Recent

Showing posts with label Jadul. Show all posts
Showing posts with label Jadul. Show all posts

30 January, 2017

Puisi Rivai Apin #5

Judul : Dari Dua Dunia Belum Sudah


Pagi ini aku dengar beritanya,
Aku ke jalan
Orang-orang jualan dan hendak pergi kerja menepi-nepi
Oto-oto kencang, berat dengan serdadu-serdadu dan tank-tank
tak dapat digolakkan
Ada yang meronda, berdua-dua dan bersenjata
Di antaranya ruang lapan-lapan, tapi ada isi!
Semua beku padu:
manusia benda udara, tapi memperlihatkan harga


Aku pergi ke teman-teman berbicara, isi mengendap ke kelam
Berita: Jogja sudah jatuh, Maguwo… Karno tertangkap
Hatta, Sjahrir …
….
Kami berbicara, menimbang dan melihat kemungkinan
Semua dari satu kata dan untuk satu kata.


Senja itu aku pulang, sarat dengan berita dan kemungkinan.
Di rumahku aku disambut oleh keakuanku yang belum sudah:
buku yang terbuka, yang belum dibaca dan buku yang harus
aku sudahkan,
Tapi untuk ini aku sudah tinggalkan Bapa dan Abang
Dan baru pula teringat ini hari baru satu kali makan.
– yang periuknya selalu terbuka – Dan aku sudahkan
keakuanku
di dalam ruang kuburan yang digalikan oleh nyala pelita di
dalam kegelapan.


Tapi malam ini menghentam, sepatu lares pada dinding
kegelapan yang tebal
Dan ketika mereka telah pergi terdengar ratap perempuan,
bininya atau ibunya.
Padaku tak usah lagi diceritakan, bahwa ada yang dibawa
Aku hanya bisa menekankan kepala pada papan meja,
Buncah oleh itu kata yang belum punya bumi tapi telah mengejar
pula ke dalam dunia yang belum sudah.

Puisi Rivai Apin #4

Judul : Tugu

Bila rumah dan mimpi telah hancur
Jangan kaukatakan:
Binatang-binatang pada mati, semuanya keindahan pada redup
Dan kau telah sendirian menghadapi kenyataan. Tapi ingat!
Ini waktu akan punya tugu, berukirkan kata mula dan kata akhir


Jangan ada yang pulang dengan darah dan air mata
Tapi sirami bumi, semuanya ini akan bangunkan kegemilangan
Batu kekalahan di atas batu kekalahan
Sekali waktu nanti akan menugu
di mana kita yang mengukir kemenangan

Puisi Rivai Apin #3

Judul : Melalui Siang Menembus Malam

I

Sebelum gadis-gadis jadi remaja,
Sebelum daun-daun akan menghijau dan bunga berwarna segar,
Di sempit pinggiran, di mana batas hanya bisa dirasakan
– dan dia tidak akan meleset, tapi harus jujur dalam pengakuan –

Air mata akan menakik pipi
pikiran akan membakar hati,
menjadikan diri orang kering kurus sehabis nyala.

Musim kemarau telah bangkitkan
dan hembuskan dan sebarkan
napas kering maut,
Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama

Dari balik tembok-tembok sepanjang gang-gang
maut mengintai tak kunjung putus
Manusia hanyalah anak dari beberapa jam.

Anak Manusia yang sekarang ini hanyalah tahu cita-cita yang patah,
burung-burung yang kehabisan nyanyi.
Dan hatinya, di padang kering, batu rengkah-rengkah digersangi harapan

Kini dia telah pahit mulut
dadanya berayutan, berat menarik ke dalam kubur.

II

Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama
Kebenaran yang diakui hati
Tapi dipatahkan pikiran, karena
dia minta jaminan bagi kehidupan seperti manusia biasa.
Pahit pertama yang menyebar dalam mulut
dan menuba dada
Pengertian inilah:
dia telah mengaburkan batas
manusia biasa dan manusia luar biasa

Kedua-dua adalah anak-anak manusia
Yang ditentukan oleh beberapa jam
“pada pokok mula ialah perbuatan”

Kebenaran yang diakui hati tapi dipatahkan pikiran
manusia luar biasa minta jaminan bagi kehidupan;
Bagi orang yang lari sebagai binatang buruan: manusia biasa
Datang melecut pada luka-luka
dia yang telah lari ke dalam gua-gua terakhir
karena dia tidak mau jadi barang sewa.

