Recent

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

01 February, 2017

A Song Of Life

by Ella Wheeler Wilcox

In the rapture of life and of living,
I lift up my head and rejoice,
And I thank the great Giver for giving
The soul of my gladness a voice.
In the glow of the glorious weather,
In the sweet-scented, sensuous air,
My burdens seem light as a feather
They are nothing to bear.


In the strength and the glory of power,
In the pride and the pleasure of wealth
(For who dares dispute me my dower
Of talents and youth-time and health?) ,
I can laugh at the world and its sages
I am greater than seers who are sad,
For he is most wise in all ages
Who knows how to be glad.

I lift up my eyes to Apollo,
The god of the beautiful days,
And my spirit soars off like a swallow,
And is lost in the light of its rays.
Are tou troubled and sad? I beseech you
Come out of the shadows of strife
Come out in the sun while I teach you
The secret of life.

Come out of the world – come above it
Up over its crosses and graves,
Though the green earth is fair and I love it,
We must love it as masters, not slaves.
Come up where the dust never risesBut only the perfume of flowersAnd your life shall be glad with surprisesOf beautiful hours.Come up where the rare golden wine isApollo distills in my sight,And your life shall be happy as mine is,
And as full of delight.

30 January, 2017

Puisi Asrul Sani #2

Judul Elang Laut 

Ada elang laut terbang
senja hari
antara jingga dan merah
surya hendak turun,
pergi ke sarangnya.


Apakah ia tahu juga,
bahwa panggilan cinta
ada ditahan kabut
yang menguap pagi hari?


Bunyinya menguak suram
lambat-lambat
mendekat, ke atas runjam
karang putih,
makin nyata.


Sekali ini jemu dan keringat
tiada akan punya daya
tapi topan tiada mau
dan mengembus ke alam luas.


Jatuh elang laut
ke air biru, tenggelam
dan tiada timbul lagi


Rumahnya di gunung kelabu
akan terus sunyi,
Satu-satu akan jatuh membangkai
ke bumi, bayi-bayi kecil tiada
bersuara.


Hanya anjing,
malam hari meraung menyalak bulan
yang melengkung sunyi.
Suaranya melandai
turun ke pantai
Jika segala
senyap pula,
berkata pemukat tua:
“Anjing meratapi orang mati!”


Elang laut telah
hilang ke lunas kelam
topan tiada bertanya
hendak ke mana dia.
Dan makhluk kecil
yang membangkai di bawah
pohon eru, tiada pula akan
berkata:
“Ibu kami tiada pulang.”

03 January, 2016

Sejarah La Galigo

 
Potoh Colliq Pujie penyalin 12 Naskah

La Galigo adalah sebuah karya sastra yang terbentang sepanjang zaman. Epos yang panjangnya melebihi Mahabharata ini berisi kisah di abad lalu, yang sempat menjadi kepercayaan di antara masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sayangnya, gerakan pemurnian ajaran agama, prasangka dan pula modernisasi telah bersekutu menggempur “kesaktian” warisan budaya ini. Akibatnya, karya sastra ini kini hanya dikenal di kalangan akademisi. Padahal, La Galigo memiliki kekuatan yang mengejutkan. Sebuah hajat besar bulan Maret lalu digelar di Kabupaten Barru untuk menghidupkan kembali roh Sureq Galigo.

La Galigo
 

Syahdan, pada abad ke-15, dunia telah mengenal La Galigo. Bahkan 300 ribu larik epik itu konon sudah lahir ketika abad Masehi baru mencium bumi. Sungguh tua, sungguh panjang usia kisah yang pernah menjadi bagian dalam kehidupan suku Bugis ini. Inilah epos yang konon terpanjang di seluruh dunia. Jumlah ini jauh lebih gemuk ketimbang 
epos agung Mahabharata, yang terdiri dari 150 ribu-200 ribu baris, atau Iliad dan Odyssey yang “hanya” terdiri dari 16 ribu baris. Karena itulah, bulan Maret silam, puluhan peneliti dan pakar internasional bertemu di Barru, Sulawesi Selatan, untuk mendiskusikan karya sastra mahapanjang yang istimewa ini.

Di Barru, tempat waktu berjalan merayap, Sureq Galigo diperkenalkan kembali pada publik. Istilah pengenalan kembali memang ironis. Sureq Galigo yang usianya sudah berabad-abad itu di masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan rakyat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis. Namun, fakta di lapangan, karya sastra ini sudah mulai dilupakan.

Maka, selama Festival La Galigo itu, Desa Pancana sejenak berubah wajah. Desa yang terletak di pinggir pantai Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, yang biasa disiram aroma amis ikan laut, pada Maret silam dikunjungi ribuan orang dari berbagai kawasan yang memenuhi lorong-lorong kampung. Jalan masuk yang membelah tambak di desa itu malah macet gara-gara banyaknya mobil yang parkir. Hiburan macam ini memang jarang ditemui.

Tapi tidak semuanya senang dengan hiruk-pikuk ini. Hajjah Siti Ara, 42 tahun, pedagang obat di Pasar Sentral Barru, terang-terangan mengaku kecewa. Ia datang ke festival dengan harapan bisa menyimak Masureq, pembacaan La Galigo atau Sureq Galigo (penamaan ini untuk membedakan dengan nama tokoh I La Galigo) yang khidmat da menghanyutkan. Harapannya meleset karena situasi festival mirip pasar malam yang sesak dengan pedagang. Siti, yang semasa sekolah menengah pernah main drama dengan tema La Galigo, juga menyesalkan banyaknya atraksi kesenian yang tak ada hubungan dengan tema festival.

Jadi, apa sesungguhnya yang membuat La Galigo begitu istimewa? Dan, bagaimana karya itu bisa sedemikian panjang? Ia membentangkan dongeng tentang tujuh generasi. Ini berbeda dengan cerita rakyat dari daerah lain di Indonesia, yang umumnya berbentuk banjaran (kisah satu tokoh dari lahir sampai meninggal). Cerita kolosal ini juga terlihat dengan 1.000 tokoh penting yang menghuni episode-episodenya. Christian Pelras, ilmuwan asal Prancis, sempat membuat 672 kartu nama tokoh-tokoh Sureq Galigo.

Tentu, bukan ini saja yang menjadikan Galigo unik. Campbell Macknight, guru besar emeritus antropologi di Universitas Nasional Australia di Canberra, menyebut Galigo adalah pencapaian kultural yang signifikan. Faktanya, materi teks Galigo paling banyak dielaborasi dalam pelbagai versi dalam bahasa Bugis.

La Galigo menyebar dengan dua cara: tradisi lisan dan tulis. Tradisi pertama dikenal oleh hampir semua etnik di Sulawesi, bahkan sebagian Kalimantan dan Semenanjung Melayu. Adapun yang kedua praktis hanya dilakukan oleh masyarakat Bugis. Sebagai satu karya, La Galigo punya konvensi bahasa (yaitu bahasa Galigo yang untuk mudahnya bisa disebut juga bahasa Bugis Kuno), sastra, metrum (guru lagu dan guru wilangan), dan alur. Misalnya, satu bait pasti terdiri dari lima baris dan nama tokohnya pasti terdiri dari lima suku kata: Sawerigading, I La Galigo, I We Cudaiq, dan seterusnya.

Galigo diperkirakan lahir pada abad-abad awal Masehi. Sampai abad ke-15, penyebarannya masih lisan, dengan bahasa yang masuk rumpun Austronesia (yang digunakan hingga Kepulauan Fiji). Bukti yang mendukung adalah kemiripan sistem hierarki sosial yang digunakan etnik-etnik Pasifik yang masuk rumpun ini. Tradisi tulis diduga baru dimulai pada abad ke-15. Sejak naskah ini didokumentasi, Galigo sudah mengembara ke negara-negara jauh, terutama Belanda. Yang masuk sampai ke perpustakaan negara Amerika Serikat di Washington, DC, pada abad ke-19 adalah buah tangan Husin bin Ismail, seorang munsyi Bugis kelahiran Wajo yang tinggal di Singapura.

