Recent

Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

17 July, 2017

Memahami Seni



SENI DAN MASYARAKAT

Secara teori memang mudah memahami hubungan antara masyarakat dan keseniannya. Hal ini dapat benar apabila suatu masyarakat masih merupakan suatu kesatuan monolit, keutuhan, berdasarkan tempat terbatas. Misalnya, pada masyarakat suku yang terasing. Dengan masyarakat yang demikian itu akan seger terlihat antara perilaku seorang dengan wilayah kebudayaannya. Seorang dari kanekes (baduy dalam), misalnya, segera akan dikenal sebagai warga kanekes. Dengan demikian, akan segera pula diketahui nilai dasar kebudayaan mereka dan semua sub-nilai lainnya.

Masyarakat Indonesia sekarang bergerak di kebudayaan daerah atau kesukuan menjadi kebudayaan nasional. Sedangkan, Masyarakat barat, ahli sosiologi seni jerman yang membagi seni masyarakatnya menjadi 4 golongan yaitu ; 

1 Masyarakat seni budaya elit yang merupakan masyarakat yang mempunyai segi kerohanian manusia, termasuk intelektualitas. 

2 Masyarakat seni ini anggotanya meliputi kaum terpelajar ,hanya saja kebayakan menjujung tinggi nilai profesional. Mereka inilah para lulusan akademi militer, kaum medis, kaum teknokrat, kaum pengusaha dsb. otak mereka cerdas cara berpikir mereka logis, pengetahuan mereka cukup apresiatif. 

3 Nilai seni populer rata rata memiliki nilai baku yang konvesional, mempunyai nilai pengetahuan yang baku pula, dan logika dipentingkan. Jenis film mereka adalah produk Hollywood yang baku, tontonan mereka pertunjukan konvesional yang bermutu, bacaan mereka buku.

4 masyarakat seni massa adalah masyarakat campur-aduk yang rata-rata berpendidikan rendah atau menegah. Selera seni mereka dilayani oleh produk massa seperti radio, televise, kaset, video dan masyarakat seni .


LATAR SOSIAL SENI

Sebuah karya seni ada karena seorang seniman menciptakannya.dan seniman itu selalu berasal dan hidup dari masyarakat tertentu. Namun sebelum dirinya muncul sebagai seniman, dia sebagai anggota suatu masyarakat, belajar kehidupan dari masyarakatnya. Dia di didik oleh tata nilai masyarakat. Ia mengkondisikan dirinya dengan nilai-nilai masyarakat. Misalnya dia seorang sastrawan, dia juga harus mulai belajar berkesusastraan dari sastra masyarakatnya. Seperti di sebuah sanggar atau lembaga pendidikan seni rupa yang lain.seorang seniman biasanya memulai dengan mendidik dirinya dengan kehidupan zamannya dan tradisi kesenian masyarakatnya. atau dengan cara di kenalkannya dalam pendidikan sesuai di masyarakat.

Seniman tidak harus terikat pada perangkat nilai yang di masyarakatnya. Ia bahkan dapat mengubah nilai-nilai itu. Ia dapat mengenal nilai baru yang belum di kenal masyrakatnya, dasarnya tetap bertolak dari struktur nilai yang sudah ada. Seniman juga bisa bebas dari struktur, tetapi kebebasannya tetap demi baikan idealistik strukturnya. Setiap seniman dengan seninya tetap akan mencerminkan struktur sosialnya, dalam artian tolak dari sana dan barulah kemudian memainkan kebebasan eksistensinya sebagai seniman.

SENI SEBAGAI PRODUK MASYARAKAT

Seniman adalah makhluk yang peka dan keenam dalam mendeteksi ketidak beresan pratik hidup. Seni merupakan produk masyrakatnya adalah benar sepanjang dipahami bahwa karya seni jenis tertentu itu oleh masyarakat karena memenuhi fungsi seni dalam masyarakat tersebut. Itulah gambaran keinginan bersama masyarakat, nilai-nilai yang mereka setuju bersama, nilai-nilai yang diharapkannya. Jadi seni itu produk masyarakat, karena setiap masyarakat memiliki nilai-nilai kontesknya sendiri yang mendukung seni dalam fungsi tertentu.

MASYARAKAT SEBAGAI PRODUK SENI

Seni mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, bukan semata-mata fungsi kenikmatan, keindahan bentuknya, melainkan keindahan isinya. Tetapi lembaga seni adalah lembaga dalam lingkup spiritual atau kejiwaan manusia, dekat dengan lembaga agama dan filsafat. Seni dapat dinilai mengandung kritik masyarakat dan kritik manusia, juga mengandung propaganda. Di katakan berupa kritik masyarakat karena makhluk sosial yang selalu terlibat dengan manusia lain hidup sehari-harinya. Tugas seni adalah menyempurnakan manusia. Kesempurnaan ada di alam lain yang abadi, alam,ide. Seni mempengaruhi manusia secara spiritual, dan perubahan spiritual akan mempengaruhi perubahan tindakan. kalau tidak demikian mengapa seni selalu punya peminat di lingkungan umat manusia? Seni bukannya tanpa pamrih, setidak-tidaknya ditinjau dari isinya.

SENI DALAM KONTEKS MORAL

Moral hanyalah salah satu segi saja dari kehidupan ini. Satu-satunya moralitas yang dapat dituntut dari seniman adalah kejujurannya. Seorang seniman yang melakukan penipuan dalam karya seninya akan jelas runtuh namanya sebagai seorang seniman. Seniman yang tidak punya etika seni, bisa jadi moralitasnya seorang seniman benar-benar amburadul, tetapi selama dalam berkarya jujur pada dirinya, dia otentik, asli, maka itulah moralitasnya.

