaha meyakinankan pemikirannyakepadaorang lain seperti ini karena penerapan sistem demokratis yang iacacidanbenci. Tapi, ini tidak berarti saya sepenuhnya setuju dengan sistem demokrasi-liberal ini, ya!

*Tulisan ini dimuat juga di Acta Diurna eLTIM FBS UNM









29 December, 2015

Masihkah Bugis Memiliki Tabe’ ?


Oleh: Al-Fian Dippahatang
Dari kecil, saya tidak pernah ditinggalkan orangtua merantau sebagaimana ciri yang melekat pada orang Bugis. Malah, saya yang dianjurkan orangtua merantau demi alasan pendidikan. Didikan orangtua saya di rumah, hingga lepas dari pengamatannya secara langsung, tidak serta-merta membuat adab sopan santun yang getol menyuapi saya, bakal saya tinggalkan.

Saya percaya, adat menjadi cikal-bakal terbentuknya karakter ke dalam (diri sendiri), pantang melanggar petuah, karena penilaian bakal berpulang pada cara orangtua mendidik. Sedang, karakter di luar dari diri (lingkungan sosial masyarakat yang berbudaya), berkenaan penilai orang-orang berkenan dengan prinsip yang membentuk dalam lingkungan keluarga. Sebagai anak, tentu menjaga nama baik orangtua di perantauan suatu kewajiban, terlebih saya yang dibekali petuah.

Sebuah upaya keras saya bangun untuk menghargai dan menghormati siapapun yang berada di sekitar saya. Agar, tidak dinilai kurang beradab dan berbuat sesuka-sukanya. Dari kebudayaan Bugis, sopan santun dianggap sebagai salah satu konsep terbentuknya satu sistem nilai yang sangat berharga, yang dikenal dengan tabe’.

Bentuk petuah sopan santun diajarkan orangtua saya yang dimaksudkan diawal tulisan ini adalah tabe’. Petuah yang di mana pun, tidak boleh luput untuk saya junjung. Tabe’ menjadi penting dalam hidup saya, saat-saat diperhadapkan dengan situasi genting kehidupan modern dalam berperilaku. Terlebih orangtua sendiri, lebih-lebih orang yang dituakan, bahkan sekalipun usianya lebih muda. Tabe’ tak memandang usia, latar belakang keluarga dan pendidikannya nak, begitu ketus orangtua saya bergerutu jika berpetuah.

Melalatoa, Guru Besar Departemen Antropologi Universitas Indonesia menganggap, bahwa suku Bugis tidak bakal lepas dari aturan dan sistem norma adat yang cukup sakral yang disebut pangaderreng (Makassar: pangadakkang). Hal ini menjadi petunjuk orang Bugis dalam kehidupannya, dari lingkungan keluarga sampai yang lebih luas sebagai kelompok etnik. Tabe’ adalah bagian dari pangaderreng yang dijadikan titik perhatian dalam hidup yang berbudi suci.

Secara sederhana, orangtua saya ingin memberikan pemahaman, bahwa tabe’ yang dimaksudkannya adalah minta permisi untuk lewat, sambil mengucapkan kata tabe’ tersebut ketika orang-orang duduk berkumpul. Tidak sekadar mengucapkannya, tabe’ yang dipahamkan kepada saya, jika melakoninya sambil berjalan dengan diikuti tubuh membungkuk seperti sedang rukuk. Menunduk meluruskan tangan di samping lutut atau menggerakkan tangan kanan atau sepasang tangan ke bawah mengarah ke tanah. Selain itu, tabe’ yang dipahamkan kepada saya, mengambil sudut pandang, jika hendak mengambil alih sebuah pembicaraan atau mengawali sebuah percakapan, hendaknya berucap tabe’.

Jika dikaitkan sebagai kesatuan nilai taro ada taro gau’—hal yang selalu sesuai yang diucapkan dengan penerapannya melalui perbuatan. Orang Bugis akan meraih pemaknaan yang lebih dalam mengenai tabe’ sebagai suatu fungsi dan nilai yang cukup sakral. Hal ini, dimaksudkan, agar, tabe’ yang dilisankan diikuti dengan menggerakan anggota tubuh tertentu tetap seiring dan sejalan dalam menjaga nilai kearifan lokal.
                                                                                ***
Saya yakin, orang yang sopan santun disenangi lingkungannya. Digemari orang-orang dalam bergaul tanpa takut dikatakan tidak paham dengan kebudayaan. Sebab, kita tidak akan lepas menerapkan kebudayaan. Memahami kebudayaan hanya sekadar tataran teori dan tanpa praktek bakal tidak seimbang bahkan pincang. Kedua-duanya penting sejalan, agar kita tidak semu bahkan buta dengan pengetahuan yang bertabur dengan kearifan lokal.

Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer mengutip pemikiran antropolog dari Inggris Edward Burnett Taylor dalam bukunya, Primitive Culture and Anthropology, mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Tabe’ adalah anak dari ibu kebudayaan yang ingin disampaikan Taylor kepada kita sebagai orang Bugis. Agar, tetap memiliki kepedulian dan kesadaran terhadap kekayaan nilai-nilai kearifan lokal. Menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sangat penting demi menepis anggapan, orang Bugis tidak Bugis lagi dengan kebudayaannya.

Namun, dibesarkan dari suku manapun selain Bugis, menjunjung nilai-nilai kearifan lokal yang searti dengan tinjauan penerapan dari tabe’ penting melaksanakannya. Jangan sampai menggugurkan niat orangtua yang berbusa-busa berpetuah kepada kita lantas dengan pengaruh kebudayaan luar, kita semaunya saja melepaskan gaun kearifan lokal tersebut.

Tidak ingin menampik untuk ingkar, saat ini tabe’ perlahan terkikis penerapannya. Jika kita tilik dari perilaku orang-orang tua dulu yang kurang mengenyam, bahkan tidak kenyang dengan pendidikan. Mampu membuat anak-anaknya bisa terdidik dengan baik atau dari didikannya selalu tampak nilai dari karakter sopan santun.

Saya lantas menganggap, apa yang dilakoni orang-orang tua dulu, suatu kebiasaan yang tidak lepas dilakukan untuk anak-anaknya. Mapan dalam menegakkan sikap malu—lebih kuatnya, karena tidak ingin memunggungi siri’, harga diri yang lekat pada orang Bugis mengalir kepada anak-anaknya jika tak tahu tabe’. Jika sedang dianjurkan menerapkan sopan santun, tabe’ akan menjadi mappatabe’ atau merasakan keindahan dari kebudayaan yang ada dalam diri anaknya. Agar, tidak mendapat gunjingan dari tetangga bahkan orang-orang dari kampung sebelah.

Menyerukan tabe’, menyuarakan kebudayaan. Kita adalah pelaku nilai-nilai kearifan lokal, khususnya yang ada di Sulawesi Selatan ini. Tak sekadar menyadarinya. Di mana pun kita berada mesti menunaikannya. Jangan sampai, kita berpendidikan tinggi, lantas kita rendah pada hal sepele dan mengabaikan nilai-nilai karifan lokal.

Masikah Bugis memiliki tabe’? Sebaiknya, mari kita merenunginya bersama-sama, tabe’.

Tentang Penulis

Al-Fian Dippahatang lahir di Bulukumba. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin ini sehari-hari belajar sastra di Komunitas Penulis Lego-Lego dan Komunitas Penulis Lamaruddani di Makassar. Mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Makassar International Writers Festival 2015. Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Nasional Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (GBSI UPI) 2015. 
 Twitter: @pentilmerah

09 February, 2015

Kemanusiaan Dalam Perspektif Kopi

 

Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi yang dikeringkan kemudian dihaluskan menjadi bubuk.

Kata kopi sendiri awalnya berasal dari bahasa Arab: qahwah yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah kembali mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah lagi menjadi koffie dalam bahasaBelanda. [butuh rujukan] Penggunaan kata koffie segera diserap ke dalam bahasaIndonesia menjadi kata kopi yang dikenal saat ini. Secara umum, terdapat dua jenis biji kopi, yaitu arabika (kualitas terbaik) dan robusta.

Kopi yang terdiri dari Air, Gula, dan Kopi sehingga dinamakan dengan Kopi. Kekuatan sebuah Kopi mengantarkan kita pada proses ke-hakikat-an sebuah manusia. Apa landasan dasar sehingga di katakan ke-hakikat-an manusia ? Pertama, Kopi dikatakan sebuah kopi ketika esensi dari kopi dapat melahirkan eksistensinya sebagai kopi. Manusia dapat disebut manusia apabila akalnya berfungsi sebagai memahami yang menjadi sebab dari sebuah akibat. Kedua, Kopi terbuat dari beragam macam ramuan sehingga layak dinamakan kopi. Manusia hidup dikarenakan memiliki zat bernyawa. Ketiga, Manusia bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Kopi berpindah pada titik ke titik selanjutnya. Manusia dan kopi sama-sama mempunyai kekuatan yang saling berpengaruh.

Kehidupan tanpa kopi sama saja ketika kopi tidak dicampuri dengan gula. Spiritual meminum kopi sudah melekat dalam jiwa manusia. Aktivitas manusia pada umumnya selalu bersama dengan kopi. Mulai dari Mahasiswa, Tukang Becak, Pedagang Kaki Lima, Wiraswasta, Pegawai Negri Sipil, Politisi, Pengusaha Hingga Presiden. Betapa kuatnya kekuataan kopi dalam kemanusiaan. Kehadirannya sama sekali tak membeda-bedakan status dalam sosial. Ketika bersama-sama menikmati secangkir kopi yang terjadi adalah kemanusian yang adil dan beradap (Sila Kedua) Pancasila. Kenikmatan yang dimilikinya sungguh membuat manusia ber-Imajinatif dan perdamaian.