Struktur Galigo bisa dibagi dalam dua bagian besar, kisah awal yang bersifat kosmologiyang menceritakan asal-usul kehadiran manusia di bumi. Bagian kedua yang menceritakan sistem status yang sangat penting sebagai pegangan dalam kehidupan sosial Bugis. Menurut Fachruddin Ambo Enre, guru besar sastra di Universitas Negeri Makassar, bagian yang menceritakan manusia pertama alias nenek moyang raja-raja Bugis, terutama orang Luwu, dianggap sakral. Naskah ini tidak boleh dibaca sembarangan. Bahkan judul sureq ini sengaja menggunakan nama Galigo, bukannya Sawerigading. Padahal Sawerigading adalah peran utama. Namun, alasan tak menggunakan nama Sawerigading sebagai judul karena nama itu tak boleh diucapkan sembarangan.
Bagian penciptaan alam semesta malah didudukkan lebih wingit lagi sehingga betul-betul dirahasiakan untuk kalangan terbatas. Tak semua bangsawan Bugis yang masih menyimpan naskah periode ini sudi membagi pengetahuannya pada orang lain. Colliq Pujié Arung Pancana Toa, perempuan bangsawan Bugis yang menghimpun kisah Galigo untuk peneliti Belanda Dr. B.F. Mathhes pada 1852, misalnya, memulai penulisan lontaraq dengan adegan musyawarah para dewa untuk menurunkan Batara Guru sebagai cikal bakal manusia di bumi.
Alhasil, siklus kisah Galigo sebelum manusia lahir–yang dianggap sebagai periode “keramat”–masih diketahui sekelumit belaka. Salah satunya adalah naskah Mula rilingĂ© Sangiang SerrĂ­ (Mulai Diciptakannya Sangiang SerrĂ­). Naskah ini diperoleh Christian Pelras, peneliti dari Prancis, dari seorang bangsawan Bugis. Naskah ini bercerita tentang WĂ© Oddang NriwĂş, anak bungsu pasangan Dewa Langit Datu Patotoe dan Datu Palinge. WĂ© Oddang, adik Batara Guru, dikisahkan memiliki kecantikan yang sanggup membuat para lelaki yang melihatnya gila (kecantikan perempuan macam ini sepertinya mirip Remedios The Beauty, tokoh dalam novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez). Agar tidak menimbulkan malapetaka di mana-mana, WĂ© Oddang akhirnya diubah bentuknya menjadi tanaman padi dengan nama baru Sangiang SerrĂ­. Dengan begini, ia tetap dicintai banyak orang dan sekaligus tak mengundang marabahaya. Cerita Sangiang SerrĂ­ inilah yang melahirkan tradisi upacara persembahan para petani sebelum memulai musim tanam. 


Bagian utama dari La Galigo tak lain adalah kehidupan Sawerigading. Cerita cucu Batara Guru ini sedemikian memikat, sehingga rakyat Sulawesi Selatan menganggap sosok ini nyata. Artinya, Galigo diperlakukan sebagai sumber sejarah untuk periode zaman tembaga-besi akhir (prasejarah). Bisakah? Ian Caldwell, dosen sejarah di Universitas Hull, Inggris, yang melakukan penelitian arkeologis sealama tiga tahun di Luwu dan sekitarnya, menampiknya. Alasannya, anakronisme (penempatan kejadian pada waktu yang salah) yang bertaburan di dalam naskah La Galigo. Misalnya, gambaran Kerajaan Luwu dan Cina raja adalah cerminan keadaan politik dan demografis pada abad ke-15 sampai 17. Padahal, dari pemakaian bahasa Galigo yang arkaik (tidak lazim dipakai), terlihat bahwa Galigo lahir pada masa yang jauh lebih kuno.

Kisah pengembaraan Sawerigading dengan kapal La WelĂ©rĂ©nngĂ© ke pelbagai negeri jauh, bila dilihat dengan kacamata ilmu pelayaran yang sebenarnya, terlihat ganjil. Waktu tempuh untuk daerah yang secara geografis sangat dekat bisa memakan waktu berbulan-bulan, sedangkan untuk daerah yang lebih jauh malah ditempuh dengan waktu singkat saja. Karena itu, Horst H. Liebner, ilmuwan asal Jerman yang bertahun-tahun mempelajari seluk-beluk perahu tradisional Sulawesi Selatan, menilai bahwa perjalanan Sawerigading adalah perjalanan mimpi. Alhasil, toponomi sebagian Nusantara menurut Galigo—dengan Luwu sebagai “pusat dunia”–menurut Liebner tak lebih dari upaya mengagung-agungkan kejayaan Bugis tanpa melihat kenyataan dunia riil. “Kaum ningrat Bugis masa itu ingin dielu-elukan sebagai penguasa jagat raya,” kata Liebner.
Menilik bertaburnya “kesembronoan” data tersebut, diduga perawi Galigo adalah para perempuan bangsawan Bugis yang tak akrab dengan dunia pelayaran ataupun geografi. Indikasi yang menunjukkan identitas pengarang adalah penggambaran pernik upacara serta aktivitas bissu yang demikian detail. Hal ini lebih banyak diketahui golongan wanita ningrat.

Genangan fantasi dalam Galigo memang jadi mencemaskan bila naskah tersebut dipakai sebagai rujukan sejarah. Di sisi lain, hal ini dinilai Nirwan Ahmad Arsuka, kurator Bentara Budaya, justru menunjukkan kekuatan sastra Galigo. Ia memuji daya imajinasi para pengarangnya. Namun yang paling memikat hati Nirwan dari Galigo adalah petingkah tokoh-tokoh utamanya. Ia menilai Galigo berlari jauh melampau zamannya. “Penggambaran yang begitu transparan sangat dekat dengan kecenderungan sastra mutakhir dunia yang sudah melampaui romantisme dan siap berdamai dengan sosok-sosok anti-hero,” kata Nirwan yang berdarah Bugis ini. 


Uraian kecerdasan para perawi Galigo bisa lebih panjang lagi dituliskan. Namun hal ini tak akan bisa menutupi fakta bahwa sureq ini kini kian pudar pesonanya. Banyak faktor yang membuat Galigo surut. Gempuran awal pada Galigo dimulai ketika Islam masuk ke Sulawesi pada abad ke-14. Awalnya, masih terjadi sinkretisme yang memberi ruang hidup ajaran Galigo. Misalnya, para dewata dalam epos ini digolongkan kelompok jin yang baik, sementara Sangiang SerrĂ­ tidak lagi disebut dewi padi tapi jiwa padi. Namun, sejak akhir abad ke-18, di Sulawesi Selatan mulai berkembang ajaran yang menginginkan ajaran agama Islam dilaksanakan secara murni.

Puncaknya adalah periode 1950-1965, masa ketika Darul Islam memberontak. Bissu, sebagai salah satu pewaris utama ajaran Galigo, menjadi korban yang paling mengenaskan. Bissu yang tersisa juga tak bisa berkiprah lebih banyak karena pamor bangsawan Bugis yang jadi pengayom mereka juga ikut redup. Faktor lain yang menenggelamkan kesaktian Galigo adalah modernisasi. Epos yang dulu memiliki fungsi menghibur jadi tak laku bila dibandingkan dengan acara televisi. Para petani pun lebih percaya pada pupuk dan benih unggul ketimbang memberi sesajian pada Sangiang SerrĂ­.
Namun Fachruddin melihat nasib buruk ini tidak dialami Galigo saja, tetapi juga karya sastra tradisional lainnya di Sulawesi Selatan. Ia melihat generasi yang lebih muda tak tertarik karena orang tua mereka sudah tak menaruh perhatian. Perkecualian tentu ada. Maqbul Halim, 29 tahun, penggiat sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang media massa yang tinggal di Makassar, mengaku masih membaca La Galigo. “Sewaktu kecil, di kampung saya di Wajo, dari orang tua dan kakek-nenek saya, saya sering mendengar penggalan cerita tentang kehidupan jawara atau jagoan bangsawan Bugis yang ternyata adalah bagian dari Galigo.” Pemuda ini terlihat fasih berbicara tentang naskah ini. Tapi orang seperti Maqbul sangat sedikit.
Upaya untuk mengembalikan Galigo pada publiknya sebetulnya sudah dimulai cukup lama oleh kalangan akademisi. Namun jalannya sampai saat ini masih tersaruk. Fachruddin mencontohkan beratnya langkah penerbitan 12 jilid naskah Galigo (yang pekerjaan transliterasi dan penerjemahannya dalam bahasa Indonesia sudah dirampungkan Muhammad Salim dalam kurun waktu 5 tahun 3 bulan). “Yang siap memberikan suntikan dana justru pemerintah Belanda, ironis, padahal untuk dua jilid hanya butuh sekitar Rp 100 juta,” kata Fachruddin.
Dalam seminar di Barru, banyak usul untuk menghidupkan kembali La Galigo secara populer: pembuatan sinetron, komik, ataupun penulisan ulang dalam bentuk novel. Yang sudah dimulai–sekalipun baru tahap praproduksi–adalah pembuatan film La Galigo. Penggagasnya adalah koreografer dan penari Restu Iman Sari dan sutradara pemenang Emmy Award asal Amerika Serikat, Rhoda Grauer. Awalnya, duet ini berniat membuat film dokumenter tentang perahu tradisional Bugis. Ternyata mereka malah “tersesat’ membikin film tentang bissu. Dari produksi ini, mereka mengenal epos Galigo dan tak punya pilihan lain kecuali terpikat. “Sulit dipercaya ada hal sepenting Galigo di bumi ini yang tidak dikenal secara global,” kata Grauer.
Pertanda baik dari kerja Restu dan Grauer–yang kini senang dipanggil dengan nama Makkarodda (seperti salah satu tokoh dalam Galigo)– adalah kesediaan Robert Wilson menjadi sutradara pementasan La Galigo. Wilson adalah sutradara panggung yang sangat terkemuka di Amerika. Salah satu kerjanya yang paling kondang adalah Einstein on the Beach (1976), yang disebut-sebut sebagai pendekatan yang sepenuhnya baru untuk teater musikal. Film yang dijadwalkan kelar tahun 2004 kelak diharapkan bisa membuka mata banyak pihak. Sesungguhnya, keindahan La Galigo memang bukan cuma warisan untuk suku Bugis.