III

Demi cinta dan jujur
mari kita berterus terang
Ini hidup yang menghampar di hadapan kita
demikian indah, demikian menarik, dan penuh goda
tapi jalannya telah menuju ke ketakutan
dan setan-setan di pinggiran jalan
bersorak-sorak menganjurkan.

Arus yang telah diikutkan
membuat lupa dan kemegahan
membuktikan ketakutan…

Adakah suatu kemegahan itu bumi
Adakah suatu kemegahan itu dasar
Kemegahan yang telah dihantui oleh ketakutan dan penyesalan,
tapi tak hendak diakui?

IV

Carilah penghabisan mimpi
Carilah penghabisan nyanyi
Tapi bagaimana? Kedua-dua tidak akan habis-habis
Kedua-dua akan putus-putus
Mereka kedua memang bisa,
memang bisa, tapi bagaimana…

V

Di mana akhir daerah akan terdapat
akhir daerah, yang membuka kaki langit
Tidak cukup kesepian, tidak cukup pembuangan
tidak cukup ketahanan dan kekuatan menjejak dasar
Tidak di atas tanah bumi, tidak di atas air laut

Dalam ketika-antara di dalam jarak bumi dan laut
Dan hirup udara dari dua rupa.
Bumi yang punya rupa dan nama
menguapkan awan sakal dan …

Di perhentian lanjut
Menyadari tempat dan ketika
Kemenangan dan kekalahan
Membuat pengakuan lalu pulang ke garis jalan,
Tujuan yang dimulai bersumber hati

VI

Di daerah tuju yang membuka kaki langit
di daerah yang setiap waktu dimandi hujan,
Biar di waktu siang atau di waktu malam.
Cari waktu yang tepat
Cari tempat yang wajar, dan ingat
Tidak ada waktu dan tempat bagi dia yang dilahirkan cahaya
dan hilang ditertawakan cahaya.

Dia yang dilahirkan di tengah malam terbongkar
dengan hutan rimba yang satu waktu patah-patah
dan lain waktu jadi padang kering
Dia akan hidup menuju pantai dan jadi penguasa
Karena dia percaya:
Inilah bumi, air , dan udara
Di atas mana, di dalam mana, dan di antara mana
Anak Manusia harus hidup.

Dia perhitungkan segala hidup
Dia buat perhitungan di tiap mati
Dia hanya menggenggam nilai
Laut kekalan yang tak kenal batas,
di atas mana kapal, hidup berlayar

Dia telah mandikan dirinya di dalam
biru, kejujuran laut dengan badai dan kaca
mata sumber segala yang hidup
kepundan yang memancarkan segala tenaga
Dan gadis dengan keindahan penuh sehabis badai,
Akan keluar dari laut yang biru bening.

Puisi Rivai Apin #2

Judul : Kebebasan

Di atas hancuran tembok yang kuruntuhkan
Berdiri aku atas kuda putihku, gaya dan jaya
Di hadapanku menghampar padang dan bukit
Dengan lengkungan langit yang membuatku lapar ruangan.


Lalu dadaku memberikan ruang
Bagi jantung yang memukul berdentangan
Memancarkan darah yang dia degap degupkan


Darah kudaku pun ikut menjalang dan dia
berlonjak-lonjakan oleh kekesalan
Lalu kulepas dan kami menderu pacu ke pantai-pantai.

Puisi Rivai Apin #1

Judul : Elegi

Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan
Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan
Janganlah kau bersedih – dan mari kami lanjutkan
Kami bawa ini kebenaran ke bintangnya dan ke buminya.


Kami pun tahu, karena ada satu kata dari kau yang kami simpan
Satu pandang dari tanah retak menggersang, lalu sedu menyesak dada


Ah, kenangan padamu akan terus memburu,
menakutkan seperti bayang di pondok seloyongan, bila pelita
telah dipasang
Tapi penuh kasih seperti Bapa yang mengulurkan tangan
Dan kau kembali, seperti di hari-hari dulu ketika kau dan ini
bumi masih mendegupkan hidup.