SENI DAN ILMU PENGATAHUAN

Seni menyangkut penghayatan dalam sebuah pengalaman estetis, seni menghasilkan sesuatu yang belum ada menjadi ada, pendekatan seni mengarahkan pandangannya kedalam lubuk batin manusia, di sudut-sudutnya yang tersembunyi dan rahasia. Sedangkan ilmu menyangkut masalah rasional, empiris terhadap suatau objek ilmu, ilmu selalu berdasarkan apa yang sudah ada.

Seorang seniman tidak bisa memperlakukan sebagaimana seorang ilmuwan memperlakukan ilmu. tanpa ilmu seni seorang penanggapan akan mampu mengahayati karya seni secara lama, terutama berdasarkan pengalamnya dalam menghayati karya seni. Padanya akan tumbuh suatu naluri yang peka dan penghayatan karya seni. Hanya saja klau diminta penjelasan sebuah karya seni itu istimewa nilainya ,dia tak mampu secara ilmiah

SENI POLITIK

Seni dan politik sungguh bertentangan secara diametral kalau dari sisi pencarian kebenaran. Kebenaran politik amat bersifat kontekstual dan sementara, sedangkan seni bersifat umum dan kekal. Kaum politikus harus mempunyai tingkat apresiasi seni baik. Seni diciptakan bukan demi kesenangan estetis saja, tetapi menguak rahasia eksitensi dan esensi manusia yang selalu merupakan sphinx penuh teka-teki.

PERNAK-PERNIK SEJARAH SENI

Karya seni yang mencerminkan jiwa zaman, dalam arti merekam system nilai budaya zamannya, biasanya hanya terdapat dalam karya seni yang ‘’biasa’’ atau bahkan seni kecil atau seni minor. Pernak-pernik seni sejarah seni berkaitan erat dengan budaya sezaman dan setempat dari suatu masyarakat bangsa. Setiap zaman memiliki system nilai seninya sendiri. Pernak-pernik sejarah seni juga menyangkut kajian tentang perubahan system nilai seni. Adanya inovansi dari para senimannya secara internal berdasarkan tradisi seninya sendri, atau adanya pengaruh luar eksternal, dapat menimbulkan perubahan sistem nilai mengisyaratkan adanya kreativitas seniman yang ikut menentukan masa depan.

SENI DAN JARAK IDEOLOGI

Pada akhirnya seni adalah sebuah pemikiran. Kenyataan yang berlangsung di lingkungan hidup seniman adalah kenyataan yang di landasi oleh ideologi sosial masyarakat. Seniman itu sendiri hidup dalam ideologi sosial tertentu. seni menerapkan ‘’jarak ideologi’’ dapat menilai, melihat segalanya secara objektif,untuk memberikan penilaian dengan pilihan bebas nilai dalam dunia seninya yang khas miliknya, baik secara berbentuk maupun seniman lebih dekat dengan dunia filsafat dan agama, daripada ilmu, sebab dunianya adalah dunia nail, bukan fakta.

Ideologi Estetika



Eagleton melihat secara kritis sejarah perkembangan wacana estetika dari kacamata Marxis. Berdasarkan Eagleton atas telaah historisnya pada fakta bahwa peralihan dari Abad Pertengahan ke masa Modern menandai peralihan sistem pembagian kerja kebudayaan. Apabila sejak era Klasik hingga Abad Pertengahan, seni selalu muncul bersama dengan sains dan politik, berbeda dengan era Modern. Sejak era Modern, seni, sains, dan politik ditangani sebagai tiga wilayah kerja berbeda dengan disiplin yang terdefinisikan dengan rapi.

Lahirnya disiplin estetika, antara lain di tangan Baumgarten, tidak dapat di pisahkan dari gelombang konsolidasi kelas borjuis dalam melawan dominasi kelas feodal. Kelas borjuis begitu menekankan kemerdekaan individual berhadapan dengan struktur sosial feodal. Inilah yang menjelaskan, selidik Eagleton, mengapa disiplin estetika dilahirkan sebagai sains tentang pengalaman konkrit-indrawi-individual sebagai sains tentang aisthesis.



Perkembangan estetika sebagai ilmu borjuis ini memuncak, menurut Eagleton, pada estetisisme. Dalam doktrin seni untuk seni, pembagian kerja kultural antara seni, sains dan politik di tarik ke konsekuensi terjauhnya: ranah artistik menjadi otonom dari ranah fakta dan ranah nilai-nilai seni tidak bertanggung jawab pada apapun kecuali dirinya sendiri. Namun, selidik Eagleton, otonomi seni ini diraih dengan jalan yang amat sini, Kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, kita melancarkan kritik atas estetika, sains dan politik sebab ketiganya diresapi oleh ideologi borjuis. Kedua, kita meneruskan pencaplokan estetis atas sains dan politik dengan mengedepankan perasaan subjektif atau sensasi individual dalam berbagai lini kebudayaan.

Seni Kontemporer



Prof. Bambang Sugiharto mengungkapkan bahwa Seni adalah binatang aneh yang akrab sekali dengan kita. Meskipun akrab dengan kita, seni tak segampang dimengerti dan dipahami. Produk kesenian yang mutakhir dan paling sulit dimengeti ialah saat kita tidak paham benda-benda apa atau laku macam apa yang muncul di panggug, di museum, di galeri, dll. Semakin canggih seni, semakin sulit pula ia dipahami. 