Dalam sebuah buku ‘agama kopi’, Kopi sendiri sebenarnya lahir di Ethiopia sejak 800 tahun SM yang dikonsumsi sebagai buah, dua ratus tahun kemudian bangsa Arab mengenalkan kopi pada dunia sebagai sebuah minuman. Ketika bangsa Arab memperluas perdagangannya, biji kopi pun telah meluas sampai ke Afrika Utara dan biji kopi di sana ditanam secara massal. Dari Afrika Utara itulah biji kopi mulai meluas dari Asia sampai pasaran Eropa dan ketenarannya sebagai minuman mulai menyebar.

Pada masa bangsa Arab telah menyebar luaskan kopi tersebut ada petanda bahwa aroma kopi dapat dirasakan oleh semua manusia tanpa terkecuali. Pandangan saya, kopi yang diperdagangankan waktu itu bukan serta merta melihat keuntungan dari jual-beli bijian kopi, akan tetapi, dengan kopilah bangsa Arab dapat menyebar luaskan Ajaran Agamanya yaitu Islam. Bersama dengan doktringan Agamanya. Bahwa meminum kopi dapat merasakan spiritual manusiawi. Bahkan adapula yang menganggap bagian dari kerohanian.

Berdasarkan bacaan saya, Ditahun 1696, Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan biji kopi ke Gubernur Belanda di Batavia, pengiriman pertama hilang karena banjir yang terjadi di Batavia, pengiriman kedua dilakukan tahun 1699. Eksport kopi pertama dilakukan tahun 1711 oleh VOC, dalam tempo 10 tahun eksport meningkat sampai 60 ton/tahun, Indonesia adalah tempat perkebunan pertama diluar Arabia dan Ethiopia dan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780.

VOC kemudian melebarkan sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra, Bali, Sulawesi dan Timor. Di Sulawesi mulai ditanam tahun 1750, di dataran tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo, Aceh dekat danau laut tawar ditahun 1924.

Kehadiran kopi di Indonesia bukan serta merta ada begitu saja, seperti apa yang telah kita rasakan sekarang hanya membutuhkan modal saja maka kopi itu hadir di tengah-tengah kita. Perjuangan (Tau Ri’olo’a Bahasa Makassar) untuk menikmati sebuah kopi ia harus merasakan penderitaan dari sekutu belanda, setelahnya barulah ia bisa menikmati kopi yang di impikannya. Sekali lagi kopi memiliki kekuataan tersendiri. Bagi (Tau Ri’olo’a Bahasa Makassar) dengan ritual meminum kopi secara bersama-sama, memikirkan bagaimana penjajahan harus dihapuskan.

Kopi dan Kemanusian mengajarkan kita pada suatu Kedamaian, Ketentraman, Kebahagian, Kehidupan, dan Kebudayaan. Sementara di Negara kita begitu banyak masalah yang sedang terjadi mulai dari “korupsi, kemiskinan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, konflik sosial, bahkan Ke-agama-an”. Ada apa dengannya ?

26 January, 2014

Korban Sinetron

Bahayanya sinetron bagi anak Indonesia. Terutama bagi kalangan anak SMA yang suka hanya menonton Sinetron televisi. Sekiranya kalau mereka sadar dengan hal-hal yang namanya sinetron itu, pasti dia tidak akan menontonnya. Lantas apa penyebabnya sehingga mereka terus saja menontonnya ? berbagai macam pikiran yang meresap dalam nalarnya, sehingga tingkah lakunya boleh dikata hampir-hampir mirip dengan sinetron tersebut. Ketika imajinasi mereka telah banyak dihabiskan hanya untuk menonton sinetron saja, maka ada baiknya pembuat film dan siaran televisi memutarkan saja secara menyeluruh ke stasiun televisi yang ada. Supaya mereka yang suka menonton sadar akan hal ini. Banyak waktu yang mengganggu mereka pada saat asik menikmati alur ceritanya. Ini persoalan Imajinasi mereka, bung persoalan pasar. Coba yang pembuat film lebih menunjukkan nilai-nilai yang semstinya menjadi nilai, agar pengaruhnya sangat bermanfaat.

