Recent

Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

12 February, 2016

Ulasan Buku: Sang Politisi Menerobos Kegelapan


Judul Buku                                             :
Sang Politisi Menerobos Kegelapan (Autobiografi Ketua Muhammadiyah Sulsel 1966-1968).
Penulis Buku                                       :  Abdul Wahab Radjab
Penerbit dan Kota Penerbit            :
Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel dan Penerbit Nunmedia, Yogyakarta
Tahun dan  Jumlah Halaman      : 2015, x + 268 Halaman
No. ISBN                                              :   9-786 027-328 648
Silahkan Pesan Hubungi                 : 08994872777
Buku ini terdiri dari 44 tulisan yang dirangkai secara kronologis oleh Abdul Wahab Radjab. Mengisahkan perjuangan hidupnya sejak lahir di sebuah kampung yang sepi nan terpencil di ujung utara Desa Mandalle. Nama kampung itu adalah Ballatabbua. Dusun ini termasuk dalam lingkungan Desa Mandalle, Distrik Limbung, Onderafdeling Gowa. Wahab Radjab mendeskripsikan bahwa kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohan adalah kenyataan yang dihadapi di dusun itu. Wajah-wajah cerah gembira hanya bertahan sebulan atau dua bulan sesudah panen.
Ia melukiskan kemiskinan di era penjajahan Belanda tersebut, “laki-laki, pada umumnya, hanya pakai baju bila akan pergi meninggalkan desa ke dusun lain. Selama di dusunnya sendiri, cukup menggunakan celana kolor yang tebal dan tambal sulam serta kain sarung yang juga demikian. Anak laki-laki sampai umur enam atau tujuh tahun masih saja telanjang. Perempuannya yang berumur empat atau lima tahun pun demikian. Paling-paling, pakai jempang, alat dari perak atau tembaga, sekadar menutup alat vitalnya.”
Autobiografi ini banyak memuat kisah human interest perjuangan Wahab Radjab dalam menempuh pendidikan. Semangat untuk sekolah, pertama kali ditanamkan oleh ibunya. Ungkapan “Mau jadi apa kalau tidak sekolah?” atau “Engkau nanti dibodohi dan diperjualbelikan orang, mesti pergi sekolah”, sering dilontarkan oleh sang ibu. Ujian kebulatan tekadnya dimulai ketika mengikuti “sekolah sambungan” di Vervolgschool (Vvs) Limbung yang harus ditempuhnya dengan berjalan kaki sejauh 7 km setiap hari. Untunglah, ada gurunya di Limbung yang berkenan menampungnya. Setelah tamat dari Vervolgschool (Vvs)Limbung, ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Wustha Muhammadiyah di Jongaya, Kabupaten Gowa (sekarang masuk wilayah Kota Makassar). Disana pun ia mesti menumpang pada rumah Imam Tua Jongaya, H. Abd. Samad Puang Salle.
Sayangnya, baru dua tahun belajar di Madrasah itu, Jepang mendarat dan mengambil alih pemerintahan dari tangan Belanda. Jepang kemudian memberlakukan kebijakan “menutup semua sekolah formal.” Kebijakan inilah yang menyebabkan Madrasah Wustha Muhammadiyah, tempat Wahab Radjab belajar terpaksa ditutup. Setelah pemerintah Jepang membuka “Sekolah Menengah Islam” (Kaikyo Gakuin Cui-Tobu), ia kembali melanjutkan pendidikannya.
Buku ini menuturkan betapa beratnya penderitaan akibat penjajahan Jepang yang singkat itu. Misalnya ada kewajiban seikeree (menghormati dengan membungkukkan badan) pada tempat-tempat tertentu, apalagi bila di tempat itu ada kesatuan-kesatuan Jepang. Bila terlambat seikeree atau salah, maka dengan bengisnya serdadu Jepang akan mengatakan “bagero!” dan diiringi dengan menempeleng kiri-kanan orang tersebut, atau di pukuli dengan gagang senapan.
Penderitaan yang lebih berat, rakyat Indonesia harus mencincang bongkol pisang untuk sekadar pengganjal perut. Bahkan, untuk membawa beras tiga liter saja dari satu kampung ke kampung lain, harus ada surat izin. Badan-badan pengumpul produksi pangan rakyat dibentuk sampai ke desa-desa. Kepada merekalah padi, jagung, umbi-umbian, dan kacang-kacangan disetor dan dibeli dengan harga tak wajar, atau sering sekali tidak dibayar dengan slogan penghibur “Untuk kemenangan Asia Timur Raya”. Gula pasir bagaikan emas karena langka dan sulit didapatkan. Rata-rata rumah di pedesaan tidak berpelita lagi, karena tidak ada minyak tanah. Sejak Magrib sampai terbit matahari, penghuninya bergelut dengan kegelapan.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, dan Negara Republik Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta  pada tanggal 17 Agustus 1945, Wahab Rajab sempat bergabung menjadi  anggota  Kelaskaran Pemuda untuk mempertahankan kemerdekaan. Dalam perjuangan melawan kembalinya penjajah itulah, yang membuatnya ditangkap oleh Belanda selama tujuh bulan (Februari – Agustus 1947).
 Terjun Berpolitik
Setelah lepas dari penjara, perjuangan fisik telah usai. Wahab Rajab pun menerjunkan diri dalam organisasi keagamaan, yakni Persyarikatan Muhammadiyah. Disinilah karier politiknya bermula. Ketika Muhammadiyah memelopori lahirnya Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Wahab Radjab terlibat sebagai aktivis partai tersebut. Ia pernah tercatat sebagai Sekretaris Masyumi Makassar (1950), dan Sekretaris Masyumi Sulawesi Selatan pada tahun 1960. Sejak itulah, Wahab Rajab menjadi politisi dan memiliki pengalaman yang cukup lengkap. Ia pernah menjadi legislator di semua tingkatan legislatif, mulai dari kota, provinsi, sampai ke tingkat pusat.