Kami tak kan lupakan kau, ketika memburu dan ketika lari
– karena apa yang kami buru dan apa yang kami lari
untuk itu kau mau serahkan nyawa
Dan kami yang menimbang jasamu
Pun tahu, seperti kau pun tahu, bahwa tak ada Dewa atau
Tuhan lain lagi yang berharga untuk dihidupi selain itu


Berhembusan topan di padang tandus ini
Tapi tapak kami yang tertanam di padang gersang, di mana kau
dalam terkubur
Melanjutkan nyala, dan kami yang tegak berdiri di sini ialah api
Kita tahankan hidup di ini malam, malam yang akan melahirkan siang


Kita adalah anak-anak dari satu Bapa
Kita adalah anak-anak dari satu Ibu
Dan mati kita hanyalah soal waktu
Tapi kita semua mempertahankan satu Tuhan.


Adik yang akan datang. Kakak yang telah pergi
Kita angkutlah tanah-tanah yang retak, ini tanah-tanah yang gersang.
Keberatan beban, kesakitan bahu memikul, dan kepahitan hati
akan kekalahan
Akan menyaratkan cinta pada kepercayaan yang kita peluk.

Puisi Asrul Sani #5

Elegi Jakarta, II

Ia yang hendak mencipta,
menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas,
tewaslah karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta,
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderai sebutir demi sebutir.


Apa juga nasib akan tiba.
Mesra yang kita bawa, tiadalah
Kita biarkan hilang karena isapan pasir.


Engkau yang telah berani menyerukan,
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan.


Jika suaramu hilang dan engkau mati,
Maka kami akan berduka, dan akan
menghormat bersama kekasih kami.


Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,
Dari perceraian-tiada mungkin
Dari sinar mata yang tiada terlupakan.


Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
Mengeringkan kembang kerenyam
Pepohonan sekali lagi akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.


Mungkin engkau orang perang dan aku petualang,
Tetapi suatu hari cinta telah dijanjikan.
Jika bulan Juni telah pulang
Aku akan membaca banyak pada waktu malam
Dan mau kembali ke pantai Selatan jika kemarau telah datang
Laut India akan melempar pasang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian.


Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
Dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua,
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.


Di sini telah datang suatu peranan
Serta kita akan menderita dan tertawa
Tawa dan derita dari
yang tewas
yang mencipta …

Puisi Asrul Sani #3

Pengakuan

Akulah musafir yang mencari Tuhan
Atas runtuhan gedung dan dada yang remuk
Dalam waktu tiada kenal berdiam dan samadi
Serta kepercayaan pada cinta yang hilang bersama kabut pagi.
Akulah yang telah berperi,
Tentang kerinduan akan penyelesaian yang tamat,
Dari manusia, dari dunia, dan dari Tuhan.


Ah, bumi yang mati,
Lazuardi yang kering.
Bagaimana aku masih dapat,
Menyayangkan air mata berlinang dari kembang kerenyam yang kering,
Sedang kota-kota dan rumah-rumah bambu lebih rendah dari wajah lautan.


Satu-satu masih terbayang antara pelupuk mata telah hampir terkatup,
Karena murtad, karena tiada percaya
Karena lelah, karena tiada punya ingatan,
Suatu lukisan dari deru air berlayar atas lunas berganti-ganti bentuk


Dari suatu lembah gelap dan suram
Menguapkan kabut mati dari suatu kerahasiaan,
Tuhan yang berkata.
Akulah musafir yang mencari Tuhan,
Dalam negeri batu retak,
Lalang dan api yang siap bertemu.
Suatu kisah sedih dari sandiwara yang lucu,
Dari seorang pencari rupa,
Dari rupa yang tiada lagi dikenalinya.


Perawan ringan, perawan riang
Berlagulah dalam kebayangan
Berupa warena
Berupa wareni,
Dan berlupalah sebentar akan kehabisan umur.
Marilah bermain.
Marilah berjalin tangan,
Jangan ingat segala yang sedih,
Biarkanlah lampu-lampu kelip
Lebih samar dari sinar surya senja.
Kita akan bermain,
Dan tidur pulas, sampai
Datang lagi godaan:
“Akulah musafir yang mencari Tuhan.”


Bogor, 22 Pebruari 1949

Puisi Asrul Sani #2

Judul Elang Laut 

Ada elang laut terbang
senja hari
antara jingga dan merah
surya hendak turun,
pergi ke sarangnya.


Apakah ia tahu juga,
bahwa panggilan cinta
ada ditahan kabut
yang menguap pagi hari?


