Recent

Showing posts with label Sujiwo Tejo. Show all posts
Showing posts with label Sujiwo Tejo. Show all posts

01 March, 2017

Toilet Karya Sujiwo Tejo

Penulis : Sujiwo Tejo




Tidak Pancasilais itu membuat toilet, tapi tak dilengkapi semprotan.

Baik di toilet gedung DPR maupun di toilet-toilet masyarakat alias toilet non-DPR, keberadaan alat penyemprot mutlak diperlukan.

Semprotan tidak melulu penting untuk menghalau demo mahasiswa dan kaum buruh.

Lagi pula apa dosanya bersih-bersih pakai semprotan air? Toh ujung-ujungnya air balik lagi ke tanah. Air beda dibanding pajak. Dari rakyat, pajak belum tentu balik ke rakyat. Air sudah jelas, dari tanah kembali ke tanah. Entah nurun siapa, tapi sudah begitulah sifat air.

Lagian bersih-bersih pakai kertas itu menghabiskan hutan. Mending kertas dipakai buat koran walau jerih payah Wartawan pada akhirnya cuma untuk bacaan di atas kloset.

Masih lebih sopan menjadikan tisu toilet sebagai tisu makan di warung-Warung Tegal. Kita menghargai bidang kerja menteri kehutanan sebagai pembersih mulut, bukan pembersih anu.

Lalu ini: Mengharuskan duduk di setiap kloset juga tidak Pancasilais. Seluruh Warga negara, lebih-lebih anggota DPR, harus boleh jongkok. Satu-satunya yang tidak boleh jongkok di negeri ini cuma IQ.

Jangan sampai di negara merdeka jumlah semprotan makin sedikit dibanding jumlah sempritan di berbagai bidang termasuk bidang perwasitan di bidang sepak bola.

Sedikit-sedikit disemprit. Sedikit-sedikit menyemprit. Padahal nama yang hampir sama saja, yaitu burung emprit, sudah semakin jarang. Bukankah itu suatu pertanda bahwa di era keterbukaan ini sebaiknya sempritan agak dikurang-kurangilah.

Masa’ enak-enak di jalan, tahu-tahu disemprit karena ada yang mau lewat. Sama-sama nggak enak di jalan, karena sama-sama macet, eh tahu-tahu disemprit juga suruh menyisih karena ada yang mau menerobos kemacetan.

Masih lebih bagus penyiar televisi, kalau ada yang mau lewat, yaitu iklan. Kita justru tidak boleh pergi. Kita justru harus diem di tempat. “Jangan ke mana-mana,” begitu biasanya diucapkan oleh wajah-Wajah manis di layar kaca.

Kapan ya para pengawal petinggi negara itu bertindak lebih ramah atau setidaknya sama ramahnya dengan para penyiar televisi?

Saking ramahnya para penyiar manis-manis itu sampai-sampai para suami mereka betah berhangat-hangat di kamar. Konon karena mereka selalu merajuk ke para suami, “Jangan ke mana-mana…Jangan ke mana-mana…”

Aih, betapa sumringahnya hidup semacam itu. Tak boleh pergi ke lain tempat karena dicintai, bukan karena tak dipercaya.

Lain halnya hubungan rakyat dengan wakilnya di DPR. Tak ada saling percaya lagi. Sudah jelas-jelas dinyatakan bahwa Rp 2 miliar lebih biaya renovasi toilet itu bukan untuk satu toilet, namun untuk 220-an toilet di Senayan, tetap saja kami-kami ini tak mau dengar.

Menurut saya kok dalam kasus toilet DPR ini semua pihak salah. Bawahan, yaitu wakil rakyat, salah. Ketuanya, yaitu rakyat, juga bersalah.

Tidak semua hal bisa diwakilkan, kan? Tapi, wakil rakyat merasa bahwa segala hajat orang banyak termasuk perkara buang hajat besar dapat mereka wakili. Maka ketika masuk ke toilet, para anggota DPR merasa sedang sungguh-sungguh mewakili rakyat dalam ikhwal membuang tinja rakyat. Anggota DPR menganggap rakyat tak akan ambil pusing dengan segala biaya toilet yang menyangkut kepentingan rakyat sendiri.

Padahal jelas-jelas urusan “plung” adalah urusan pribadi para anggota parlemen. Rakyat sama sekali tidak ikut bagian enaknya, yaitu lobi-lobi anggaran di Hotel Mulia, Sultan, dan lain-lain, sambil makan-makan.

Tapi, rakyat juga keliru. Sudah jelas-jelas mereka tahu bahwa urusan buang air kecil maupun air besar adalah urusan yang tak bisa diwakil-wakilkan. Sebesar apa pun biaya pemugaran toilet itu tak masalah. Toh rakyat sendiri yang pakai. Mereka bisaramai-ramai datang sendiri ke toilet-toilet Gedung DPR Senayan untuk mengeluarkan sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Saya sih mau-mau saja ikutan, asal toiletnya pakai semprotan.