Yusi Avianto Pareanom dan Syarief Amir (Barru)
Sumber: Tempo No. 06/XXXI/8 – 14 April 2002

La Bolong Kuruq sumangeq anriq ponratuLe muaseng gi belo jajareng maroeqePalaguna le goarieTekkuturusi rajung-rajummuPesewalimmu mutia simpeng masagalaeAla rini le upatudang mulu jajareng ri laimmuTenna io mi anriq ponratuMulu jajareng ri sao denra manurungngeSining anukku, anummu maneng anriMugiling paleppangiaq rupa mabboja Arti dalam IndonesiaKur semangat adindaTahukah engkau duhai hiasan balairungku yang ramaiBulan purnama penghias bilikkuKupenuhi seluruh keinginannmuTak ada lain yang duduk di balairungku selain engkauEngkaulah satu-satunya andindaPermaisuriku di istana agung manurungSegala milikki milikmu jua adindaBerpalinglah memandangku dengan tatapan cinta

Andhini Prabawati Pertama kali kami mendengar epos La Galigo karena ada seseorang yang menyarankan untuk menampilkan epos tersebut pada pementasan budaya nusantara di Politeknik Telkom untuk pertama kalinya. Jujur saja, pada awalnya kami sendiri pun tidak tahu menahu tentang epos tersebut. Setelah mencari tahu, kami pun menemukan kenyataan bahwa memang epos tersebut tidak terlalu dikenal di negaranya sendiri, Indonesia. Epos tersebut justru lebih terkenal di luar negeri! Ironis, ya! Namun, kami rasa belum terlambat. Daripada tidak sama sekali, maka kami pun memutuskan untuk menuliskan sedikit mengenai sejarah epos La Galigo melalui sumber-sumber yang kami dapatkan. Dengar-dengar epos La Galigo pun sedang diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan sebagai Memory of The World (MOW) atau ingatan kolektif manusia berupa warisan dokumenter yang secara sah dapat menjadi bukti sejarah manusia. Semoga saja terlaksana. Dan semoga saja melalui ini bisa membuat para pembaca semua mengetahui (walaupun sedikit) mengenai epos La Galigo.

( Sebagian kecil naskah La Galigo )

* * * 
Sejarah La Galigo Epos La Galigo atau biasa juga dikenal dengan I La Galigo merupakan karya sastra (epos) yang terpanjang di dunia. La Galigo adalah hasil karya sastra dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan, Indonesia. Isinya sebagian berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epos ini menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh raja dunia atas atau raja langit bernama La Patiganna. Disebutkan pula bahwa epos ini bercerita tentang Sawerigading, seorang perantau juga pahlawan yang gagah berani. La Galigo sebenarnya tidak tepat disebut sebagai teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos-mitos. Namun, epos La Galigo tetap dapat memberikan gambaran kepada kita mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14. La Galigo telah dipentaskan di beberapa negara Eropa. Pada tahun 2004, La Galigo dipentaskan di Belanda, Perancis, dan Amerika.

Pementasan tersebut mendapatkan respon yang sangat positif dari berbagai kalangan masyarakat. Bahkan, koran The New York Times yang biasanya sangat kritis memberikan komentar yang positif. 
Pementasan La Galigo tersebut terlaksana di bawah bimbingan Robert Wilson, yang sayangnya seorang seniman teater dari Amerika Serikat dan bukan dari negeri sendiri. Sehingga pada akhirnya cerita diadaptasi dan merupakan percampuran dari berbagai kebudayaan dengan tetap menggunakan ciri kebudayaan Makassar. Informasi mengenai salinan naskah-naskah La Galigo sebagian besar terdapat di perpustakaan Leiden, Belanda.

Naskah lainnya juga terdapat di Jakarta, yakni di perpustakaan Nasional dan juga di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan di Gedung Mulo yang memiliki 15 buah naskah Bugis. Kandungan La Galigo Epos bermula dengan penciptaan dunia. Ketika dunia masih kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), raja langit, La Patiganna, mengadakan musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib. Musyawarah tersebut menghasilkan keputusan berupa pelantikan anak lelaki raja langit yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (bumi) dan memakai gelar Batara Guru. Sebelum turun ke bumi, ia harus melalui masa ujian selama 40 hari 40 malam.
Tak lama sesudah ujian tersebut, Batara Guru kemudian turun ke bumi, di Ussu’, daerah Luwu’ yang saat ini menjadi Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone. Di kemudian hari, La Toge’ langi’ menikahi sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, raja alam gaib. Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu’. La Tiuleng sendiri lalu mendapatkan dua orang anak kembar bernama Lawe atau Sawerigading dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar tersebut tidak dibesarkan bersama-sama sehingga pada suatu saat Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng akibat ketidaktahuannya bahwa mereka masih bersaudara.
Ketika ia mengetahui hal tersebut, ia lantas meninggalkan Luwu’ dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Sawerigading lantas melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Tiongkok. Selama perjalanan ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuk pemerintah Jawa Wolio yakni Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia lantas menikahi putri Tiongkok bernama We Cudai. Sawerigading sendiri digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa. Ia pernah mengunjungi berbagai macam tempat, seperti Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau’ dan Jawa Ritengnga (diduga Jawa Timur dan Jawa Tengah), Sunra Rilau’ dan Sunra Riaja (diduga Sunda Timur dan Sunda Barat) serta Melaka.
Ia pun dikisahkan pernah mengunjungi surga dan alam gaib. Sawerigading sendiri dikisahkan merupakan ayah dari La Galigo yang kemudian bergelar Datunna Kelling. La Galigo juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, perantau, dan pahlawan yang hebat. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari berbagai negara. Namun, seperti ayahnya pula, La Galigo dikisahkan tidak pernah menjadi raja. Anak lelaki La Galigo yang bernama La Tenritatta’ lah yang dikisahkan terakhir dinobatkan menjadi raja di Luwu’.

* * *
Isi epos ini merujuk pada masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan pemukiman yang berpusat di muara sungai, tempat kapal-kapal besar boleh berlabuh. Pusat pemerintahan pun yang terdiri dari istana dan rumah-rumah bangsawan terletak berdekatan dengan muara sungai. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang asing disambut baik di kerajaan Bugis. Para pedagang tersebut baru boleh berniaga setelah membayar cukai kepada pemerintah. Perniagaan ketika itu menggunakan sistem barter. Ketika itu, laut menjadi media yang sangat penting untuk saling berhubungan antar kerajaan. Golongan muda bangsawan di Bugis ketika itu pun dianjurkan untuk merantau sejauh mungkin sebelum mereka diberi tanggung jawab yang besar.
Latar belakang dan usaha pelestarian
Ada dugaan pula bahwa epik ini mungkin lebih tua dan ditulis sebelum epik Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.
La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14.

