Recent

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

18 March, 2017

Segala, Segala



Pengarang : Sutan Takdir Alisjhabana 

Ani, ya Aniku Ani,
Mengapa kamas engkau tinggalkan?
Lengang sepi rasanya rumah,
Lapang meruang tiada tentu.


Buka lemari pakaian berkata,
Di tempat tidur engkau berbaring,
Di atas kursi engkau duduk,
Pergi ke dapur engkau sibuk.


Segala kulihat segala membayang,
Segala kupegang segala mengenang


Sekalian barang rasa mengingat,
Sebanyak itu cita melenyap.


Pilu sedih menyayat di kalbu,
Pelbagai rasa datang merusak.

20 April 1935

15 March, 2017

Sesudah Dibajak




Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana

Aku merasa bajakMu menyayat,
Sedih seni mengiris kalbu,
Pedih pilu jiwa mengaduh,
Gemetar menggigil tulang seluruh.

Dalam duka semesra ini,
Beta papa, apatah daya?
Keluh hilang di sawang lapang,
Aduh tenggelam dibisik angin.

Ya Allah, ya Rabbi,
Hancurkan, remukkan sesuka hati,
Sayat iris jangan sepala.

Umat daif sekedar bermohon:
Semai benih mulia raya
Dalam tanah sudah dibajak.

1 Mei 1935

Seindah Ini



Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana 

      Tuhan,
      Terdengarkah kepadamu himbau burung di hutan
sunyi meratapi siang di senja hari?
      Remuk hancur rasa diri memandang sinar lenyap
menjauh di balik gunung.
      Perlahan-lahan turun malam menutupi segala pan-
dangan.
                                    *
      Menangis, menangislah hati!
      Wahai hati, alangkah sedap nikmatnya engkau pandai
menangis!
      Apa guna kutahan, apa guna kuhalangi?
                                    *
      Aku terima kasih kepadamu, Tuhan, memberiku hati
tulus-penyerah seindah ini:
            Sedih pedih menangis, waktu menangis!
            Girang gembira tertawa, waktu tertawa!
            Marak mesra bercinta, waktu bercinta!
            Berkobar bernyala berjuang, waktu berjuang!

10 Agustus 1937
Dari: Pujangga Baru, Agustus, 1937

Kalah dan Menang



Pengarang : Sutan Takdir Alisjahbana


Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab kuputuskan, bahwa kemenangan sudah
pasti untukku saja. Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh bila terjatuh,
Yang menangis bila teriris,
Yang berjalan berputar-putar dalam belantara

*
Di padang lantang yang kutempuh ini,
aku tak mungkin dikalahkan:
Sebab disini jatuh sama artinya dengan bertambah
kukuh berdiri.
Tiap-tiap pukulan yang dipukulkan berbalik berlipat
ganda kepada sipemukul.
Malahan algojoku sekalipun yang akan menceraikan
kepalaku dari badanku, akan terpancung sendiri seumur
hidupnya:
Melihat mataku tenang menutup dan bibirku berbunga
senyum.


4 Mei 1944
Dari: Majalah Pembangunan, Tahun I, No. 2, 23 Desember 1945.

12 March, 2017

Wajah-wajah



Pengarang: Kahlil Gibran


Waktu tak pernah adil..
Kadang ia berikan waktu yang panjang untuk kesedihan...
Dan ia berikan waktu yang sangat pendek untuk merecap kebahagiaan.
Namun Nikmat-Nya yang mana lagikah yang harus kudustai?


Panjang pendek waktu... harus kunikmati
Sedih ku syukuri...
Bahagia ku syukuri...
Karena hidup hanya sekali


Ketika ku sedih...
Kuingat mereka yang lebih sedih dariku
Agar aku punya lebih banyak semangat


ketika ku sedih..
kuingat mereka yang sedikitnya mengingatku
Agar ingatan mereka tentangku tak kan pernah pudar


Ketika ku bahagia..
kuingat mereka yang sedang bersedih
agar aku datang dan menghibur mereka
atau menangis bersama


Cinta.. rindu.. benci.. cemburu..
sudah tak ingin kurasakan lagi
Tak mungkin memulai kisah yang tak mungkin terjadi.


Hanya kasih yang ingin kutebarkan
Hanya kasih...


Maka kupejamkan mata dan mengingat wajah-wajah. ..
Wajah-wajah yang pernah mengenalku satu persatu...
Wajah-wajah yang dengan mengingatnya menjadikan ku bahagia....
Dan salah satu wajah itu adalah KAU....