Karena kebanyakan anak SMA pikirannya hanya untuk berbuat sebagaimana mestinya, bukan berarti bahwa dialah yang menjadi sasaran pasar. “Tolong” jangan mebuatnya seperti itu. Andai kata mereka banyak mendapatkan nilai-nilai kemanusian pada alur cerita sinetron, itu boleh-boleh saja, tetapi bukan nilai-nilai yang dinampakkan, melainkan merusak “Imajinasi” mereka. Bukannya kami salahkan pembuat filmnya, bukannya juga kami menyalahkan penontonnya, tapi kami hanya ingin mereka SADAR. Alur cerita boleh beda, tapi cerita tetap saja sama dengan film-film sinetron. Meskipun sudah banyak yang menjadi korban dalam permasalahan ini, harusnya pembuat lebih dari tahu kalau banyak yang sangat merugikan. Belum lagi saingan antara yang satu dengan yang lainnya. Bagaimana bisa terjadi kesadran kalau semakin menjadi-jadi. Memang sih, membuat itu tak semudah apa yang dipikirkan. Tetapi cobalah melihat sedikit saja terhadap hasil pembuatannya.

Penonton juga kalau tidak dibatasi secepat mungkin, yakin dan percaya, pengaruhnya terhadap orang lain sangat berpengaruh. Karena sudah dibentuk secara berpengaruh terhadap dirinya dan orang lain. Kita sebagai orang yang Sadar dengan hal itu, ketika kita menanyakan “buat apa kau menonton sinetron?” mereka menjawabnya dengan penuh kegembiraan, karena menarik untuk dinonton. Ketika kita bertanya persoalan nilai dari sinetron tersebut, mereka hanya bisa menjawabnya dengan bantahan. Kekecauan sudah mulai Nampak. Perhatikan saja apa yang terjadi pada disekitar Anda. Tingkah laku dan gaya hidup mereka sudah dimasuki oleh berbagai macam gaya dan tingkah laku. Mungkin saja banyak orang tak memperhatikan seperti ini. Akibat dari sebuah kekerasan, bisa jadi berawal dari sinetron. Hanya persoalan memperbutkan satu orang saja yang ia sukai dalam cerita sinetron itu, sehingga akhir dari cerita itu sudah jelas bahwa kekerasan telah dinampakkan.

Aduh, penonton sinetron. kalau dipikir, apa yang membuatnya sehingga terjerumus dalam cerita fikti belakangan ? selamatkan “Imajinasi” kalian. Karna hanya “Imajinasi” kalianlah bisa membuat film sinetron tersebut. Bagaimana misalnya kalau yang suka menonton sinetron dibuatkan wadah untuk memanfaatkan “imajinasi” mereka, salah satunya belajar membuat film sinetron. Kira-kira apa yang terjadi ? bukan apa yang terjadi, melainkan terjadinya bagaimana. Kerasnya dinamika sosial dalam lingkungan. Belum lagi kalau ada film di televisi menarik untuk mereka dia nonton. Se-menarik bagaimanapun itu sinetron untuk dinonton, tatapi tidak membawakan nilai-nilai kemanusian, bagi saya, itu termasuk “jelek”. Entahlah bagaimana pikiran mereka yang merasa suka terhadap hal seperti itu. Kemungkinan besar bagi yang suka dengan sinetron, cita-cita mereka ingin menjadi pemain sinetron.

Selama aturan tidak ada kaitannya dengan sinetron, maka pembuat juga dengan senang hatinya mebuat se-menarik mungkin. Ketika ini terjadi yakin dan percaya saja, tidak ada berhentinya korban sinetron bahkan korban iklan sekalian. Untung saja kalau dia suka membaca buku, kalau tidak pernah membaca buku bacaan, payah sekali godaanya. Jika dia lebih banyak menonton sinetron, ketimbang membaca buku bacaan. Sama saja, membaca bukunya hanya permainan saja. Bagaimana jadinya kalau mereka menganggap buku bacaan sebagai alat permainan saja. Artinya bahwa pikiran mereka telah banyak mengelolah kata-kata sinetron. Seringkali kita menanyakannya, tetapi pertanyaan kami, selalu saja tidak ada pengaruh terhadapnya. Memang kebiasaan sangat sulit untuk keluar darinya, karna butuh waktu dan proses yang sangat menyakinkannya. Apapun kata pembuat film, pasti selalu menyalahkan penontonnya.

Kata-kata sinetron sangat besar pengaruhnya, ketimbang kata-kata dalam kamus. Karna bagi mereka tidak ada kata-kata indah selain kata-kata sinetron. Alangkah sangat lucunya kata-kata itu. Betapa bermanfaatnya kata-kata sinetron itu. Lingkungan bisa mendobraknya hanya korban sinetron saja. Hari demi hari it uterus yang disirkan. Dengan judul yang berbeda, tetapi ceritanya sama saja. Selamatkan mereka secepatnya.
Bagi yang sementara menuju proses menonton sinetron, Anda sangat berhati-hati. Jangan sampai pikiran Anda telah dirasuki oleh sinetron. Tidak ada masalah menontonnya, tetapi jangan biasakan menontonnya.

Sekian dan terima kasih.