Versi bahasa Bugis asli Galigo sekarang hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. [3] Sejauh ini Galigo hanya dapat dibaca dalam versi bahasa Bugis aslinya. Hanya sebagian saja dari Galigo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris yang tersedia. [1] Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropa, terutama di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde Leiden di Belanda. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah muka surat yang tersimpan di Eropa dan di yayasan ini adalah 6000, tidak termasuk simpanan pribadi pemilik lain.

Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I La Galigo olehRobert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004.
 
Isi hikayat La Galigo
Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge’ langi’ menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge’ langi’ kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili’timo’, anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu’, sebuah daerah di Luwu’, sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.
Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu’. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma’dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware’) dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu’ dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.
Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau’ dan Jawa Ritengnga, Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau’ dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.
Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja. Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta’ adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu’.
Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing.

Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.
 
La Galigo di Sulawesi Tengah
Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu’. Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi’ Buri’ (Tasik Buri).

Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajakSawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manilakemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu’. Sesampainya tentara Luwu’, kakak Bunga Manila mengumumkan bahwaBunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manilamasih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan.
Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigokalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga. Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovaLa Galigo di Sulawesi Tenggara

( Sebagian kecil naskah La Galigo )

Ratu Wolio pertama di Buntung di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Woliomelawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.
Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi’, artinya, ‘Yang tinggal di surga’. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.

Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).
La Galigo di Gorontalo

Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu’ dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkerissementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.
Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu’. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.
La Galigo di Malaysia dan Riau. Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Kisah ini dibawa sendiri oleh orang-orang Bugisyang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.
Pada abad ke-15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh ‘Keraing Semerluki’ dari Makassar. Semerluki yang disebut ini berkemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo’, dimana nama sebenarnya ialah Sumange’rukka’ dan beliau berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.
Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke-15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah Goa untuk mengaku kalah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Dalam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo’. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta’ Arung Palakka dari Bone. Hal ini menyebabkan banyak orang Bugis dan Makassarbermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan orang Bugis tiba di Selangor di bawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, sebanyak 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke-18, Daeng Matokko’ dari Peneki, sebuah daerah di Wajo’, menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adiknya, La Ma’dukelleng, juga ke Johor. La Ma’dukelleng juga diberi gelar sebagai pemimpin bajak laut oleh Belanda.
Keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka bermukim di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dinobatkan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng Merewah menjadi Yang Dipertuan Riau, Daeng Parani menikah dengan puteri-puteri Johor, Kedah danSelangor dan juga ayanhanda kepada Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Riau ketiga), Opu Daeng Manambung (menjadi Sultan Mempawah dan Matan), Opu Daeng Cella’ (menikah dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana).
Pada abad ke-19, sebuah teks Melayu yaitu Tuhfat al-Nafis mengandung cerita-cerita seperti di dalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Puteri Balkis, Permaisuri Sheba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke’, menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan menikah dengan Datu Luwu’. Kisah ini tidak terdapat dalam La Galigo. Namun demikian, anaknya, yaitu Datu Palinge’ kemungkinan adalah orang yang sama dengan tokoh di dalam La Galigo.
La Galigo dalam seni pentas

( Sebagian kecil naskah La Galigo )

La Galigo sudah diadaptasi ke dalam seni pentas oleh sutradara Robert Wilson setelah diadaptasi oleh Rhoda Grauer. Pertunjukan ini telah dipertunjukkan sejak tahun 2004 di Asia, Eropa, Australia dan Amerika Serikat.
Dalam bagian-bagian dari cerita yang dikisahkan, para aktor tidak saling berbicara tapi mengekspresikan diri mereka melalui tari dan gerak tubuh. Bagian cerita dinarasi oleh seorang narator dalam versi bahasa Bugis aslinya. Pertunjukan sepanjang tiga jam ini disertai dengan penggunaan ekstensif efek cahaya untuk karakteristik pekerjaan Wilson dan disertai pula oleh musik oleh ansambel panggung. Pertunjukan ini menggunakan musik tradisional Sulawesi, namun sebenarnya telah disusun dan diproduksi oleh komponis Jawa Rahayu Supanggah setelah riset yang intensif di Sulawesi Selatan.
Untuk menciptakan ekspresi dramatis yang lebih baik, instrumen Jawa dan Bali lainnya ditambahkan ke dalam lima instrumen Sulawesitradisional aslinya, dan instrumen lain yang baru juga dibuat, sehingga akhirnya terdapat 70 instrumen yang dimainkan oleh 12 musisi. [4]Para pelaku produksi pentas ini terdiri dari 53 pemusik dan penari yang semuanya datang secara ekslusif dari Indonesia dan sebagian besar dari Sulawesi, serta salah satu dari sedikit pendeta tradisional bissu (pendeta non gender) Bugis, yang tersisa dari komunitas non gender Bugis, Puang Matoa Saidi yang menceritakan sebagian dari cerita.

23 January, 2015

Sejarah Masuknya Kopi Di Indonesia

Ditahun 1696, Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan biji kopi ke Gubernur Belanda di Batavia, pengiriman pertama hilang karena banjir yang terjadi di Batavia, pengiriman kedua dilakukan tahun 1699.

Eksport kopi pertama dilakukan tahun 1711 oleh VOC, dalam tempo 10 tahun eksport meningkat sampai 60 ton/tahun, Indonesia adalah tempat perkebunan pertama diluar Arabia dan Ethiopia dan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780.

Ditahun 1700an harga kopi yang dikirim dari Batavia sekitar 3 Guilder/kg di Amsterdam dan itu sama dengan beberapa ratus USD/Kg dengan kurs saat ini, harga kopi memang sangat mahal saat itu. Akhir abad 18 harga kopi mulai turun menjadi 0.6 Guilder/Kg sehingga kopi bisa diminum untuk kalangan yang lebih luas lagi.

Terlihat bahwa perdagangan kopi sangat menguntungkan VOC, tetapi tidak bagi petani kopi di Indonesia saat itu karena diterapkannya sistem cultivation [Cultuurstelsel].

VOC kemudian melebarkan sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra, Bali, Sulawesi dan Timor. Di Sulawesi mulai ditanam tahun 1750, di dataran tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo, Aceh dekat danau laut tawar ditahun 1924.

>> Saat ini ada 20 varietas kopi arabica di Indonesia yang terbagi dalam 6 kategori yaitu :

Typica – ini tanaman yang aslinya dibawa oleh Belanda dan sebagian besar hancur ditahun 1880s, saat penyakit daun kopi menyerang Indonesia, tetapi di Bergandal dan Sidikalang, varieties Typica masih bisa ditemukan terutama ditempat dataran tinggi.

Hibrido de Timor (HDT) – dikenal juga dengan varietas “TimTim”, persilangan antara arabica dan robusta, pertama diambil tahun 1978 di Timor Timur lalu ditanam di Aceh tahun 1979.

Linie S – Varietas ini dikembangkan di perkebunan Bourbon, India dan jenis yang terkenal adalah S-288 dan S-795, bisa ditemukan di Lintong, Aceh, Flores dan daerah lain.

Ethiopian lines – Menyebar di Jawa tahun 1928 lalu juga ke Aceh. Varietas dari Ethiopia lain yang ditemukan di Sumatra ada yang disebut “USDA”

Caturra cultivars: Caturra adalah mutasi dari kopi Bourbon coffee, nerasal dari Brasil.

Catimor lines – Persilangan antara Arabica dan Robusta sangat kurang aromanya. Tetapi ada jenis Catimor yang terkenal yaitu “Ateng-Jaluk”. Riset juga menunjukan bahwa varietas lokal catimor di Aceh menghasilkan karakteristik kopi yang sangat baik.

Kopi Robusta mulai diperkenalkan di Indonesia ditahun 1900an untuk pengganti kopi arabica yang hancur saat terjadi penyakit tumbuhan menyerang tanaman kopi arabica, kopi robusta yang lebih tahan terhadap hama dianggap sebagai alternatif yang tepat terutama untuk perkebunan kopi didaerah dataran rendah.