Pada Pemilu tahun 1955, ia berhasil duduk di DPRD Kota Praja Makassar dari Partai Masyumi. Jumlah anggota DPRD Masyumi kala itu adalah 11 orang, dari total 25 orang Anggota DPRD. Selama di DPRD, ia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pemerintah Daerah (DPD). Sistem pemerintahan daerah waktu itu, memosisikan DPRD sebagai lembaga legislatif  (perwakilan rakyat), dan juga berperan sebagai DPD. Saat itu, Pemerintah Daerah ialah Kepala Daerah (Walikota) bersama dengan DPD, yang terdiri dari 5 orang. Anggota-anggota DPD tersebut berasal dan dipilih oleh anggota DPRD. Kepala Daerah berfungsi sebagai wakil Pemerintah Pusat, dan  sebagai Ketua DPD.
Ketika menjadi Anggota DPD inilah, seorang pengusaha keturunan Tionghoa pernah berkunjung ke rumahnya. Pengusaha tersebut mengajukan permohonan proyek, disertai dengan amplop berisi uang yang bertuliskan, “untuk anak-anak di rumah”. Wahab Radjab meminta sang pengusaha mengambil kembali amplop tersebut, namun tak digubris. Oleh karena itu, amplop tersebut dilemparkannya ke wajah sang pengusaha, dan memintanya untuk keluar. Bagi Wahab Radjab, selain pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, ia pun merasa malu jika harus diadili “Rapat Pengadilan Partai” Masyumi.
Selain itu, Wahab Radjab juga pernah didapuk sebagai Ketua DPRD Kota Praja Kota Makassar. Baru setahun ia menduduki posisi tersebut, di tingkat pusat terjadi kegaduhan politik dengan kebijakan Soekarno yang akan menerapkan demokrasi terpimpin. Reaksi terhadap ide ini timbul di mana-mana. Fraksi Masyumi dalam DPRD Kota Besar Makassar pun menentukan sikap: “Secara bersama-sama, anggota-anggota Fraksi Masyumi dalam DPRD Kota Besar Makasar meninggalkan DPRD Kota Besar Makasar, sebagai protes terhadap diterapkannya Nasakom dan dilaksanakannya Demokrasi Terpimpin.” Maka terhitung sejak 6 Agustus 1960, Abdul Wahab Radjab pun berhenti sebagai Ketua/Pimpinan DPRD Kota Makasar.
Setelah mundur dari DPRD Makassar, Wahab Radjab sempat membantu perusahaan Fadeli Luran (CV Dakota), menjadi Direksi di Bank Pembangunan Sulawesi, dan memimpin apotik Rumah Sakit Bersalin Siti Khadijah. Selain itu, sejak tahun 1963, ia telah masuk menjadi pengurus Pimpinan Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra). Kiprahnya dalam pembinaan daerah-daerah, membuatnya terpilih sebagai Ketua Muhammadiyah Sulselra, pada Musywil Muhammadiyah di Watampone, tahun 1966.
Proses peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, juga turut menyedot perhatian Muhammadiyah. Muhammadiyah dan ortom-ortomnya, banyak terlibat dalam upaya penumpasan PKI kala itu. Setelah Soeharto berkuasa, Muhammadiyah pun ketiban “jatah politik”, dan berubah status menjadi Ormaspol (Organisasi Kemasyarakatan dan Politik). Di setiap tingkatan legislatif, mulai dari DPRD Kota, DPRD Provinsi, dan DPR-GR, Muhammadiyah diberi jatah kursi.
Abdul Wahab Radjab diberi mandat oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menjadi anggota DPR-GR hingga Pemilu 1971. Selama menjalani tugas tersebut, ia tinggal di Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62. Pada masa itu pula, Wahab Radjab ditunjuk sebagai Sekretaris Majelis Hikmah PP Muhammadiyah.
Setelah kegagalan tokoh-tokoh Masyumi merehabilitasi partai tersebut di awal masa Orde Baru, maka Muhammadiyah bersama sejumlah ormas Islam lainnya menginisiasi lahirnya Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Wahab Radjab pun diberi mandat untuk membentuk partai tersebut di Sulawesi Selatan. Pada Pemilu 1971, ia terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan mewakili Parmusi. Disitu ia dipercaya sebagai Ketua Komisi D, yang membidangi agama, pendidikan dan kesejahteraan sosial. Pada masa inilah terjadi fusi Parmusi dengan partai Islam lainnya kedalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Pada Pemilu 1977, Wahab Radjab terpilih menjadi anggota DPR/MPR-RI melalui PPP. Berhubung sifat kritisnya selama menjadi anggota DPR, pada Pemilu 1982, ia tidak lagi ditempatkan pada “nomor urut jadi”. Maka berakhir pulalah karier politiknya di DPR-RI sejak tahun 1982. Setelah masa baktinya berakhir di DPR/MPR RI tahun 1982, Wahab Rajab kembali ke Makassar dan mengaktifkan diri di “rumah ibu” Muhammadiyah. Kisah dalam buku ini pun berakhir, ketika ia menerima amanah sebagai Penasihat PW Muhammadiyah Sulsel 1990-1995.
Sepak terjang Wahab Radjab dalam melawan kebodohan dengan sekolah, melawan penjajahan secara fisik, berpolitik untuk menyejahterakan masyarakat, menolak suap, dan bersikap kritis terhadap peneyelanggaraan pemerintahan, membuat editor buku ini memilih judul “Sang Politisi Menerobos Kegelapan”. Karya ini penting dibaca oleh politisi yang berlatarbelakang Muhammadiyah, maupun oleh khalayak yang tertarik untuk membaca “petite histoire” (sejarah kecil) Indonesia dari sudut pandang seorang mantan Ketua Muhammadiyah Sulsel. Pembaca akan ikut merasakan suasana penjajahan Belanda dan Jepang, hingga potret situasi politik di era Orde Lama dan Orde Baru. Selamat Membaca! (Hadi)