Kesenjangan seni pada perkembangannya di pahami dalam masyarakat dengan yang sudah sangat eksklusif. Masyarakat hanya menganggap seni pada umunya hanya persoalan "keindahan" atau "keterampilan". Itulah kekurangannya jika dibandigkan dengan perkembangan dunia, karena seni terlalu banyak dikaitkan dengan keindahan, jadi kecenderungan seni menjadi urusan hiburan atau kesenangan atau juga sekedar hiasan. 

Tetaapi sebenarnya dalam prespektif akademis, seni justru makin keluar dari kerangka-kerangka keindahan. seni menjadi makin tidak indah seni mutakhir bahkan cenderung buruk. misalnya pada seni yang memamerkan mayat-mayat atau darah sebagai kesenian atau lukisan abstrak yang sebenarnya tidak memiliki letak keindahan. Semakin berkembang seni, seringkali semakin tidak jelas keindahannya. Alhasil, orang sulit mendapat inspirasi dari seni. 

Seni dianggap penting, tetapi hanya sebagai keterampilan atau skill. Seni terkadang menggali persoalan manusia. Seni tidak memberi solusi atau memberi inspirasi atau kemungkinan melihat sesuatu secara nyata. Seni penting dalam hal melukiskan kompleksitas kehidupan, kedalaman-kedalaman persoalan bagaimana manusia memaknai hidupnya atau pengalamannya yang seringkali rumit. Seni menampilkan kerumitan cinta lalu melukiskannya. Bahkan persoalan-persoalan dibalik cinta diangkat oleh berbagai jenis seni dan menampilkan perasaan-perasaan dibalik itu. Yang dibicarakan oleh seni sesungguhnya adalah kebenaran eksistensi. Hidup ini dialami sebagai apa kenyataannya. Kebenaran hidup yang rumit atau yang kompleks itulah yang kemudian diekspresikan atau dihadirkan dalam seni.

Ideologi terkait dengan Seni menurut Wolff.

Wolff memandang ideologi sebagai gagasan dan kepercayaan seseorang yang secara sistematis dihubungkan dengan berbagai kondisi material dan kehidupan aktual manusia. Ia melihat adanya kaitan yang erat antara Ideologi dengan konteks budaya dan Ideologi dengan Seni. Menurutnya, Ideologi adalah bagian dari sebuah karya seni, ideologi bukan hanya permasalahan gagasan-gagasan, milai-nilai budaya dan juga kepercayaan tetapi penjelmaannya pada lembaga-lembaga budaya seperti sekolah, gereja, geleri seni, perundang-undangan, partai politik, dan pada artefak budaya misalnya lukisan, bangunan, dsb. Disitulah Wolff melihat bahwa seni merupakan bagian dari aktivitas produk ideologis.

Di dalam Marxisme, posisi Seniman ialah sosok produsen atau pengrajin yang dikontrol oleh kecenderung sosial dan sejarah. Seniman bukanlah sosok yang ideal atau sosok yang mempunyai kebebasan atau mempunyai ide kreatif. Kemudian posisi Karya Seni disini sebagai produk yang diciptakan dengan aspek politik, sosial, dan gagasan atau pemikiran serta kepentingan lainnya. Seni bergantung pada masyarakat karena ditentukan aspek sosial dan sejarahnya. Sedangkan Masyarakat sebagai para agen ideologi yang diekspresikan jiwanya atau kepercayaannya di dalam sebuah karya seni.

Max Weber dengan konsepnya "Rasionalisasi" merujuk pada pergolakan masyarakat modern yang terfokus pada beberapa aspek, yaitu: 

1. Afficiecy: Mendapatkan hasil yang maksimal dengan usaha yang minim.

2. Predictability: Prediksi-prediksi masa depan atau bentuk dan kejadian di masa depan.

3. Calculability: Terfokus pada data numerik misalnya statistik an angka-angka.

4. Dokumanization: Teknologi sebagai alat untuk mengontrol manusia.

Weber beranggapan, rasionalisasi mengarahkan perilaku manusia agar dipandu atau diatur oleh akal pikiran dan kepraktisan dan keguaan. bukan perilaku motivasi dari adat dan agama. Ia juga mengungkapkan agama itu simetris dengan estetika. Seni dikhianati kemudian mencoba berdiri sendiri karena dalam seni, bentuk adalah hal utama. Sedangkan dalam agama, mereka malah mengendarai bentuk dan menegaskan bahwa isi atau makna merupaan hal utama.

Estetik pada mulanya ditemukan dalam bentuk simetri. Sebelum semua aspek ada, terlebih dahulu harus membentuk secara simetri. Bentuk menurut Simmel menjadi penting dalam estetika. Pada masyarakat rasional (dewasa ini), bentuk estetika cenderung asimetris karena orang-orang modern cenderung melakukan aktifitas mengulang setiap harinya secara terus menerus, kemudian produk seni yang diciptakan adalah untuk memperliatkan sesuatu di luar dari keseharian itu. Sebaliknya, masyarakat irasional memiliki bentuk estetika yang cenderung simetris untuk memperlihatkan kehidupan yang aktual.