Aku Bicara Perihal Cinta



Pengarang: Kahlil Gibran



Apabila Cinta Memberi Isyarat Kepadamu, Ikutilah Dia,
Walau Jalannya Sukar Dan Curam.
Dan Pabila Sayapnva Memelukmu Menyerahlah Kepadanya.
Walau Pedang Tersembunyi Di Antara Ujung-Ujung Sayapnya Bisa Melukaimu.


Dan Kalau Dia Bicara Padamu Percayalah Padanya.
Walau Suaranya Bisa Membuyarkan Mimpi-Mimpimu Bagai Angin Utara Mengobrak-Abrik Taman.
Karena Sebagaimana Cinta Memahkotai Engkau, Demikian Pula Dia
Kan Menyalibmu.


Sebagaimana Dia Ada Untuk Pertumbuhanmu,
Demikian Pula Dia Ada Untuk Pemangkasanmu.
Sebagaimana Dia Mendaki Kepuncakmu,
Dan Membelai Mesra Ranting-Rantingmu Nan Paling Lembut Yang Bergetar Dalam Cahaya Matahari.


Demikian Pula Dia Akan Menghunjam Ke Akarmu,
Dan Mengguncang-Guncangnya Di Dalam Cengkeraman Mereka Kepada Kami.
Laksana Ikatan-Ikatan Dia Menghimpun Engkau Pada Dirinya Sendiri.
Dia Menebah Engkau Hingga Engkau Telanjang.
Dia Mengetam Engkau Demi Membebaskan Engkau Dari Kulit Arimu.

Dia Menggosok-Gosokkan Engkau Sampai Putih Bersih.
Dia Merembas Engkau Hingga Kau Menjadi Liar;
Dan Kemudian Dia Mengangkat Engkau Ke Api Sucinya.
Sehingga Engkau Bisa Menjadi Roti Suci Untuk Pesta Kudus Tuhan.
Semua Ini Akan Ditunaikan Padamu Oleh Sang Cinta,
Supaya Bisa Kaupahami Rahasia Hatimu,
Dan Di Dalam Pemahaman Dia Menjadi Sekeping Hati Kehidupan.


Namun Pabila Dalam Ketakutanmu,
Kau Hanya Akan Mencari Kedamaian Dan Kenikmatan Cinta.
Maka Lebih Baiklah Bagimu,
Kalau Kaututupi Ketelanjanganmu,
Dan Menyingkir Dari Lantai-Penebah Cinta.
Memasuki Dunia Tanpa Musim Tempat Kaudapat Tertawa,
Tapi Tak Seluruh Gelak Tawamu,
Dan Menangis,
Tapi Tak Sehabis Semua Airmatamu.


Cinta Tak Memberikan Apa-Apa Kecuali Dirinya Sendiri,
Dan Tiada Mengambil Apa Pun Kecuali Dari Dirinya Sendiri.
Cinta Tiada Memiliki,
Pun Tiada Ingin Dimiliki;
Karena Cinta Telah Cukup Bagi Cinta.


Pabila Kau Mencintai Kau Takkan Berkata,
Tuhan Ada Di Dalam Hatiku,
Tapi Sebaliknya, “Aku Berada Di Dalam Hati Tuhan”.
Dan Jangan Mengira Kaudapat Mengarahkan Jalannya Cinta,
Sebab Cinta,
Pabila Dia Menilaimu Memang Pantas,
Mengarahkan Jalanmu.


Cinta Tak Menginginkan Yang Lain Kecuali Memenuhi Dirinya.
Namun Pabila Kau Mencintai Dan Terpaksa Memiliki Berbagai Keinginan,
Biarlah Ini Menjadi Aneka Keinginanmu:
Meluluhkan Diri Dan Mengalir Bagaikan Kali,
Yang Menyanyikan Melodinya Bagai Sang Malam.