06 August, 2013

Biografi Singkat Buya Ahmad Syafii Maarif

Prof. Dr. KH. Ahmad Syafii Maarif
Prof. Dr. KH. Ahmad Syafii Maarif
Profil 

Prof. Dr. KH. Ahmad Syafii Maarif (lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935; umur 78 tahun) adalah seorang ulama, ilmuwan dan pendidik Indonesia. Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute, dan juga dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai "Bapak Bangsa". Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Kehidupan
Kehidupan awal Ahmad Syafii Maarif lahir di Minangkabau, Sumatera pada 31 Mei 1935. Ia bersaudara dengan 15 orang yang seayah berlain ibu. Ia lahir dari pasangan Ma'rifah Rauf dan Fathiyah.Ayahnya dikenal sebagai saudagar gambir yang belakangan diangkat sebagai kepala suku di kaummnya.Namun, sewaktu Syafii berusia satu setengah tahun, ibunya meninggal. Sesuai dengan adat yang berlaku di Minangkabau, Syafii kemudian dititipkan oleh ayahnya ke rumah bibinya yang bernama Bainah.

Pada tahun 1942, ia dimasukkan ke sekolah rakyat (SR, setingkat SD) di Sumpur Kudus. Sepulang sekolah, Pi'i, panggilan akrabnya semasa kecil, belajar agama ke sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah pada sore hari dan malamnya belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal, sebagaimana umumnya anak laki-laki di Minangkabau pada masa itu. Pendidikannya di SR, yang harusnya ia tempuh selama enam tahun, dapat ia selesaikan selama lima tahun. 