Durkheim mengemukakan pandangannya tentang Totem sebagai karya seni dengan adanya aktifitas kelompok kecil atau individu sendiri hingga aktifitas kelompok besar atau sebuah klan. Totem dianggap ebagai kekuatan eksternal yang kemudian diekpresikan dalam simbol yang sebenarnya merujuk pada religiuitas. Kekuatan yang tidak dapat dijelaskan itulah yang kemudian dijadikan objek konkret yang diambil bentuknya. Totem berfungsi sebagai simbol atau tanda yang membedakan satu orang dengan yang lain atau kelompok satu dengan kelompok lain. Totem juga digunakan sebagai alat komunikasi antar individu dalam suatu kelompok yang mengekspresikn nilai dan koral. Durkheim menjelaskan bagaimana totem adalah bagian dari suatu kreativitas dan juga alat komunikasi bagi individu dan kelompok. Totem juga sebagai pengungkap nama, identitas, dan lambang.

Salah satu contoh kesenian yang ada di Makassar ialah Kondobuleng. Kondobuleng adalah jenis teater tradisional yang mempunyai unsur vokal, gerak, dan musik. Kondobuleng lahir dari tradisi orang Bajo, masyarakat pantai yang tinggal dan menetap di wilayah Teluk Bone. Karena daerah itu adalah daerah pantai, mereka sering menemukan bangau putih di pantai dan ada pula nelayan-nelayan dalam cerita Kondouleng. Saat ini, pertunjukan Kondobuleng bisa kita temukan di Paropo Makassar tepatnya pada sanggar I Lologading. Masyarakat disana mengklaim bahwa mereka yang menjadi pewaris pertunjukan itu. 

Menurut kepala adatnya, pertunjukan Kondobuleng hanya bisa dipentaskan oleh orang mempunyai garis keturunan dengan mereka. Itulah mengapa, generasi mereka dilatih agar kelak dapat terus membawa Kondobuleng. Kondobuleng berasal dari bahasa Bugis dan Makassar terbentuk dari 2 kata yaitu Kondo yang berarti bangau atau sejenis burung berkaki, berleher, dan memiliki paruh panjang. 

Sedangkan Buleng yang berarti putih meskipun putih dalam Bahasa Makassar adalah Kebo' tetapi buleng artinya juga putih. Pertunjukan Kondobuleng yang dibawakan Sanggar I Lologading diceriakan dengan bentuk komedi dimana ada Bangau putih, para nelayan, dan pemburu. Sanggar I Lologading menggunakan bahasa Makassar dalam pertunjukannya yang juga menjadi pengental unsur komedinya. Sanggar I Lologading tidak mempunyai naska tertulis Kondobuleng karena pertunjukan ini turun temurun dan hanya dihafalkan oleh para pemain. Saat ini, beberapa seniman ada yang menceritakan ulang Kondobuleng degan menambahkan alur cerita tetapi tidak menghilangkan peran bangau putih, nelayan, dan pemburu.

06 July, 2017

Art And Craft



Howard S becker ialah sosok pemikir sosiologis yang kelahiran di amerika. Lahir pada 18 April 1928. Telah banyak memberikan kontribusi besar pada sosiologi penyimpangan, sosiologi seni, dan sosiologi musik. Ia adalah seorang pemikir seni yang mengkaji sebuah istilah untuk menggambarkan beberapa komponen penting yang membentuk seni rupa dunia, seperti konvensi-konvensi, struktur support, institusi-institusi, produksi, konsumsi, dan distribusi karya seni, atau dapat dikenal dengan sebutan “art world”.

Becker dalam bukunya yang berjudul Art World menjelaskan bahwa seni rupa sebagai sebuah aktivitas yang merupakan aktivitas kolektif masyarakatnya. Becker juga menggunakan konsepsi Marx mengenai pembagian kerja, hanya saja Becker memberikan pandangan mengenai konvensi dalam melihat seni. Bagi Becker, konvensi ini menyediakan titik temu antara kaum humanis dan para sosiolog. Sebagaimana gagasan Familier dalam sosiologi seperti norma, aturan, pemahaman bersama, kebiasaan Folkway. Semua gagasan-gagasan dan pemahaman itu merupakan hasil-hasil dari aktivitas kooperatif (becker 1982).

Becker juga menentang beberapa ide-ide yang diantaranya adalah ide dominan tentang seniman dalam masyarakat modern eropa dibayangkan sebagai pencipta atau seniman yang terisolasi, Memproduksi karya seni sebagai ekspresi dari keunikan dan visi estetik individual yang mana bentuknya sebagai basis dari nilai sebuah karya seni.

Perspektif becker perihal estetika terbentuk dari semua aktivitas manusia, melibatkan aktivitas gabungan sejumlah orang. Melalui kerjasama mereka, karya seni yang sering kali kita lihat atau di pertunjukkan merupakan suatu proses kerja seni yang selalu menunjukkan tanda-tanda kerjasama untuk mencapai karya seni yang Artistik.

Kelahiran seorang seniman disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan karya seni seperti patung dan lukisan-lukisan yang ditujukan pada gereja-geraja untuk kepentingan ibadah dan kerohanian, dibuktikan dari banyaknya jumlah lukisan yang terdapat di gereja-gereja pada zaman itu. Saat itu sudah masuk pada zaman renaissance ala sosiologi pada abad ke 14 - akhir abad ke - 17. Pada abad ini juga disebut dengan abad pemurnian atau kelahiran kembali. Pada abad ini semua pusat kegiatan itu terdapat pada gereja-gereja karena konsep yang berkembang adalah tentang ketuhanan. Ini di buktikan dari banyaknya jumlah gereja pada abad itu. Dan juga pada abad ini pusat dari kejadiannya itu bertempat di negara italia.