Bunyinya menguak suram
lambat-lambat
mendekat, ke atas runjam
karang putih,
makin nyata.


Sekali ini jemu dan keringat
tiada akan punya daya
tapi topan tiada mau
dan mengembus ke alam luas.


Jatuh elang laut
ke air biru, tenggelam
dan tiada timbul lagi


Rumahnya di gunung kelabu
akan terus sunyi,
Satu-satu akan jatuh membangkai
ke bumi, bayi-bayi kecil tiada
bersuara.


Hanya anjing,
malam hari meraung menyalak bulan
yang melengkung sunyi.
Suaranya melandai
turun ke pantai
Jika segala
senyap pula,
berkata pemukat tua:
“Anjing meratapi orang mati!”


Elang laut telah
hilang ke lunas kelam
topan tiada bertanya
hendak ke mana dia.
Dan makhluk kecil
yang membangkai di bawah
pohon eru, tiada pula akan
berkata:
“Ibu kami tiada pulang.”

Puisi Asrul Sani #1

Judul : Surat dari Ibu

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.


Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.


Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tak pedoman,
boleh engkau datang padaku


Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam!
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

Puisi Chairil Anwar #5

Hampa
Kepada Sri


Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Puisi Chairil Anwar #4

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”


Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!


Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat meniup nyawa!

Puisi Chairil Anwar #3

Kepada Peminta-minta


Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku


Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga


Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah


Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku


Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku

Puisi Chairil Anwar #2

Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut


Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak


Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Puisi Chairil Anwar #1

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau


Tak perlu sedu sedan itu


Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri


Dan akan akan lebih tidak perduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi

Puisi Wiji Thukul #5

Tentang Sebuah Gerakan


tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!


aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?


aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku


aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?


1989

Puisi Wiji Thukul #4

Kota ini Milik Kalian

di belakang gedung-gedung tinggi
kalian boleh tinggal
kalian bebas tidur di mana-mana kapan saja
kalian bebas bangun sewaktu kalian mau
jika kedinginan karena gerimis atau hujan
kalian bisa mencari hangat
di sana ada restoran
kalian bisa tidur dekat kompor penggorengan
bakmi ayam dan babi denting garpu dan sepatu mengkilat
di samping sedan-sedan dan mobil-mobil bikinan asli jepang


kalian bisa mandi kapan saja
sungai itu milik kalian
kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri


apa belum cukup terang benderang itu lampu merkuri taman
apa belum cukup nyaman tidur di bawah langit kawan
kota ini milik kalian
kecuali gedung-gedung tembok pagar besi itu jangan!




Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Puisi Pelo

Puisi Wiji Thukul #3

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa


puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka


kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup


aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa


18 juni 97

Puisi Wiji Thukul #2

Bunga dan Tembok


seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kaukehendaki tumbuh

engkau lebih suka membangun

rumah dan merampas tanah



seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kaukehendaki adanya

engkau lebih suka membangun

jalan raya dan pagar besi



seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri



jika kami bunga

engkau adalah tembok

tapi di tubuh tembok itu

telah kami sebar biji-biji

suatu saat kami akan tumbuh bersama

dengan keyakinan: engkau harus hancur!



di dalam keyakinan kami

di mana pun – tiran harus tumbang!



Solo, 87-88

Puisi Ajib Rosidi Ejaan Lama #8

Diriku


Diriku samudra
Dilajari kapal, perahu, badjak
Tiada djedjak


Jang sementara
Berasal dari Tiada
‘Kan lenjap dalam
Tiada.


1961




Kau! Kau Jang Bitjara!


I
Apa artinja sadjak
Kalau setiap saat manusia dapat ditembak
Hanja lantaran bedil tersandang
Dan hatimu meradang?


Apa artinja puisi
Kalau pintu pendjara terbuka
Hanja lantaran merasa kuasa
Dan hatimu memendam bentji?


Kutulis sadjak ini
Karena penjair
Terhindar dari takdir djadi beo jang latah
Puisipun harus menembus
Hidup-aman-dalam-bungkaman
Ditindas kesewenang-wenangan


Penjairlah jang bitjara
Menjampaikan hasrat-kodrati manusia:
Kemerdekaan!


II
Kau. Kau bitjara tentang hak
dan orang lain kaukurniai hak-bajar-padjak
Kau bitjara tentang kewadjiban
tapi dirimu sendiri litjin bagai kantjil,
memilih kewadjiban-memberi-perintah, memetik-hasil.