Ia tamat dari SR pada tahun 1947, tetapi tidak memperoleh ijazah karena pada masa itu terjadi perang revolusi kemerdekaan. Namun, setelah tamat, karena beban ekonomi yang ditanggung ayahnya, ia tidak dapat meneruskan sekolahnya selama beberapa tahun. Baru pada tahun 1950, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau sampai duduk di bangku kelas tiga.

Merantau ke Jawa

Pada tahun 1953, dalam usia 18 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya untuk merantau ke Jawa. Bersama dua adik sepupunya, yakni Azra'i dan Suward, ia diajak belajar ke Yogyakarta oleh M. Sanusi Latief. Namun, sesampai di Yogyakarta, niatnya semula untuk meneruskan sekolahnya ke Madrasah Muallimin di kota itu tidak terwujud, karena pihak sekolah menolak menerimanya di kelas empat dengan alasan kelas sudah penuh. 


Tidak lama setelah itu, ia justru diangkat menjadi guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di sekolah tersebut tetapi tidak lama. Pada saat bersamaan, ia bersama Azra'i mengikuti sekolah montir sampai akhirnya lulus setelah beberapa bulan belajar. Setelah itu, ia kembali mendaftar ke Muallimin dan akhirnya ia diterima tetapi ia harus mengulang kuartal terakhir kelas tiga. Selama belajar di sekolah tersebut, ia aktif dalam organiasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar, sebuah majalah pelajar Muallimin di Yogyakarta.

Setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955, kemudian ia tamat dari Muallimin pada 12 Juli 1956, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, terutama karena masalah biaya. Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru. Sesampai di Lombok Timur, ia disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat, lalu menuju sebuah kampung di Pohgading tempat ia ditugaskan sebagai guru. 


Setelah setahun lamanya mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pohgading, sekitar bulan Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya, kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Surakarta. Sesampai di Surakarta, ia masuk ke Universitas Cokroaminoto dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat doktoral pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968. 

Selama kuliah, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Ia pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958. Setelah kurang lebih setahun bekerja sebagai pelayan toko, ia membuka dagang kecil-kecilan bersama temannya, kemudian sempat menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo. Selain itu, ia juga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia.


Karier

Selanjutnya bekas aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini, terus meneruskan menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi : Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.

Selama di Chicago inilah, anak bungsu dari empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Penulis Damiem Demantra membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi'i Maarif, yang berjudul 'Si Anak Kampung'. Novel ini telah difilmkan dan meraih penghargaan pada America International Film Festival (AIFF).


Syafi’i Ma’arif
Aktivitas

Setelah meninggalkan posisnya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, kini ia aktif dalam komunitas Maarif Institute. Di samping itu, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit antara lain berjudul : Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak?, kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985. Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Syafii mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.


Karya tulis

  1. Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, Yayasan FKIS-IKIP, Yogyakarta, 1975 
  2. Dinamika Islam, Shalahuddin Press, 1984 
  3. Islam, Mengapa Tidak?, Shalahuddin Press, 1984 
  4. Percik-percik Pemikiran Iqbal, Shalahuddin Press, 1984 
  5. Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985


Dari berbagai sumber yang ada, Seperti Google, Wikipedia, dan lain-lain. 

05 August, 2013

Biografi Singkat Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer adalah sosok orang yang sangat di kenal di seluruh Indonesia, beliau adalah seorang Sastrawan di Indonesia. Selain dari itu beliau juga di kenal sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Masa Kecil

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pasca kemerdekaan Indonesia

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.

Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Penahanan dan masa setelahnya

Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan. 13 Oktober 1965 - Juli 1969 Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan
Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru November - 21 Desember 1979 di Magelang

Pramoedya bersama rekan-rekan saat sedang melakukan kerja paksa di pulau Buru. Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.


Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir.

Kontroversi


Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.

Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis. Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.

Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.

Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.

Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'.

Masa tua


Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.

Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Berpulang


Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.

Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.

Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.

Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram. 

Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya. Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.

Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram. 

Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.