Istilah ART dan CRAFT atau ARTIST dan ARTISAN. ? Barangkali sudah ada yang mulai berfikir bahwa Craft yang dikenal saat ini adalah merek keju, Jadi yang di maksud dengan ART di sini adalah seseorang yang dapat disebut sebagai genius, spontanitas, dan juga kreatif. Sedangkan CRAFT adalah pengrajin. Craft bersifat kelompok maka disebut sebagai pengrajin, ARTIST dari istilah kata ART artinya Individu dan ARTISAN itu adalah kelompok. Pada abad Renaissance para pekerja seni itu disebut dengan CRAFT (ARTISAN), sebab mereka hanya sekumpulan orang yang membuat karya seni yang telah di fikirkan oleh si ART (ARTIST) tersebut. Itulah sebabnya ARTIST ini lebih di junjung tinggi dibandingkan si ARTISAN.

PIERRE BOURDIEU seorang tokoh sosiologi, antropologi, dan public intelektual. Bourdieu ingin menjadi seorang ahli filsafat namu tak terwujud. Bourdieu lahir pada tanggal 1 agustus 1930 di negara perancis, dan wafat pada tanggal 23 januari 2002. Beliau adalah seorang pemikir seni pula, tapi pada tulisan kali ini kita hanya akan membahas tentang seni itu adalah “SELERA”. Untuk menjelaskan tentang selera bekerja secara sosiologi itu membutuhkan rumusnya tersendiri “HABITUS x MODAL + ARENA = PRAKSIS”, menariknya membahas tentang seni itu menurut selera menurut Bourdieu. Pernah kah kalian berfikir bahwa bagaimana sebuah karya seni itu dapat berhasil ?, tokoh satu ini akan menjelaskan tentang bagaimana sebuah karya seni akan berhasil yaitu dengan cara sebuah karya seni dapat berhasil, ketika budaya yang dituangkan seniman kedalam karya seninya itu identik dengan “kompetensi artistik” penonton. Penonton dapat dijabarkan sebagai individu yang memiliki persepsi yang dijelaskan sebagai masyarakat. Tapi sebelum itu antara seniman dan penonton (masyarakat) harus memiliki pengetahuan tentang sejarah/ kebudayaan.

Dimana seniman membuat karya seni yang berbentuk kode-kode budaya dan memiliki makna dan penonton menemukan makna baru. Konsep ini adalah makna dari (perang memorial dalam komunikasi). Itupun penonton dibagi menjadi dua yaitu yang awam dan yang berintelek (berpendidikan). Jika orang awam hanya dengan melihat garis besarnya saja atau bentuk jadinya saja tanpa menilai, meninjau sampai kedalamnya. Berbeda dengan kaum berpendidikan yaitu dengan melihat latar belakang story dalam karya seni itu. Itu juga karena penonton memiliki pengetahuan tentang sejarah kebudayaan yang seniman gunakan dalam karya seninya, menurut Bourdieu, seni bisa terbentuk dari adanya perbedaan kelas ketimbang pengakuan atas standar kualitas. Dalam pandangan Bourdieu modal putusan estetis, murni dari kant merupakan cerminan dari produk masyarakat di barat (Eropa) yang dominan.

Menurut prior dimensi sosiologi ala Bourdieu adalah :

Seniman dan karya seni itu adalah produksi nyata yang diproduksi oleh pekerja kebudayaan dalam kondisi sejarah khusus.

Apa yang secara luas disebut “arena sosial” dimulai dari latar sosial karya seni diproduksi, museum, sekolah seni, kota, dan rangkaian seluruh latar sosial tersebut terkait kekuasaan “arena kekuasaan” dalam memproduksi karya tersebut.

Penonton memiliki seperangkat pengetahuan budaya dan modal ekonomi yang mengarahkan sikap mereka, kecenderungan artistiknya, ketubuhannya, dan kompetensi artistiknya-singkatnya habitus mereka.

Ketiga dimensi berfungsi dalam relasinya dengan yang lain. Untuk tujuan analisi kebudayaan, Bourdieu membedakan dimensi-dimensi tersebut. Bourdieu sangat menekankan tentang pengetahuan yang ketat dan diperoleh dari bangku pendidikan yang objektif (kritikus) tentang seni.

Menurut Jenkins Bourdieu tertarik dengan ide tentang perjuangan demi pengakuan sebagai salah satu bentuk dari fundamental kehidupan sosial. Sehingga yang dipertaruhkan adalah akumulasi modal, harga diri, reputasi dan prestise. Salah satu bentuk dari pengakuan adalah selera budaya. Cara selera budaya dimobilisasi dalam perjuangan, pengakuan dan status sosial.Status sosial meliputi praksis yang menekankan dan menunjukkan kehormatan dan perbedayaan budaya yang merupakan ciri krusial dari semua stratifikasi sosial… status bisa dikonsepkan dengan gaya hidup yang terkait dengan permasalahan selera. Status dan gaya hidup merupakan totalitas dari praktik kultural seperti pakaian, tuturan, kenampakan luar dan prilaku-prilaku. Sehingga mendapatkan pengakuan-pengakuan berupa status yang dibayangkan.

Bourdieu menawarkan beberapa strategi diantaranya ialah : Strategi pertama, tergantung pada volume dan komposisi modal yang akan diproduksi dan reproduksi. Strategi kedua, dalam instrument produksi dan reproduksi memalaui hokum waris, adat, pasar tenaga kerja, sistem pendidikan yang tergantung pada relasi kekuasaan antara kelas yang ada. Meski pada dasarnya Bourdieu menolak preferensi selera dari Kant, Bourdieu cenderung reduksionis. Dan tetap memaknai ruang selera sebagai ruang yang arbitrer. Karena pada dasarnya memang dia menolak resensialisme.