Coffea canephora (Robusta Coffee; Coffea robusta) adalah spesies kopi yang asalnya dari Afrika Barat dan banyak tumbh di Afrika serta Brazil, biasa disebut Conillon. Kopi ini juga tumbuh di Asia Tenggara ketika kolonial Perancis memperkenalkannya akhir abad 19 di Vietnam yang menyebabkan Vietnam yang memproduksi hanya kopi Robusta melewati Brazil, India dan Indonesia menjadi penghasil kopi nomor satu didunia.

Sekitar 1/3 produksi kopi dunia ialah kopi Robusta, kopi ini lebih mudah perawatannya dibandingkan jenis lainnya sehingga biaya produksinya juga murah dan karena kopi arabica dikenal dengan kualitas yang lebih baik, kopi robusta biasanya dibuat kopi instant, espresso dengan tingkat caffeine hampir 2 kali lipat dibandingkan arabica.

Coffea canephora / Robusta yang tumbuh dibagian Afrika Barat serta Tengah tidak dikenal sebagai spesis kopi sampai abad ke 18, bisa mencapai ketinggian 10m dan memerlukan 10-11 bulan sampai bijinya bisa dipanenn. Secara umum kopi jenis ini lebih tahan terhadap cuaca dan mudah pemeliharaannya dibandingkan kopi arabica. Saat digongseng, aroma yang keluar mengesankan aroma karet yang terbakar dan lebih menusuk hidung dibandingkan aroma kopi arabica, aroma ini mengesankan “kekuatan” dikomunitas kopi di Italia.

Sumber : http://paknekcoffee.com/?p=231

17 August, 2013

Secara Singkat Nama Indonesia

Kata Indonesia berasal dari kata Latin indus yang berarti Hindia dan kata Yunani nesos yang berarti pulau, nesioi (jamak) berarti pulau-pulau. Dengan demilcian, kata Indonesia berarti pulau-pulau Hindia.

Indonesia dikenal pula dengan sebutan Nusantara. Kata Nusantara berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti hubungan. Jadi, Nusantara berarti rangkaian pulau-pulau.

Bangsa Indonesia pertama kali menggunakan nama Indonesia secara politik. Istilah Indonesia untuk pertama kalinya digunakan oleh Perhimpunan Indonesia, yaitu organisasi yang didirikan oleh pelajar-pelajar Indonesia di Negeri Belanda pada tahun 1908. Organisasi tersebut pertama kali bemama Indische Vereeniging. Kemudian nama itu diganti menjadi Indonesische Vereeniging pada tahun 1922. Selanjutnya pada tahun 1922 juga namanya diganti Perhimpunan Indonesia.

Pada tahun 1928 Kongres Pemuda II di Jakarta menggunakan istilah Indonesia dalam hubungan dengan persatuan bangsa. Kongres Pemuda tersebut pada tanggal 28 Oktober 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda yang di dalamnya tercantum nama Indonesia. Istilah Indonesia secara resmi digunakan sebagai nama negara kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.


15 August, 2013

SEJARAH FILSAFAT KUNO

Para sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato: "All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato". Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini. Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.

Filsuf- Filsuf Pertama

Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu Thales, Anaximandros dan Anaximenes. Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan kejadian-kejadian alamiah, terutama tertarik pada adanya perubahan yang terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang tetap tinggal sama di belakang perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya itu. Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros berpendapat to apeiron atau yang tak terbatas sedangkan Anaximenes menunjuk udara.
Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak di atas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan yang lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yang pertama adalah ikan. dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yang mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagat raya. Udara di alam semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan pernapasan di dalam tubuh manusia.

Filosof berikutnya yang perlu diperkenalkan adalah Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah.

Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos Di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.

Filosof pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika adalah Parmenides. Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada 1) satu dan tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan, 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos. Para filsuf tersebut dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja.

Para Filsuf berikut ini dikenal sebagai filsuf pluralis, karena pandangannya yang menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu api, udara, tanah dan air. Perubahan-perubahan yang terjadi di alam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu cinta (Philotes) dan benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yang sama mengenal yang sama. Pruralis yang berikutnya adalah Anaxagoras, yang mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yang mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yang membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yang berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yang membedakan antara "yang ruhani" dan "yang jasmani".

Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yang kosong.

Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk ke dalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yang juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yang manis, panas, dingin dan sebagainya, semua hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.

Kaum Sofis dan Socrates 

Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yang "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya. Seperti dikatakan Cicero --sastrawan Roma-- bahwa Socrates telah memindahkan filsafat dari langit ke atas bumi. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia di atas bumi. Hal ini juga diikuti oleh para sofis. Seperti telah disebutkan di depan, sofis (sophistes) mengalami kemerosotan makna. Sophistes digunakan untuk menyebut guru-guru yang berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peran penting dalam masyarakat. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para sofis merupakan pemilik warung yang menjual barang ruhani.
Sofis pertama adalah Protagoras, menurutnya manusia ialah ukuran segala-galanya. Pandangan ini bisa disebut "relativisme" artinya kebenaran tergantung pada manusia. Berkaitan dengan relativisme ini maka diperlukan seni berdebat yang memungkinkan orang membuat argumen yang paling lemah menjadi paling kuat. Ajarannya tentang negara mengatakan bahwa setiap negara mempunyai adat kebiasaan sendiri; seorang dewa berkunjung kepada manusia dan memberi anugerah --keinsyafan akan keadilan dan aidos hormat pada orang lain-- yang memungkinkan manusia dapat hidup bersama. Filsuf berikutnya adalah Gorgias yang mempertahankan tiga pendiriannya; 1) Tidak ada sesuatupun, 2) Seandainya sesutu tidak ada, maka ia tidak dapat dikenali, 3) Seandainya sesuatu dapat dikenali, maka hal itu tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Sofis Hippias berpandangan bahwa Physis (kodrat) manusia merupakan dasar dari tingkah laku manusia dan susunan masyarakat, bukannya undang-undang (nomos) karena undang-undang sering kali memperkosa kodrat manusia. Sofis Prodikos mengatakan bahwa agama merupakan penemuan manusia. Sedangkan Kritias berpendapat bahwa agama ditemukan oleh penguasa-penguasa negara yang licik.

Sebagaimana para sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme yang pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendirinya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia. Sedang ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.

Plato


Hampir semua karya Plato ditulis dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yang dominan dalam dialog tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Plato memilih yang begitu. Pertama, sifat karyanya Socratik --Socrates berperan sentral-- dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya jawab dengan teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya plato dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yang dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan plato mengenai filsafat. Menurutya, filsafat pada intinya tidak lain daripada dialog, dan filsafat seolah-olah drama yang hidup, yang tidak pernah selasai tetapi harus dimulai kembali.
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir di dalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam kongkret, dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi.

Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia.

Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama "Akademia" yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama Akademos. Mata pelajaran yang paling diperhatikan adalah ilmu pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan; "yang belum mempelajari matematika janganlah masuk di sini".

Aristoteles


Ia berpendapat bahwa seorang tidak dapat mengetahui suatu obyek jika ia tidak dapat mengatakan pengetahuan itu pada orang lain. Barangkali dengan pandangannya yang seperti ini jumlah karyanya sangat banyak bias dijelaskan. Spektrum pengetahuan yang diminati oleh Aristoteles luas sekali, barangkali seluas lapangan pengetahuan itu sendiri. Menurutnya pengetahuan manusia dapat disistemasikan sebagai berikut;
Pengetahuan
--------------------------------------------------------------------
Teoritis Praktis Produktif
-------------------------------------- --------------- -----------
Teologi/metafisik Matematika Fisika Etika Politik Seni
---------------------- --------
Ilmu Hitung Ilmu Ukur Retorika


Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Tidak dapat dibantah bahwa logika Aristoteles memainkan peranan penting dalam sejarah intelektual manusia; tidaklah berlebihan bila Immanuel Kant mengatakan bahwa sejak Aristoteles logika tidak maju selangkahpun.

Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan jalan deduksi, Induksi mengandalkan panca indera yang "lemah", sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yang dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogosme). 