Kau. Kau bitjara tentang kemakmuran
sedang petani-petani tak kaubiarkan makan nasi
tenang mengerdjakan sawah dan ladang
dan pedagang-pedagang tak kaubiarkan lunas dari utang
dan guru-guru kauharuskan turut memburu
beras dan gula, minjak tanah dan peda
dan pengarang kauperas hingga tulang
sumsumnjapun hendak kauhisap, agar diam.


Kau bitjara tentang kemerdekaan bitjara
sedang suara jang hendak kau dengar hanja ,,Setudju!”
kalau ada jang berbunji lain, alismu mengernjit
kaukutuk dia: ,,Penghianat bangsa!”
karena hanja kau pahlawan – tiada dua.


Ah, manusia ini hanja debu, kautahu?
dan antara debu dengan debu
tiada tuhan, tiada pahlawan
kalau satu dewa jang lainpun dewa pula.


III
Tidakkah pernah dalam tengah malam sunji
Selalu kau terlentang
Mendengarkan suara nurani
Berbitjara lantang?


Dari hidup manusia, dialah jang tak pernah dusta
Dari diri manusia, dialah jang paling murni
Sepuhan, pakaian, tiada guna, lantaran dia
paling mesra dengan hati.


Kau. Bitjaramu selalu tinggi
Mimpimu selalu hidjau
Atas segala kata, atas segala mimpi
Apakah telingamu tuli, ataukah
nuranimu bisu bagai batu tak bertatah?


Kau. Hatimu jang selalu pura-pura
Tidakkah kepada dirimu sendiri kau tak kuasa
Kendati hanja sepatah dusta?
Setelah membatja sadjak ini,
pedjamkan matamu, lalu hening
dalam malam jang tentram; merenung
menjelam ke dalam relung
rongga-rongga dasar djiwamu: Kenalkah kau
kepada mata kuju yang kausuruh makan batu?
Kenalkah kau kepada tubuh-tubuh begung
jang tak djemu kausuruh menanggung?
Kenalkah kau kepada dada gambang
jang dikerahkan dari satu ke lain rapat
untuk bertepuk tangan, menarik urat, memuaskan hatimu
jang tak djemu disandjung?


Hidup ini di atas bumi fana
segalanjapun fana. Sadjak ini
menolak kefanaan, dia menjadarkan
manusia jang riwan
mimpi djadi tuhan.


Bumi fana, menampung hidup fana.


IV
Kau. Kau jang selalu bitjara
sekali ini dengarkan, dengarkanlah
suara orang jang mungkin
dengan suaramu sendiri berlain.


Kau. Kau jang selalu bitjara
sekali ini dengarkan, dengarkanlah
suara jang adalah suara paling dalam
keluar dari hatimu sendiri
dalam malam hening sepi.


Karena sadjak ini bukan mimpi
remadja merindukan tjinta, tapi
mengadjak kau mendjenguk nurani
jang telah lama kaudjauhi – kauhindari.


Karena sadjak ini bukan lamunan
penjair tak tentu kerdja, melainkan
membangunkan kau jang gamang
terumbang ambing di pinggir djurang.


Karena sadjak ini ‘kan djadi bungkus roti
kalau petani mampu menjanji malam hari,
tenang mengerdjakan sawahnja lagi,
lepas dari intipan takut, gelisah, bimbang;
kalau pedagang senang menembang sepandjang hutan,
selagi mendjadjakan beras, gula, garam;
dan kalau segala mimpimu bukan lagi
hanja onggokan kata dan kertas, tertumpuk tinggi,
tapi telah mendjadi hidup manusia sehari-hari.


Djatiwangi, November 1961

Puisi Ajib Rosidi Ejaan Lama #7

Tentang Maut


I
Kulihat manusia lahir, hidup, lalu mati
Menerima atau menolak, tak peduli
Dengan tangan dingin namun pasti
Sang Maut datang dan tiap hidup ia ahiri.


Kuperhatikan perempuan sedang mengandung
Wadjahnja riang, mimpinja menimang si-djabang
Namun kulihat Sang Maut aman berlindung
Dalam rahim sang ibu ia bersarang


Kuperhatikan baji lahir
Dan pertama kali udara dia hirup
Dalam tangisnja kudengar Sang Maut menjindir:
,,Djangan nangis, kelakpun hidupmu kututup”


II
Jang kukandung sedjak hidup kumulai
Takkan kutolak, meski ia kubentji
Tapi kalau hidupku nak dikuntji
Datang Tuhan menawari:
,,Sukakah kau hidup semenit lagi?”
Kudjawab pasti: ,,Suka sekali!”