BOURDIEU

Persepsi Bourdieu tentang seni menurutnya ialah “selera”. Untuk menjelaskan selera bekerja secara sosiologi, itu membutuhkan rumusnya tersendiri.

Habitus x Modal + Arena = Praksis

Habitus : atau habitat/ latar belakang sosial.

Modal : kapital (uang)

Simbolis (jenjang pendidikan/ status sosial)

Arena : tempat ‘tidak tetap”

Praksis : kenyataan

Tapi keseluruhannya itu masih memiliki makna yang lain lagi menurut Bourdieu, itu karena dalam setiap tulisannya memiliki diksi yang sangat berat.

Dalam tulisannya “outline of a sosiological theori of art perseption”. Menjelaskan tentang bagaimana sebuah karya seni itu ditanggapi oleh masyarakat sesuai selera, misalnya : seniman membuat karya seni kemudian penonton (masyarakat) menilai dan menanggapi hasil dari seniman itu, tidak dengan cara yang dengan biasa, tetapi sipenonton dibagi menjadi dua yaitu, yang awam dan berintelek (berpendidikan). Jika orang awam hanya dengan melihat garis besarnya atau bentuk jadinya saja tanpa menilai/ meninjau sampai kedalamnya. Berbeda dengan kaum berpendidikan yaitu dengan melihat latar belakang/ stori dalam karya seni itu. Itu juga karena penonton memiliki pengetahuan tentang sejarah/ kebudayaan yang seniman gunakan dalam karya senuinya. Karena seniman membuat karya seni itu menggunakan kode-kode budaya yang memiliki makna dan penonton menangkap sebuah makna baru. Sehingga antara seniman dan penonton sama-sama memiliki equilibrium yang cukup. Konsep di atas adalah makna dari perang memorial dalam komunikasi. Equilibrium adalah pengetahuan tentang sejarah/ keseimbangan.

Bourdieu sangat menekankan tentang pengetahuan yang ketat dan diperoleh dari bangku pendidikan yang objektif (kritikus). Kompetensi artistik bisa sangat beragam, namun bourdieu memilih prestise (yang diagungkan) akademisi dan kelas sosial sebagai satu-satunya faktor penentu kemampuan seseorang untuk “memahami” seni. Bourdieu banyak membahas tentang masyarakat modern dan pendidikan. Bourdieu juga mengkritik teori estetika milik immanuel kant “kritikan judgement of taste “ immanuel kant (1724-1804).

Karya seni muncul untuk mengapresiasi suatu keadaan/ kondisi tertentu. Karya seni juga sebagai peristiwa dan memori menurut Bourdieu. Menurut Nick Prior sosiologi seni ala Bourdieu itu dibagi menjadi 3 hal yang saling terkait antara Dimensi, Bentuk, dan Lokasi Yaitu :

Seniman dan Karya Seni itu adalah produksi nyata yang diproduksi oleh pekerja kebudayaan dalam kondisi sejarah khusus.

apa yang secara luas disebut “arena sosial” dimulai dari latar sosial karya seni diproduksi, museum, sekolah seni, kota, dan rangkaian seluruh latar sosial tersebut terkait kekuasaan “arena kekuasaan” dalam memperoduksi karya tersebut.

penonton memiliki seperangkat pengetahuan budaya dan modal ekonomi yang mengarahkan sikap mereka, kecenderungan artistiknya, ketubuhannya dan kompetensi artistiknya-singkatnya habitus mereka.

Ketiga dimensi berfungsi dalam relasinya dengan yang lain. Untuk tujuan analisis kebudayaan, Bourdieu membedakan dimensi-dimensi tersebut.

Bourdieu juga membahas tentang hierarki, yaitu sesuatu yang selalu menunjukkan yang di atas dan di bawah atau tinggi dan rendah. Hierarki adalah kelas yang memisahkan antara tinggi dan rendah, baik dan buruk, dan lain-lain. Dan itu juga menentukan budaya yang tinggi dan rendah bagi kaum yang memiliki hierarki, menurut Bourdieu. Serta bagaimana sosial memandang hierarki yang tinggi dan rendah. Dan belum cukup sampai disitu Bourdieu membahas tentang hierarki dalam hierarki. Maksud dari hierarki dalam hierarki adalah perbedaan kelas dalam kelasnya sendiri hingga membentuk satu yang tertinggi dan terendah, itu mungkin saja menurut Bourdieu.

Menjelaskan kelas klasifikasi kebudayaan tinggi dan rendah, merupakan manifestasi dari realitas relasi kelas. Kebudayaan huruf besar diciptakan oleh karna adanya kekuasanaan dan kebudayaan huruf kecil adalah kenyataan yang dinikmati sekarang ini. Garis besar dari teori perspektif sosiologi Bourdieu ini adalah mengemukakan serangkaian pernyataan tentang cara terbaik untuk memahami hubungan antara kompetensi artistik dan stratifikasi.

02 March, 2017

SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU

Penulis : Seno Gumira Adji Darma



Alina tercinta,
 

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.

“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.


Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.



Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.


Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.


25 February, 2017

Kawanku dan Aku

Pengarang : Chairil Anwar


Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan

Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Siapa berkata-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga

Dia bertanya jam berapa?

Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti

04 February, 2017

Puisi Rahman Arge "Kita Tak Pernah Berhenti Pergi" #5

Kita Tak Pernah Berhenti Pergi

Selangkah, dua langkah, tiga, lalu tujuh
Aku menoleh ke bubungan rumahku
Ada angin, mengusap
Hatiku susut
Akankah aku harus berangkat meninggalkan
selimut kasihmu, ibu
Engkau berkata, lelaki harganya dalam pergi
Bila patah, patahlah!
Di perih garamnya samudera
Matahari tak kan pernah lengah
mengusir burung-burung nazar
mendekat pada nyawamu yang meregang
Karena engkau lelaki yang mati dalam pergi
Bila mati!
Tapi kita tak pernah berhenti pergi
Karena kita
Tak dipersiapkan untuk mati
Kita hidup!
Maka satukan
hidup pada mati dan mati pada hidup
Satukan nafas bumi
dengan panasnya darah
dengan dinginnya kesabaran
dan masa bodohnya keberanian

Bacakan:
“Baginda Ali di depanku!
Abubakar di kananku!
Sayidina Umar di kiriku!
Usman di belakangku!
Langit-bumi, dunia luar dunia dalam
Menghentak arasy
Barakka Lailahaa Illallah!
Barakka Kunfayakuun!
Haaaahhhhhh!!!”*

Bubungan rumah menjauh
Di cakrawala aku menangkap lintasan wajahku
Yang remuk bentuk
Karena telah aku iyakan
mencarinya dalam pergi 
Tak berhenti…

Makassar, 10 Juni 2000
* Orang Bugis membaca mantra

Puisi Rahman Arge "Semakin Memberi Semakin Penuh" #4

Semakin Memberi Semakin Penuh
Kenangan kepada Ibu di masa susah Jepang

Ketika kesengsaraan bagai semut hitam beriringan di
malam kelam, memasuki gubuk kami anak-beranak.
Ketika semua kami terlelap dalam tidur; padahal kami
terbaring lantaran hangatnya pelukan rasa tak berdaya
dalam lapar. Ibu kami menatap misteri malam tak memejam
mata, tak membaring tubuh; ibu bak singa yang
waspada… Ketika pagi tiba, seutas cincin emas
peninggalan ayah ibu lepas buat mengisi gentong beras
yang menganga bagai perut-perut kami yang kosong. Saat
beras ditanak; aneh terasa bangkit bulan di tengah
kelamnya gubuk. Dengan cerah pagi merayap
di bubungan…

Siang. Bau beras yang beranjak matang di dapur
ditingkah bau asap ikan-ikan terbang sekeras kayu
buangan dari gudang-gudang ransum serdadu Jepang
kami santap lahap bagai ular-ular menerkam tikus.
Seakan kami sedang menyantap daging dan hati ibu yang
tak lagi berair mata namun berdarah. Ibu belum juga
mengunyah apa-apa di saat seorang laki-laki tua menatap
kami lewat pintu gubuk. Ia jelas juga lapar tak
meminta lewat tangan tapi dari sisa-sisa sinar mata tua.
Ibu menghampirinya dan menyerahkan nasi dan ikan
jatahnya siang itu.

Semua kami menatap ibu dan ibu tahu kami sedang
bertanya: “Kenapa memberi di saat kita kekurangan?
Berapa malam lagi gentong beras bakal kosong dan
semua kita lapar lagi?” Ibu singa yang waspada itu
merapatkan hangat tubuhnya di antara kami, merangkul
pundak-pundak dan meraba ubun-ubun kami.
Diucapkannya kata: “Karena kalian bukan gentong
beras, anak-anakku, maka memberilah! Semakin kalian
memberi semakin kalian penuh…”

Telah lama ibu memenuhi panggilan Tuhan tapi ia masih
di sini; merapatkan hangat tubuhnya di usia-usia tua
nasib kami; memancing bulan ke dalam gubuk-gubuk
sederhana anak-cucu.

Di perkampungan buruh KPM, di mana kami dilahirkan dan dibesarkan, Makassar, 1975.

Puisi Rahman Arge "Nyanyian Anak Gunung" #3

Nyanyian Anak Gunung

Dari pucuk Lebong anak bukit Malino
Senja mengapung
Dapat kulihat punggung-punggung bangau
Terbang pulang dari sawah-sawah

Lihat, anak-anak sedang menari
Bersama halimun; dijemputnya
Para sahabat alam
Hinggap di sarang-sarang bambu
Berjingkrak-jingkrak anak-anak bernyanyi:

Kondo buleng, kondo buleng
Pangngekeanga bulaeng
Arrappopi asengku
Nakusareko sisikko…*

Ketika tamak orang-orang kota
Menusuk ke bukit-bukit
Punahlah hati bertaut
Bangau-bangau dan anak-anak

Malam turun di bukit Lebong
Halimun berarak arah ke timur
Menyisakan nyanyian
Yang berangsur menjadi
Isak tangis…

Bukit Lebong, Malino, 2007
* Nyanyian rakyat Gowa, terjemahan: “Bangau putih, bangau putih/Galikan buatku emas/Kelak padiku berbuah/Kuberi engkau seikat

Puisi Rahman Arge "Mate Nisantangi" #2

Mate Nisantangi

Punna Sallang banusomballami sarennu, anakku
Urangi
Inroirong pintuju pallunnu
Sollanna nasingara tallasaknu
Appaenteng kaburakneang
-          Buraknena buraknea
-          Pasollekna butta Mangkasara
Appasiama Tallasaka na – Matea!
Inakke!
Burakne…