Penghargaan

  1. Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988
  2. Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989
  3. Wertheim Award, "for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people", dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995
  4. Ramon Magsaysay Award, "for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people", dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
  5. UNESCO Madanjeet Singh Prize, "in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence" dari UNESCO, Perancis, 1996
  6. Doctor of Humane Letters, "in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom" dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999
  7. Chancellor's distinguished Honor Award, "for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding", dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999
  8. Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999
  9. New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000
  10. Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000
  11. The Norwegian Authors Union, 2004
  12. Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004






Biografi Singkat Iwan Fals

Iwan Fals Saat Muda
Iwan Fals Saat Muda
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Selama di Jeddah itu, Iwan Fals selalu menyanyikan dua lagu utnuk hiburannya, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Bicara tentang perjalanan karir musiknya, Iwan Fals mengaku semua dimulai ketika ia aktif ngamen di Bandung saat masih berumur berumur 13 tahun atau masih duduk di bangku SMP. Iwan Fals belajar memainkan gitar dari teman-teman nongkrong. Setiap kali teman-temannya bermain gitar dan memainkan lagu-lagu Rolling Stones, Iwan Fals suka memperhatikan hingga akhirnya ia nekat memainkan gitar itu namun sayang ia malah memutuskan salah satu senar hingga dimarahi teman-temannya. Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatan seorang Iwan Fals. dengan memutuskan senar gitar temannya ada niat Iwan Fals membeli gitar sendiri.

Untuk menarik perhatian teman-temannya, Iwan Fals membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temannya tetawa mendengarkan lagu-lagu yang ia bawakan. Setelah merasa mampu membuat lagu sendiri, apalagi bisa membuat orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar lebih banyak. Iwan Fals pun suka mengisi acaraa hajatan, kimpoian, atau sunatan. Dulu Iwan Fals memilki manajer bernama Engkos, seorang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan. Karena itulah Iwan Fals un mulai sering tampil di acara-acara.

Ketika di SMP 5 Bandung, Iwan Fals juga menjadi gitaris kelompok paduan suara sekolah. Suatu ketika, seorang guru menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, Iwan Fals menawarkan diri. Maka jadilah ia pemain gitar di paduan suara sekolahnya.

Banyak yang bertanya tentang asal nama Fals yang ia gunakan. Nama itu ternyata didapat sewaktu dalam perjanan dari Jeddah kembali ke Jakarta. Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji, di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, Iwan hanya menenteng gitar kesayangannya. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat, membuat seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiri Iwan dan meminjam gitarnya. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Suara gitar milik Iwan terdengar fals. Setelah membetulkan steman nada gitar, pramugari itu lalu mengajari Iwan memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan. Peristiwa itulah yang menginspirasi Iwan menambahkan Fals di belakang namanya hingga kini terkenal dengan panggilan Iwan Fals.

Karir bermusik Iwan Fals makin terbentuk saat ada orang datang ke Bandung dari Jakarta yang mengenal produser musik. Waktu itu Iwan Fals baru sadar kalau ternyata lagu-lagu yang ia ciptakan sudah terkenal di Jakarta. Jauh sebelumnya, Iwan Fals pernah rekaman di Radio 8 EH dan lagunya sering diputar di radio itu hingga akhirnya radio itu kena bredel oleh Pemerintah. Waktu itu Iwan Fals masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Setelah mendapat juara di festival musik country, Iwan Fals ikut festival lagu humor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan.

Akhirnya Iwan Fals melakukan rekaman di Musica Studio. Musiknya mulai digarap lebih serius. Setelah itu, lahirlah album bertajuk arjana Muda, yang musiknya ditangani Willy Soemantri dan mendapat respon luar biasa. Namun, Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia. Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.


Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Berikut Beberapa Album Ciptaan Iwan Fals.: 


Canda Dalam Nada (1979), Canda Dalam Ronda (1979), Perjalanan (1979), 3 Bulan (1980), Sarjana Muda (1981), Opini (1982), Sumbang (1983), Barang Antik (1984), Sugali (1984), KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) (1985), Sore Tugu Pancoran (1985), Aku Sayang Kamu (1986), Ethiopia (1986), Lancar (1987), Wakil Rakyat (1988), 1910 (1988), Antara Aku, Kau Dan Bekas Pacarmu (1988), Mata Dewa (1989), Swami I (1989), Kantata Takwa (1990), Cikal (1991), Swami II (1991), Belum Ada Judul (1992), Hijau (1992), Dalbo (1993), Anak Wayang (1994), Orang Gila (1994), Lagu Pemanjat (bersama Trahlor) (1996), Kantata Samsara (1998), Best Of The Best (2000), Suara Hati (2002), In Collaboration with (2003), Manusia Setengah Dewa (2004), Iwan Fals in Love (2005), 50:50 (2007), Untukmu Terkasih (2009) - mini album, Keseimbangan - Iwan Fals (2010), Tergila-gila (2011).