III
Seperti gelap bagi kanak-kanak, pernah pada Maut aku ngeri
Karena tak berketentuan, bisa njergap sesuka hati
Membajangi langkah, mengintip menanti saat
Dan bagi kesadaran djadi beban paling berat.
Kupertentangkan ia dengan Hidup jang seolah ‘kan dia rebut
Kupilih fihak: Karena pada siksa neraka aku takut;
Namun kini tiada lagi, karena selalu kudapati
Nafasnya menghembus dalam tiap hidup jang fana ini


1960




Aku Terdjaga Tengah Malam


Aku terdjaga tengah malam, hening dan tentram
Gunung kelabu samar membatu
Elahan nafas alam jang berat mengembus pelan
Dan dengan nafas sendiri tertahan
Kusimakkan tenaga gaib tersembunji
Mengadjak bangkit, menempelak, meludah penuh dendam
Mengajunkan kepalan, mata merah, terbakar amarah
Karena terlalu lama dirinja terlupakan
Dalam pesta pora kesewenang-wenangan
Karena terlalu lama dirinja didjual
Dalam berbagai pidato dan penipuan
Karena terlalu lama dirinja didjagal
Dalam berbagai pemerasan berkedok kemakmuran
Karena terlalu lama dirinja diindjak
Dalam berbagai upatjara kemerdekaan


Kini tenaga penuh semangat gaib
Kusintakkan seperti lahar dalam perut gunung
Bangkit, menggemuruh tiada tertahan
Melanda segala penghalang
Mengatjungkan tangan ke muka
Menerdjang segala perintang


Tapi malam hening sepi, detak djantung sendiri
Dalam tentram bumi lelap, suara hati ingin diam tetap:
Tidakkah sia-sia dendam mengangkat tangan
Tidakkah sia-sia pembunuhan menghantjurkan pemerasan
Tidakkah bentuk baru ‘kan muntjul: Di mana pesta berulang
Sedang si ketjil, makin bungkuk dan renta
Diindjak dan diperas tenaga?


Tidak. Semangat akan harapan dalam impian
Memberi keremadjaan pada darah dan urat kendur
Memberi unggun dingin api berkobar
Bah membandjir dalam kali gersang
Banteng melihat kain-merah mengibar


Tidak. Semangat selalu meremadjakan. Mereka
Puas terbaring dengan senapang di tangan
Tak ketjewa mati sedang berdjuang
Tak pertjuma derita buat harapan masadepan
Karena hidup manusia selalu dipersembahkan
Pada haridepan redup di djauhan
Bagi ketentuan jang tak berketentuan
Karena tenaga dikerahkan
Untuk memutuskan belenggu
Demi kebebasan.


Tiada hentinja sepandjang djaman
Perdjuangan manusia, selalu terlibat kembali
Dari belenggu ke belenggu baru
Dari pemerasan ke pemerasan lain
Namun tiada djemu, berontak harapkan impian
Tiada bosan, melawan harapkan kemerdekaan


Tiada damai dalam diri manusia
Meluap dan menggelegak, tiada tara


Manusia selalu melawan terhadap takdir
Tak pertjaja terhadap ketentuan azali
Karena pertjaja akan tenaga sendiri
Tersimpan di balik mata redup atau tjeli
Larut dalam urat kendor atau tegang
Sembunji di balik badju bertambal dan rombeng
Menjala dalam dada tipis kerempeng


Tiada ‘kan habisnja. Setiap djaman. Dan manusia
Mendengar, melihat, menjaksikan dan menjimakkan
Pemberontakan manusia terhadap kekuasaan
Jang dalam mentjengkam diri


Dan kala aku terjaga tengah malam
Kudengar pula semangat gaib bangkit tak tertahan
Bagai lahar dalam perut gunung berapi
Semangat perdjuangan mengamang tindju ke depan
Karena harapkan kemerdekaan dan kedamaian
Bagi haridepan jang redup di djauhan


Berulang dan ‘kan berulang lagi
Manusia memberontak terhadap diri


Tjihideung, 20 Mei 1960