Burakne cappa tallua:
-          Alusuk na tarang kana-kananna
-          Ammentenga rikalakbiranna bainea
-          Ammukbuka badik punna tenamo takammana

Napunna battumi kamateanga, anakku
Allei matea, mate nisantangi

Makassar, 7 Desember 1964

Puisi Rahman Arge #1

Mati Bersantan

Bila kelak engkau melayari nasibmu, anakku
Ingatlah,
Kelilingi tujuh kali dapurmu
Agar cahaya memancar dari hidupmu
Keagungan lelaki merengkuhmu

-          Lelaki dari segala lelaki
-          Peziarah tanah Makassar

Lelaki…
Lelaki dari tiga ujung:
-          Merendah tapi tajam kata-kata
-          Berdiri di kemuliaan perempuan
-          Yang mencabut badik jika tak ada lagi jalan

Maka jika kelak kematian hadir, anakku
Pilih mati,
Kematian bersantan*

----------
* Kematian bersantan = kematian yang mulia
Puisi ini merupakan terjemahan dari puisi berbahasa Makassar yang dibuat oleh penyair pada 7 Desember 1964. Berikut puisi itu:

03 February, 2017

Poems : Café Comedy

by Robert William Service

She

I'm waiting for the man I hope to wed.
I've never seen him - that's the funny part.
I promised I would wear a rose of red,
Pinned on my coat above my fluttered heart,
So that he'd know me - a precaution wise,
Because I wrote him I was twenty-three,
And Oh such heaps and heaps of silly lies. . .
So when we meet what will he think of me?

It's funny, but it has its sorry side;
I put an advert. in the evening Press:
"A lonely maiden fain would be a bride."
Oh it was shameless of me, I confess.
But I am thirty-nine and in despair,
Wanting a home and children ere too late,
And I forget I'm no more young and fair -
I'll hide my rose and run...No, no, I'll wait.

An hour has passed and I am waiting still.
I ought to feel relieved, but I'm so sad.
I would have liked to see him, just to thrill,
And sigh and say: "There goes my lovely lad!
My one romance!" Ah, Life's malign mishap!
"Garcon, a cafè creme." I'll stay till nine. . .
The cafè's empty, just an oldish chap
Who's sitting at the table next to mine. . .

He

I'm waiting for the girl I mean to wed.
She was to come at eight and now it's nine.
She'd pin upon her coat a rose of red,
And I would wear a marguerite in mine.
No sign of her I see...It's true my eyes
Need stronger glasses than the ones I wear,
But Oh I feel my heart would recognize
Her face without the rose - she is so fair.

Ah! what deceivers are we aging men!
What vanity keeps youthful hope aglow!
Poor girl! I sent a photo taken when
I was a student, twenty years ago.
(Hers is so Springlike, Oh so blossom sweet!)
How she will shudder when she sees me now!
I think I'd better hide that marguerite -
How can I age and ugliness avow?

She does not come. It's after nine o'clock.
What fools we fogeys are! I'll try to laugh;
(Garcon, you might bring me another bock)
Falling in love, just from a photograph.
Well, that's the end. I'll go home and forget,
Then realizing I am over ripe
I'll throw away this silly cigarette
And philosophically light my pipe.

* * * * *

The waiter brought the coffee and the beer,
And there they sat, so woe-begone a pair,
And seemed to think: "Why do we linger here?"
When suddenly they turned, to start and stare.
She spied a marguerite, he glimpsed a rose;
Their eyes were joined and in a flash they knew. . .
The sleepy waiter saw, when time to close,
The sweet romance of those deceiving two,
Whose lips were joined, their hearts, their future too.

Bedanya Poems dan Poetry

Petualangmakna, kali ini kami akan membahas perbedaan poem dan poetry. Ada yang tahu apa sih perbedaan dari kedua kata tersebut ? Kalau udah tahu, apakah sudah pernah menulisnya ? Apa yang ada dalam benak kita, mesti di tuliskan dalam bentuk poems atau poetry. Langsung saja kita bahas apa perbedaannya.  

Kalo diterjemahkan, poem dan poetry memang sama-sama berarti puisi atau sajak atau kata-kata indah yang merupakan buah pemikiran dari pencipta puisi. Tapi bedanya dengan poetry, poem merujuk pada satu karya puisi, sedangkan poetry merujuk pada kumpulan-kumpulan puisi.

Agar lebih mudah dimengerti, saya bakal bagi contohnya

Contoh penggunaan poem dalam kalimat:

Krawang Bekasi is a famous poem by Chairil Anwar

I’ve made a poem, would you like to read it?



Contoh penggunaan poetry dalam kalimat:

Chairil Anwar’s poems are a part of Indonesian poetry


Jadi bisa disimpulan perbedaan poem dan poetry itu adalah:

Poem itu merujuk pada satu karya puisi, sedangkan poetry adalah kumpulan-kumpulan puisi dari seorang pengarang puisi ataupun kumpulan puisi dari suatu masa (misalnya kumpulan puisi zaman pujangga baru)

Poem itu bentuk singular sedangkan poetry bentuk plural

Poem adalah bagian dari poetry

Poem adalah pekerjaan kesusastraan, sedangkan poetry adalah bentuk seni dari pekerjaan kesusastraan tersebut


Poem tidak mesti harus tertulis, ketika kita memikirkan kata-kata indah lalu mengucapkannya, itu sudah bisa disebut sebagai poem, sedangkan poetry tidak demikian, harus di tuliskan.