Mengenali Penderitaan Dari Kelembutan Yang Begitu Jauh.
Merasa Dilukai Akibat Pemahamanmu Sendiri Tenung Cinta;
Dan Meneteskan Darah Dengan Ikhlas Dan Gembira.
Terjaga Di Kala Fajar Dengan Hati Seringan Awan,
Dan Mensyukuri Hari Haru Penuh Cahaya Kasih;
Istirah Di Kala Siang Dan Merenungkan Kegembiraan Cinta Yang Meluap-Luap;
Kembali Ke Rumah Di Kala Senja Dengan Rasa Syukur;
Dan Lalu Tertidur Dengan Doa Bagi Kekasih Di Dalam Hatimu,
Dan Sebuah Gita Puji Pada Bibirmu

11 March, 2017

Cerita dari Luar Tembok



Pengarang : Mochtar Lubis 



Dari balik tembok
datang berdentam
bunyi tembakan
masuk ke dalam
kamarku yang kecil
dalam penjara kecil ini
di jalan bernama palsu Keagungan

Siapa menembak siapa
baru kemudian kami tahu
ada seorang anak perempuan
bernama Zubaedah
ada seorang pemuda
bernama Arif Hakim
dibunuh pengawal istana
ketika menyampaikan
tangis rakyat
yang menderita sengsara
bertahun-tahun di bawah
sepatu kaum tirani
dalam penjara lebih besar
di luar tembok penjara kecil ini
di jalan bernama palsu Keagungan



(28 Maret 1966)

10 March, 2017

Dalam Kamar Penjara seperti di Tungku Panasnya


Pengarang : Mochtar Lubis


matahari bergeser
bola merah
di kaki langit
tergantung
rendah
membakar kepala

(nb. Sajak tanpa judul, 11 Mei 1965)

Tak Ada Kau



Pengarang : Mochtar Lubis
En la madrigada
me desperto
estory desamparado
dondes estas tu
Hally querida?

Dekat fajar
Aku terbangun
kurasa sepi
tak ada kau
Hally sayang

(nb. Sajak tanpa judul, 20 April 1965)

08 March, 2017

ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI



Puisi Agus Noor

ADA YANG LEBIH TABAH DARI HUJAN BULAN JUNI

: SDD



Ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, ialah ia, yang terus mencintaimu, meski kau tak pernah menyadari, dan selalu berjaga dalam kesedihan dan kebahagiaanmu

Ialah yang menggeletar dalam doa-doamu, tanpa pernah kau menyadari, dan kau pun tentram karena merasa ada yang selalu menjagamu

Tanpa pernah kau menyadari, ia diam-diam menjelma bayanganmu, hingga bahkan pun dalam sunyi kau tak lagi merasa sendiri.

Ia, yang sungguh lebih tabah dari hujan bulan Juni, selalu berbisik lembut di telingamu, meski kau tak pernah menyadari, dan seluruh kenanganmu menjadi hangat dalam ingatan

Saat kau terisak menahan tangis, ia yang lebih bijak dari bulan Juni, merasuk ke dalam dadamu yang disesaki duka, hingga kau semakin memahami: betapa airmata mencintai orang yang paling dicintainya dengan cara menjatuhkan diri

Ia jugalah yang menyelusup ke paru-parumu, tanpa sekali pun pernah kau menyadari, ketika kau mendadak tersengal oleh entah apa, dan segalanya tiba-tiba saja menjadi terasa lega

Ketika senja, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tanpa pernah kau menyadari, meruapkan hangat ke dalam teh yang tengah kau nikmati pelan-pelan, hinga kau merasakan sore begitu damai dan menentramkan

Ia jualah yang terus duduk di sampingmu, tanpa pernah kau menyadari, menemanimu dengan sabar memandangi cahaya senja yang perlahan memudar, dan kau bersyukur pada segala yang sebentar

Dan ketika kau tidur, ia yang lebih arif dari bulan Juni, tak lelah berjaga: dihapusnya debu kecemasan yang berguguran dalam mimpimu

Ada yang jauh lebih tabah dari hujan bulan Juni, lebih bijak, dan lebih arif, tetapi kau tak pernah menyadari, meski selalu ada di kesedihan dan kebahagiaanmu, karena ia tak henti-henti mencintaimu

2010

MENGINGAT JALAN-JALAN YANG DILUPAKAN INGATAN


Pengarang : Agus Noor 

Semua jalan, Ibu,

selalu membawaku

kepadamu.



Di kota yang telah dilupakan oleh ingatan,

aku mencoba mengingat jalan-jalan

yang pernah kita lalui. Juga jalan-jalan

yang belum pernah kita lalui,

             dan yang mungkin akan kita lalui.



Pada setiap jalan yang telah dilupakan oleh ingatan

selalu ada kisah yang menolak dilupakan,

          dan tak mungkin terlupakan.

