Recent

17 July, 2017

Ideologi Estetika



Eagleton melihat secara kritis sejarah perkembangan wacana estetika dari kacamata Marxis. Berdasarkan Eagleton atas telaah historisnya pada fakta bahwa peralihan dari Abad Pertengahan ke masa Modern menandai peralihan sistem pembagian kerja kebudayaan. Apabila sejak era Klasik hingga Abad Pertengahan, seni selalu muncul bersama dengan sains dan politik, berbeda dengan era Modern. Sejak era Modern, seni, sains, dan politik ditangani sebagai tiga wilayah kerja berbeda dengan disiplin yang terdefinisikan dengan rapi.

Lahirnya disiplin estetika, antara lain di tangan Baumgarten, tidak dapat di pisahkan dari gelombang konsolidasi kelas borjuis dalam melawan dominasi kelas feodal. Kelas borjuis begitu menekankan kemerdekaan individual berhadapan dengan struktur sosial feodal. Inilah yang menjelaskan, selidik Eagleton, mengapa disiplin estetika dilahirkan sebagai sains tentang pengalaman konkrit-indrawi-individual sebagai sains tentang aisthesis.



Perkembangan estetika sebagai ilmu borjuis ini memuncak, menurut Eagleton, pada estetisisme. Dalam doktrin seni untuk seni, pembagian kerja kultural antara seni, sains dan politik di tarik ke konsekuensi terjauhnya: ranah artistik menjadi otonom dari ranah fakta dan ranah nilai-nilai seni tidak bertanggung jawab pada apapun kecuali dirinya sendiri. Namun, selidik Eagleton, otonomi seni ini diraih dengan jalan yang amat sini, Kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, kita melancarkan kritik atas estetika, sains dan politik sebab ketiganya diresapi oleh ideologi borjuis. Kedua, kita meneruskan pencaplokan estetis atas sains dan politik dengan mengedepankan perasaan subjektif atau sensasi individual dalam berbagai lini kebudayaan.

0 komentar:

Post a Comment