A. Fisika


Di dalam fisikanya, Aristoteles mempelajari dan membagi gerak (kinetis) menjadi dua; gerak spontan dan gerak karena kekerasan. Gerak spontan yang diartikan sebagai perubahan secara umum dikelompokkan menjadi gerak subsitusional yakni sesuatu menjadi sesuatu yang lain seperti seekor anjing mati dan gerak aksidental yakni perubahan yang menyangkut salah satu aspek saja. Gerak aksidental ini berlangsung melalui tiga cara; yaitu gerak lokal seperti meja pindah dari satu tempat ke tempat lain, gerak kualitatif seperti daun hijau menjadi kuning, dan gerak kuantitatif seperti pohon tumbuh membesar. Dalam setiap gerak ada 1) keadaan terdahulu, 2) keadaan baru, dan 3) substratum yang tetap. Sebagai contoh air dingin menjadi panas; dengan dingin sebagai keadaan terlebih dahulu, panas sebagai keadaan baru dan air sebagai
substratum.

Analisa gerak ini menuntut kita membedakan antara aktus dan potensi. Dalam fase pertama panas menjadi potensi air dan pada fase kedua panas manjadi aktus. Aristoteles juga mengintrodusir pengertian bentuk (morphe atau eidos) dan materi (hyle) ke dalam analisa geraknya. Dalam contoh air dingin menjadi panas, air sebagai hyle dan dingin serta panas sebagai morphe.

Aristoteles berpendapat behwa setiap kejadian mempunyai empat sebab yang harus disebut. Keempat sebab tersebut adalah penyebab efisien sebagai sumber kejadian, penyebab final sebagai tujuan atau arah kejadian, penyebab material sebagai bahan tempat kejadian tempat berlangsung dan penyebab formal sebagai bentuk menyusun bahan. Keempat kejadian ini berlaku untuk semua kejadian alamiah maupun yang disebabkan oleh manusia.
Aristoteles juga membicarakan phisis sebagai prinsip perkembangan yang terdapat dalam semua benda alamiah. Semua benda mempunyai sumber gerak atau diam dalam dirinya sendiri. Pohon kecil tumbuh besar karena phisisnya, pohon tetap tinggal pohon berkat phisis atau kodratnya. Mengenai alam, Aristoteles berpendirian bahwa dunia ini bergantung pada tujuan (telos) itu. Ia mengatakan "Alam tidak membuat sesuatupun dengan sia-sia dan tidak membuat sesuatu yang berlebihan", atau katanya lagi: "Alam berindak seolah-olah ia mengetahui konsekuensi perbuatannya". Teologi ini mencakup juga alam yang tidak hidup yang terdiri dari empat anasir api, udara, air dan tanah. Aristoteles mengatakan bahwa setiap anasir menuju ketempat kodratinya (locus naturalis).

Berkaitan dengan jagat raya Aristoteles mengatakan bahwa kosmos terdiri dari dua wilayah yaitu wilayah sublunar (di bawah bulan) dan wilayah yang meliputi bulan, planet-planet dan bintang-bintang. Jagat raya berbentuk bola dan terbatas, tetapi tidak mempunyai permulaan dan kekal. Badan-badan jagat raya diluar bumi semua terdiri dari anasir kelima yaitu ether yang tidak dapat dimusnahkan dan tidak dapat berubah menjadi anasir lain. Gerak kodrati anasir ini adalah melingkar. Berkaitan dengan jagat raya ini Aristoteles mempunyai pandangan yang masyhur mengenai penggerak pertama yang tidak digerakkan.


B. Psikologi
 
Menurut Aristoteles jiwa dan badan dipandang sebagai dua aspek dari satu substansi. Badan adalah materi dan jiwa dalam bentuk dan masing-masing berperan sebagai potensi dan aktus. Pada manusia, jiwa dan tumbuh merupakan dua aspek dari substansi yang sama yakni manusia. Anggapan ini mempunyai konsekuensi bahwa jiwa tidak kekal karena jiwa tidak dapat hidup tanpa materi.

Potensi dan aktus juga mempunyai dalam pengenalan inderawi. Kita menerima bentuk tanpa materi. Pengenalan inderawi tidak lain adalah peralihan dari potensi ke aktus suatu organ tubuh dari aktus obyek. Sebagaimana proses pengenalan inderawi dalam pengenalan rasional bentuk tepatnya bentuk intelektual diterima oleh rasio. Bentuk intelektual ialah bentuk hakikat atau esensi suatu benda. Fungsi rasio dibagi menjadi dua macam yaitu rasio pasif (nus pathetikos) yang menerima esensi dan rasio aktif (nus poitikos) yang "membentuk" esensi.


C. Metafisika
 

Ta meta ta physica berarti hal-hal sesudah hak-hal fisis. Metafisika merupakan pengetahuan yang semata-mata berkaitan dengan tuhan dan fenomena yang terpisah dari alam. Di dalam Metaphysica-nya Aristoteles membahas Penggerak Utama. Gerak utama di jagat raya tidak mempunyai permulaan maupun penghabisan. Karena setiap sesuatu yang bergerak, digerakkan oleh sesuatu yang lain perlulah menerima satu Penggerak Pertama yang menyebabkan gerak itu, tetapi ia sendiri tidak digerakkan. Penggerak ini sama sekali lepas dari materi, karena segalanya yang mempunyai meteri mempunyai potensi untuk bergerak. Allah sebagai Penggerak Pertama tidak mempunyai potensi apapun juga dan Allah harus dianggap sebagai aktus murni. Allah bersifat immaterial atau tak badani, Ia harus disamakan dengan kesadaran atau pemikirannya. Karena itu aktifitas-Nya tidak lain adalah berpikir saja dan Allah merupakan pemikiran yang memandang pemikirannya. Allah sebagai penyebab final dari gerak jagat raya ini; segala sesuatu pengejar penggerak yang sempurna dan Ia menggerakkan karena dicintai.
Ajaran lain dari Aristoteles adalah tentang filsafat praktis yaitu etika dan politika. Lanjut di sini. Dalam filsafat, Aristoteles disebut sebagai tokoh madzhab peripatis (peripatos, berjalan-jalan) yang menyadarkan diri pada deduksi untuk memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan gurunya, Plato merupakan tokoh madzhab illuminasionis yang juga mengandalkan jalan hati, asketisme dan penyucian jiwa dalam menyingkap realitas.




Perjanjian Bungaya

Perjanjian Bongaya (sering juga disebut Bungaya atau Bongaja) adalah perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya antara Kesultanan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan pihak Hindia Belanda yang diwakili oleh Laksamana Cornelis Speelman. 