Sujiwo Tejo
Buku: Republik #Jancukers
Penerbit: Kompas

Rokok

Penulis : Sujiwo Tejo

Orang antirokok itu macam-macam. Ada yang antinya anti sama sekali. Orang seperti ini mirip mereka yang anti sama sekali berita politik. Koran atau televisi politik bukan saja ditutupnya, tapi ia matikan semua itu sambil marah-marah.

Ada yang antirokoknya setengah-setengah. Mereka tak mengisap, tapi tak keberatan orang-orang lain klepas-klepus berkemelut di sekitarnya. Bolehlah orang seperti ini diibaratkan mereka yang maniak infotainmen dan sinetron di televisi, tapi tak sampai muntah-muntah kalau pas makan restorannya nyetel teve politik.

Mungkin ia pikir, ah pasti para pelayan sedang di puncak sibuk sampai lupa memindahkan tevenya dari saluran politik. Itulah keadaan belalang di lain ladang.

Lain pula di negeri #Jancukers. Di negeri ini semua tempat adalah smoking area sebab asap rokok bisa ngeles dari hidung bukan perokok.

Itulah prestasi kerja sama para ahli kimia, ahli politik, dan ahli psikologi. Bermula dari obrolan mereka bertiga di sebuah kafe. Si ahli politik bilang, kalau pejabat saja sekarang banyak yang ngeles dari tanggung jawabnya, kenapa tak dapat digagas asap rokok dengan kepiawaian ngeles juga.

Alasannya, baik rokok dan pejabat dua-duanya sama, yaitu membahayakan bagi kesehatan. Bedanya, bungkus rokok diberi warning risiko rokok terhadap kanker, serangan jantung, dan lain-lain.

Bungkus pejabat, yaitu baju, tepatnya di bawah lencana, tak ada sematan warning bahwa korupsi bisa menyebabkan masyarakat stres sehingga kena kanker, serangan jantung, impotensi, dan lain-lain..

“Kalau pejabat bisa menghindari dari tanggung jawab, kenapa rokok, asapnya, nggak bisa dibikin ngeles juga?” ulang si ahli politik.

Aduh bagaimana ya, kata si ahli kimia. Dia mumet berpikir. Malah nyaris Vertigo. Mumetnya soal bahan tembakau apa yang kalau dibakar asapnya bisa kayak pesawat autopilot, mampu bermanuver sendiri baik mencapai maupun menghindari sasaran.

Bagi si ahli politik, ya itu bidangnya orang kimialah. Menganalisis hubungan threesome politika antara yudikathief, legislathief, dan eksekuthief saja ia sudah pusing. Apalagi diminta turut merenungrenung asap rokok autopilot. ”Saya sih ngertinya cuma negara autopilot,” tegasnya.

Mengoleskan semacam krim obat nyamuk di cuping-cuping hidung bukan para perokok dianggap terlalu rumit. Asap rokok tak akan mencapai hidung mereka sebagaimana nyamuk ogah hinggap ke kulit yang telah diblonyohi obat. Itu bisa saja. Tapi belum tentu mereka mau.

Salah-salah olesan bahan kimia pada cuping hidung itu akan mengurangi daya endus mereka. Padahal, dengan daya endus yang tajam, masyarakat masih merasa sering dikelabui.

Misalnya, mereka mengendus siapa saja yang sesungguhnya terlibat dalam kasus korupsi di kementerian agama, transmigrasi dan tenaga kerja, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Toh buktinya oknum-oknum yang ditersangkakan tidak sampai oknum puncak seperti endusan kolektif.

Di ujung perbincangan, ahli kimia sanggup membuat bahan olesan hidung antiasap rokok. Tinggal si ahli psikologi yang tampak berpikir-pikir.

“Bagaimana aku meyakinkan masyarakat bahwa olesan hidung antiasap rokok ini tak mengurangi kepekaan dan daya endus.”

Hmmmm….

Sujiwo Tejo
Buku: Republik #Jancukers
Penerbit: Kompas

Dhandanggula Sidoasih

Pengarang : Sujiwo Tejo


Permintaanku wahai kekasih
Selalu bersama-sama
Di ruang dan waktu
Tak berjarak meski cuma sehelai rambut
Kalau jauh dekat di hati
Kalau dekat berpandangan
Begitu sejatinya asmara
Seperti mimi dan mintuno
Ayo bersama melakukan panggilan sosial
Cinta kita berdua tak bermakna jika tak menjalarkan cinta pada sesama

Syair Dunia Maya

Pengarang : Sujiwo Tejo


- Menjelujur jalan
+ Nan tak kunjung tiba
- Jiwa dan sekujur
+ Kuyup berkeringat
- Sembari berbaring
+ Keringkan keringat
- Berangin-angin
+ Kuteringat anganku

Teringat dulu beban hayatku
Duh kini ringan tanpa badan
Ku terangkat ke awan-awan

- Kan ke angan angan
+ Saatku berangkat

Tiada kan kembali
Kembali kami mendunia
Di dunia
Tiada kan kami kan kembali ke dunia
Ya ke dunia
Tiada kan kembali, tiada kan kembali
Ya ke dunia
Tiada kan kembali, tiada kan kembali
Tiada lagi, tiada lagi
Gugusan gundah gunduk duka gulitaku
duh duh duh

- Kan ke angan angan
+ Saatku berangkat