Setiap jalan punya kisah yang dengan tabah

disimpannya sendiri, menanggung luka

                                dan kebahagiaannya sendiri.

Ketika melewati sebuah jalan

                              kita tak pernah tahu:

adakah  kita menambahi luka,

                     atau kebahagiannya.

 

 Apakah jalan yang kulalui, Ibu,

menambah lukamu.

Atau menyudahi kebahagianmu?



Setelah tahun-tahun yang ingin dilupakan

          masih saja aku mengingat sebuah jalan

yang membentang dari masa kecil.

Jalan yang sabar menyimpan semua tangisan

yang kadang ingin kudengar dalam kesendirian.



Di jalan yang abadi dalam kenangan itu, Ibu,

aku tak lagi bisa membedakan tangismu dan tangisku.

Ketika kudengar tangismu, aku seperti

                     mendengar tangisku sendiri



Kenangan, barangkali memang piringan hitam,

yang suka memutar kesedihan berulang-ulang.



Kota telah mengubah jalan-jalan, tetapi akan

           selalu ada jalan yang abadi dalam ingatan.

Jalan-jalang menghilang dari sejarah.

Mereka terhapuskan tapi tak terlupakan.

Seperti engkau yang lelah, tapi menolak menyerah.



Bagaikan pengungsi ditawan kegelapan,

jalan-jalan itu mencari takdirnya sendiri

agar sampai yang sampai padaku,

                                     sampai juga kepadamu.

Dari arah mana pun jalan itu,

                            dari masa depan atau masa lalu,

              ia akan selalu membawaku padamu.

Adakah jalan itu, Ibu, adalah jalan

                   yang selalu menautkan kepedihan

                                              dengan kenangan



 “Agar kau sampai pada sunyiku, mari

kutunjukkan jalan paling rahasia,

ke jantungku,” katamu.



Dadamu: kota yang berdebar.

Kota penuh jalan rahasia

                yang telah lama terbakar

menjadi memar kisah samar-samar.



Di kota yang dilupakan oleh ingatan inilah, Ibu

aku mengingat jalan-jalan dalam dadamu.



Kau pernah bercerita;

perihal jalan, yang pada suatu hari

menjelma burung, terbang dan hinggap

ke kota lain. Orang-orang memberinya

nama baru. Membangun patung seorang pangeran

yang menyaru dengan jubah megahnya

hanya untuk menutupi kesedihannya.



Kini aku mencoba mengingat, Ibu,

di sebuah kota yang telah hilang dari ingatan:

adakah sebuah jalan yang akan terus menghubungkan

               kenangan dengan kepedihanku, kepadamu.



Seorang kekasih, di sebuah losmen murahan,

pernah berbisik memelukku.

“Akan kukenalkan kau pada satu jalan,” katanya

meraih bibirku yang telah  mekar oleh gairah.

Lalu ia buka bajuku. Kutangku. Celanaku.

                       Susuku. Kulitku. Ingatanku.

Dan ia tunjuk, celah pahaku:

                    inilah jalan bebas hambatan,



menuju surga.



Aku telah memilih jalan bagi kepedihanku,

ketika seluruh jalanan di kota ini ingin aku lupakan.



Jalanan kota ini penuh mahkluk ganjil

yang dadanya menyimpan api kemarahan.

Jalan-jalan yang berkobar tubuh para korban:

wanita yang mati diperkosa.

Jalan-jalan yang mengelabu dan mengelabui.



Seperti Malin terdampar di bandar

yang mengasingkannya, aku memandang jalan-jalan

yang terbakar, di sebuah kota yang telah dilupakan

oleh ingatan. Bila waktu sebuah jalan, Ibu,

betapa jauh ia telah membawaku melupakanmu.



“Bagi seorang anak, sebuah jalan akan melupakan.

Ibu adalah jalan mengabadikan,” katamu



Mungkin, suatu hari orang-orang akan menemukanmu

tergeletak di sebuah jalan tanpa nama, tanpa ingatan.



Pada suatu hari itu, percayalah,

hanya aku yang mengingatmu, Ibu.

Akan selalu mengingatmu.

Meski semua jalan lenyap dari ingatanku.



2011

Delapan Kwatrin Kelopak Bunga



Pengarang : Agus Noor
 


1
kau melihat kelopak bunga mengapung
di selokan rumahsakit.
“aih,” katamu,” ia bagai nyawa bayi yang dibuang,
dan menjerit.”