Isi perjanjian
  1. Perjanjian yang ditandatangani oleh Karaeng Popo, duta pemerintah di Makassar (Gowa) dan Gubernur-Jendral, serta Dewan Hindia di Batavia pada tanggal 19 Agustus 1660, dan antara pemerintahan Makassar dan Jacob Cau sebagai Komisioner Kompeni pada tanggal 2 Desember 1660 harus diberlakukan.
  2. Seluruh pejabat dan rakyat Kompeni berkebangsaan Eropa yang baru-baru ini atau di masa lalu melarikan diri dan masih tinggal di sekitar Makassar harus segera dikirim kepada Laksamana. 
  3. Seluruh alat-alat, meriam, uang, dan barang-barang yang masih tersisa, yang diambil dari kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango, harus diserahkan kepada Kompeni. 
  4. Mereka yang terbukti bersalah atas pembunuhan orang Belanda di berbagai tempat harus diadili segera oleh Perwakilan Belanda dan mendapat hukuman setimpal.  
  5. Raja dan bangsawan Makassar harus membayar ganti rugi dan seluruh utang pada Kompeni, paling lambat musim berikut. 
  6. Seluruh orang Portugis dan Inggris harus diusir dari wilayah Makassar dan tidak boleh lagi diterima tinggal di sini atau melakukan perdagangan. Tidak ada orang Eropa yang boleh masuk atau melakukan perdagangan di Makassar. 
  7. Hanya Kompeni yang boleh bebas berdagang di Makassar. Orang "India" atau "Moor" (Muslim India), Jawa, Melayu, Aceh, atau Siam tidak boleh memasarkan kain dan barang-barang dari Tiongkok karena hanya Kompeni yang boleh melakukannya. Semua yang melanggar akan dihukum dan barangnya akan disita oleh Kompeni.  
  8. Kompeni harus dibebaskan dari bea dan pajak impor maupun ekspor.  
  9. Pemerintah dan rakyat Makassar tidak boleh berlayar ke mana pun kecuali Bali, pantai Jawa, Jakarta, Banten, Jambi, Palembang, Johor, dan Kalimantan, dan harus meminta surat ijin dari Komandan Belanda di sini (Makassar). Mereka yang berlayar tanpa surat ijin akan dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh. Tidak boleh ada kapal yang dikirim ke Bima, Solor, Timor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau timur Kalimantan atau pulau-pulau di sekitarnya. Mereka yang melanggar harus menebusnya dengan nyawa dan harta. 
  10. Seluruh benteng di sepanjang pantai Makassar harus dihancurkan, yaitu: Barombong, Pa'nakkukang, Garassi, Mariso, Boro'boso. Hanya Sombaopu yang boleh tetap berdiri untuk ditempati raja. 
  11. Benteng Ujung Pandang harus diserahkan kepada Kompeni dalam keadaan baik, bersama dengan desa dan tanah yang menjadi wilayahnya. 
  12. Koin Belanda seperti yang digunakan di Batavia harus diberlakukan di Makassar. 
  13. Raja dan para bangsawan harus mengirim ke Batavia uang senilai 1.000 budak pria dan wanita, dengan perhitungan 2½ tael atau 40 mas emas Makassar per orang. Setengahnya harus sudah terkirim pada bulan Juni dan sisanya paling lambat pada musim berikut.  
  14. Raja dan bangsawan Makassar tidak boleh lagi mencampuri urusan Bima dan wilayahnya. 
  15. Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu harus diserahkan kepada Kompeni untuk dihukum. 
  16. Mereka yang diambil dari Sultan Butung pada penyerangan terakhir Makassar harus dikembalikan. Bagi mereka yang telah meninggal atau tidak dapat dikembalikan, harus dibayar dengan kompensasi. 
  17. Bagi Sultan Ternate, semua orang yang telah diambil dari Kepulauan Sula harus dikembalikan bersama dengan meriam dan senapan. Gowa harus melepaskan seluruh keinginannya menguasai kepulauan Selayar dan Pansiano (Muna), seluruh pantai timur Sulawesi dari Manado ke Pansiano, Banggai, dan Kepulauan Gapi dan tempat lainnya di pantai yang sama, dan negeri-negeri Mandar dan Manado, yang dulunya adalah milik raja Ternate.  
  18. Gowa harus menanggalkan seluruh kekuasaannya atas negeri-negeri Bugis dan Luwu. Raja tua Soppeng [La TĂ©nribali] dan seluruh tanah serta rakyatnya harus dibebaskan, begitu pula penguasa Bugis lainnya yang masih ditawan di wilayah-wilayah Makassar, serta wanita dan anak-anak yang masih ditahan penguasa Gowa. 
  19. Raja Layo, Bangkala dan seluruh Turatea serta Bajing dan tanah-tanah mereka harus dilepaskan. 
  20. Seluruh negeri yang ditaklukkan oleh Kompeni dan sekutunya, dari Bulo-Bulo hingga Turatea, dan dari Turatea hingga Bungaya, harus tetap menjadi tanah milik Kompeni sebagai hak penaklukan. 
  21. Wajo, Bulo-Bulo dan Mandar harus ditinggalkan oleh pemerintah Gowa dan tidak lagi membantu mereka dengan tenaga manusia, senjata dan lainnya. 
  22. Seluruh laki-laki Bugis dan Turatea yang menikahi perempuan Makassar, dapat terus bersama isteri mereka. Untuk selanjutnya, jika ada orang Makassar yang berharap tinggal dengan orang Bugis atau Turatea, atau sebaliknya, orang Bugis atau Turatea berharap tinggal dengan orang Makassar, boleh melakukannya dengan seizin penguasa atau raja yang berwenang.  
  23. Pemerintah Gowa harus menutup negerinya bagi semua bangsa (kecuali Belanda). Mereka juga harus membantu Kompeni melawan musuhnya di dalam dan sekitar Makassar. 
  24. Persahabatan dan persekutuan harus terjalin antara para raja dan bangsawan Makassar dengan Ternate, Tidore, Bacan, Butung, Bugis (Bone), Soppeng, Luwu, Turatea, Layo, Bajing, Bima dan penguasa-penguasa lain yang di masa depan ingin turut dalam persekutuan ini. 
  25. Dalam setiap sengketa di antara para sekutu, Kapten Belanda (yaitu, presiden atau gubernur Fort Rotterdam) harus diminta untuk menengahi. Jika salah satu pihak tidak mengacuhkan mediasi ini, maka seluruh sekutu akan mengambil tindakan yang setimpal. 
  26. Ketika perjanjian damai ini ditandatangani, disumpah dan dibubuhi cap, para raja dan bangsawan Makassar harus mengirim dua penguasa pentingnya bersama Laksamana ke Batavia untuk menyerahkan perjanjian ini kepada Gubernur-Jendral dan Dewan Hindia. Jika perjanjian ini disetujui, Gubernur-Jendral dapat menahan dua pangeran penting sebagai sandera selama yang dia inginkan. 
  27. Lebih jauh tentang pasal 6, orang Inggris dan seluruh barang-barangnya yang ada di Makassar harus dibawa ke Batavia. 
  28. Lebih jauh tentang pasal 15, jika Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu tidak ditemukan hidup atau mati dalam sepuluh hari, maka putra dari kedua penguasa harus ditahan.  
  29. Pemerintah Gowa harus membayar ganti rugi sebesar 250.000 rijksdaalders dalam lima musim berturut-turut, baik dalam bentuk meriam, barang, emas, perak ataupun permata.  
  30. Raja Makassar dan para bangsawannya, Laksamana sebagai wakil Kompeni, serta seluruh raja dan bangsawan yang termasuk dalam persekutuan ini harus bersumpah, menandatangani dan membubuhi cap untuk perjanjian ini atas nama Tuhan yang Suci pada hari Jumat, 18 November 1667.
Berbagai Sumber Yang Ada. 

02 August, 2013

Pemerhati Baranng Antik Dalam Benda Sejarah

Benda-benda Sejarah
Benda-benda Sejarah
Mengoleksi Barang Antik itu rasanya sangat mengasikkan, apalagi kalau barang koleksian kita termasuk dalam benda sejarah. Barang Antik adalah, barang-barang yang memiliki hiasan yang menarik, unik, dan langkah ditemukan. Barang seperti hiasannya menarik, unik, dan langkah dicarinya biasanya sudah dikategorikan dalam benda sejarah. Seperti : Badik, Gelang, Kalung, Sarung Sutra, dan lain-lain. Mengoleksi barang antik sama halnya kita tak ingin meninggalkan benda-benda di masa lampau, yang sudah tak ada lagi di masa sekarang. 

Barang Antik biasanya orang memiliki, tetapi barang yang dimilikinya banyak kurang tau bagaimana kegunaan barang ini pada masa dulunya. Ada yang suka memelihara, ada yang suka merawatnya, dan ada suka mengoleksinya. Apakah di masa sekarang ini terdapat barang antik ? yang ada pada masa sekarang, bukan ada pada masa dulunya. Mengenai barang antik sekarang sudah tak ada lagi, tetapi banyak orang menyimpan benda yang sekarang unik, menarik, dan langkah dicarinya. Itu di simpan oleh banyak orang, dan dijadikan barang antik pada masa yang akan datang.

Gelang, Kalung, Badik, dan lain-lain. Banyak orang ingin mengoleksi barang antik, tapi mencari barang antik itu sulit untuk ditemukan, apalagi kalau barang itu sudah lama sekali. Mungkin saja ada yang mudah ditemukan, misalnya, Gelang Kalung, Cincin, Gantungan Kuncinya dan lain-lain inikan bisa di dapatkan di Pulau Jawa, Sulawesi, Jakarta, dan lain-lain. Mencari barang antik yang sudah lama sekali biasanya ada di dapatkan "Museum" itupun tak bisa di milikkinya, karena barang yang ada di "Museum" itu milik pemerintah, kita cuman bisa melihatnya dan mengunjunginya.

Mengapa barang antik di katakan sangat, Unik, Menarik, dan Langkah di carinya. pertma, barang antik yang unik itu memilki khas tersendirinya, beda dengan barang yang tiruan, misalnya Gelang Distro, itukan barang tiruan. kedua, barang antik yang menarik itu mempunyai beragam khas, bentuk, dan hiasan yang beda-beda. Misalnya, Gelang yang diberikan gambar yang abstrak, Kalung dengan mata kalungnya taring babi, dan masih banyak lainnya. ketiga, barang antik yang langkah dicari itu, biasanya barang ini sudah di namakan barang benda Sejarah, karena pada masa dulunya sulit untuk ditemukan juga, makanya di simpan pada tempatnya, Misalnya, Museum, Benteng, dan lain-lain sebagainya.

Mencari barang antik itu biasanya ada pada masing-masing kota yang ada di Indonesia. Tetapi barang yang di jualkannya itu bisa dikatakan Sovenir, bukan Barang Antik. Bedakan Sovenir dengan Barang Antik, meskipun keduanya saling memelihara, mengoleksi, dan merawatnya. Tetap saja bedakan. Mengapa ? Kalau Sovenir itu kadang kala ada samanya, bentuknya banyak, gambarnya berubah-berubah, dan tak sulit dicarinya. Kalau Barang Antik seperti penjelasan di atas. Barang peninggalan yang sudah lama umurnya dan sulit untuk ditemukan di masa sekarang, itupun kalau ada ditemukan, mungkin saja ada sedikit perubahannya.  

Bagi anda yang menyukainya memelihara, merawat, dan mengoleksi barang antik, saya sarankan jagalah dengan baik, kalau perlu simpan dengan aman, jangan mudah untuk di hilangkan.  


01 August, 2013

Bergaya Ala Sejarah, Gelang Akar Bahar

gelang akar bahar
Orang semua mau memakainya, tapi alangkah bagusnya kalau kita mengetahui dulu sedikit tentang apa itu Gelang Akar Bahar, dari mana Asalnya, dan Dibuat bagaimana, sehingga bisa disebut Gelang Akar Bahar. Ada bagusnya juga kalau kita memakai Gelangnya, lantas kita tau juga darimana asalnya, bagaimana cara buatnya. Gelang ini biasanya orang memakai dengan jiwa penuh kesenian, karena Gelang Akar Bahar ini salah satu termasuk kesenian Arkeoligo (Benda Sejahra). Baiklah kalau begitu, mari kita baca sekilas tentang Gelang Akar Bahar Ini. Jika anda sangat menyukainya, maka segera mencarinya dimana Gelang Akar Bahar ini di jualnya. 

Bergaya dengan Gelang Akar bahar atau biasa disebut black coral berasal dari tanaman laut yang merambat dan tumbuh di atas kerang. Bentuk akar bahar memanjang, dan akan menjadi kaku jika dikeringkan. Biasanya pada akar bahar yang bagus terdapat bagian keras layaknya seperti batu. Bagian yang keras ini adalah asli bawaan tumbuhan itu yang telah menjadi fosil dan mengeras.

Tumbuhan laut akar bahar ternyata bukan tumbuhan biasa, karena memiliki kegunaan dan fungsi bagi yang memakainya. Konon tumbuhan akar bahar ini mampu menjaga kesehatan dan menimbulkan kekuatan tubuh bagi pemakainya. Tak hanya itu, secara fisik gelang akar bahar dapat menambah kharisma yang sangat luar biasa bagi jawara yang memakainya.

Untuk mendapatkan akar bakar bahar bukanlah hal yang mudah. Karena itu, siapa yang memiliki gelang ini dianggap jagoan karena usahanya memiliki akar bahar. Akar bahar biasanya didapat dari dasar laut dengan kedalaman 600 meter. Sebelum digunakan, biasanya tumbuhan akar bahar dipanaskan hingga kaku dan dibentuk menjadi sebuah gelang. Selain gelang, akar bahar juga dapat dijadikan cincin ataupun pipa untuk merokok (cangklong).

Gelang akar bahar digunakan jawara Betawi saat zaman penjajahan Belanda. Kalangan masyarakat Betawi yang menggunakan aksesoris adalah centeng, para jawara atau jagoan Betawi. Saat ini gelang akar bahar yang menjadi aksesoris peninggalan sejarah Betawi ini mulai langka, bahkan kerena kelangkaannya gelang ini banyak diburu para kolektor.

19 October, 2012

Hidup dahulu atau Hidup sekarang

Bagaimana menurut anda tentang kehidupan di masa sekarang? mengapa hidup sekarang sangat berbeda dengan kehidupan yang masa lampau. Banyak orang mengatakan, kehidupan dimasa dulu adalah hidup dengan perjuangan-perjuangan demi merebut kekuasaan. sedangkan kehidupan dimasa yang sekarang adalah hidup itu hanya sekedar tontonan saja, tidak ada sesuatu perjuangan-perjuangan seperti dimasa dahulu. Mungkin pada masa lalu semua orang bersungguh-sungguh memperjuangkan kehidupannya betul-betul, bahkan tidak di sia-siakan sama sekali.

Tidak sama dengan hidup yang kita sekarang, berbagai macam-macam adegan yang terjadi peristiwa yang tidak kita ketahui dengan kehidupan yang masa lalu. Misalkan kita berada di kehidupan yang dulu, mungkin kah generasi-generasi mampu mempertahankan kehidupan yang dulu? pertanyaan yang dasar. Di antara berbagai pengalaman seseorang banyak yang mengetahui, tentang bagaimana kehidupan yang dulu. Tetapi sebagian besar tidak mampu mengolah langkah-langkah kehidupan yang dulu. Dan kebanyakan seseorang tidak tahu kehidupan yang dulu. Timbullah sebuah pertanyaan sederhana, apa penyebabnya orang-orang itu tidaak tahu kehidupan yang dulu? ada sebuah pernyataan yang mengatakan, "Manusia Harus Tahu Sejarahnya Sendiri".

Apabila orang-orang tidak tahu sama sekali dengan kehidupan yang dulu, maka dia harus dipertanyaan. Kita bisa bedakan antara kehidupan yang dulu dengan kehidupan sekarang. Kalau kehidupan sekarang banyak adegan-adegan yang tidak sama dengan kehidupan yang dulu, maka kita sebaiknya mengetahui dulu bagaimana kehidupan yang dulu, barulah kita mencoba dan merasakan kehidupan yang sekarang. Meskipun hidup dizaman dahulu jauh berbeda dengan sekarang. Kehidupan sekarang bukan lagi perjuangan-perjuangan yang dulu.

Sekarang kebanyakan orang berlomba-lomba mencari kepentingannya pribadi. Beda dengan dulu, dulu orang betul-betul ingin berjuang dengan hak dan kekuasaannya. Meskipun ada syarat yang dia harus jalani, demi tujuan membela semua lingkungan yang tidak kaitannya dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Coba dibayangkan yah, betapa kerasnya kehidupan di masa-masa dulu. Kalau kita berbicara tentang dinamika kehidupan, maka kehidupan dulu pantas di katakan sebagai pencacat sejrah, di kehidupan yang akan datang atau di kehidupan yang sekarang.

Ada kaitannya dengan sejarah-sejarah peradaban kehidupan. "hidup butuh perjuangan, jika hidup tidak diperjuangkan, maka hidup kita sama saja dengan sia-sia". Seandainya kehidupan sekarang tidak mengetahui seluk belutnya, sudah mau di apakan hidup kita sebagai manusia. Manusia juga di berikan pikiran sebagai berpikir dan akal mengfungsikan sesuatu yang lebih dari hewan. Perubahan inilah yang betul-betul kita cermati dengan berkerjasama antara yang lain. Alangkah indahnya jika mampu mengetahui kehidupan yang dulu, dengan kehidupan yang sekarang.

Dulu ada yang namanya "PAHLAWAN TANPA TANDA JASA", sekarang yang ada hanya "PAHLAWAN TIDAK ADA". bayangkan saja kalau kita menghayalkan tindakan-tindakan hidupnya orang di masa-masa dulu. Tidak ada lagi yang harus kita lakukan di masa sekrang kalau kita tidak mampu berjuang seperti masa-masa dulu. Hidup sekarangkan sungguh banyak adegan-adegan yang di jadikan sebagai kepentingan pribadi. Misalkan kita mencari perubahan hanya untuk pribadi, tanpa memikirkan seluruh yang ada di lingkungannya. Kira-kira para pejuang-pejuang pribadinya tidak mampu kelestariakan pribadinya, lebih baik kemanakan saja. sungguh luar biasa perkembangan yang terjadi di masa-masa sekarang, sekarang segala perbuatan semaunya saja. Timbullah orang-orang yang ikut arus hukum kehidupan sekarang, bukan lagi kehidupan yang dulu. Sungguh Luar biasa.