2
malam hari, dalam mimpimu,
kelopak bunga itu tumbuh berkilauan, bersih seperti
wajahmu semasih bayi.
kau, juga tiktok jam itu, perlahan saling tersedu.

3
kau petik bunga yang tumbuh dalam mimpimu itu,
iseng kau tanggalkan kelopaknya, satu per satu.
kau dengar ada yang mengaduh,
ketika kelopak itu runtuh

4
lalu kau bayangkan: alangkah tenang
kelopak bunga itu melayang,
seakan jatuh dari ketiadaan,
kemudian mengapung di selokan

5
tiba-tiba, kamar dipenuhi guguran kelopak
bunga. ada harum yang menyebar
bersama angin yang menyelusup masuk,
dan membuatmu gemetar

6
hanya ada kau, Aku dan kelopak bunga
di kamar. tapi kau yakin: ada
yang sedang diam-diam menatap kita
dengan pandangan berkaca-kaca

7
seperti kau dengar – nun di luar kamar sana
ada yang bersabda: jadilah. maka tumbuhlah
sekuntum bunga. kau berkata: gugurlah,
maka runtuhlah seluruh duka

8
pada pagi saat kau melihat kelopak bunga
mengapung di selokan rumahsakit, kau pun merasa:
                               waktu telah tiba.
tergenapkanlah duka

2012

05 March, 2017

DERITA SUDAH NAIK SELEHER



Pengarang : Wiji Thukul


kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap
kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras
kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak
darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku
derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

17 November 96

P E N Y A I R

Pengarang : Wiji Thukul


jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang
jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!

sarang jagat teater
19 januari 1988

BUNGA DAN TEMBOK

Pengarang : Wiji Thukul

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau hendaki tumbuh 

Engkau lebih suka membangun
 Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kau kehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun
 Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang
 Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu
 Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami

Di manapun–tirani harus tumbang!

03 March, 2017

AKU TIDUR BERSELIMUTKAN UANG

Pengarang : Joko Pinurbo


Aku tidur berselimutkan uang.
Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang.
 

(2002)

LUKISAN BERWARNA

Pengarang : Joko Pinurbo 


untuk Andreas dan Dorothea
Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.

Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.

Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.

Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.

Airmata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.
 

(2002)

PENJAGA MALAM

Pengarang : Joko Pinurbo 


Penjaga malam itu masih setia menjaga rumah besar
yang tak pernah dihuni pemiliknya.
Ia sangat mencintai rumah kosong itu,
bahkan merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Suatu malam ia berhasil menangkap seorang penjahat
yang berusaha masuk ke rumah itu tanpa seizinnya.
Ia tidak rela rumah itu diganggu karena, ya itu tadi,
ia merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Keesokan harinya penjaga malam itu tak kelihatan lagi
batang hidungnya. Ia sudah ditangkap polisi
karena telah menghajar pemilik rumah yang dijaganya.


(2002)

PENJUAL CELANA

Penulis : Joko Pinurbo 



Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan,
sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar
di dekat kuburan di pinggiran kota.
Orang-orang sangat suka membeli celana bikinannya
karena terjamin kwalitetnya, sangat enak dipakainya,
terkenal sejak 1945.

Mentang-mentang pakai celana serdadu, penjual celana itu
tiba-tiba menjadi sombong dan pura-pura lupa sama aku.
“Anda dari kampung ya?” ejeknya ketika aku sibuk
mencoba-coba berbagai celana dan tidak juga membelinya.

“Semua celana itu palsu. Yang asli cuma ini,” katanya
sembari menunjuk-nunjuk celananya sendiri.
Ia tertawa hebat ketika aku berniat membeli celana antik
yang dipakainya, berapa pun harganya.
Ia bertahan: “Jangan. Ini celana perjuangan.”

Ketika sekian tahun kemudian kami bertemu lagi
di sebuah rumah sakit jiwa di dekat kuburan di pinggiran kota,
bekas serdadu itu mengaku bahwa celana loreng
yang dibanggakannya itu sebenarnya palsu dan ia menyesal
mengapa dulu tidak menjualnya ke aku.
Celana itu sudah dibeli seorang kolektor kaya
yang gemar mengumpulkan berbagai macam benda pusaka.
(2002)

02 March, 2017

SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU

Penulis : Seno Gumira Adji Darma



Alina tercinta,
 

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.

“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.


Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.



Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.


Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.