Prof. Bambang Sugiharto mengungkapkan bahwa Seni adalah binatang aneh yang akrab sekali dengan kita. Meskipun akrab dengan kita, seni tak segampang dimengerti dan dipahami. Produk kesenian yang mutakhir dan paling sulit dimengeti ialah saat kita tidak paham benda-benda apa atau laku macam apa yang muncul di panggug, di museum, di galeri, dll. Semakin canggih seni, semakin sulit pula ia dipahami.
Kesenjangan seni pada perkembangannya di pahami dalam masyarakat dengan yang sudah sangat eksklusif. Masyarakat hanya menganggap seni pada umunya hanya persoalan "keindahan" atau "keterampilan". Itulah kekurangannya jika dibandigkan dengan perkembangan dunia, karena seni terlalu banyak dikaitkan dengan keindahan, jadi kecenderungan seni menjadi urusan hiburan atau kesenangan atau juga sekedar hiasan.
Tetaapi sebenarnya dalam prespektif akademis, seni justru makin keluar dari kerangka-kerangka keindahan. seni menjadi makin tidak indah seni mutakhir bahkan cenderung buruk. misalnya pada seni yang memamerkan mayat-mayat atau darah sebagai kesenian atau lukisan abstrak yang sebenarnya tidak memiliki letak keindahan. Semakin berkembang seni, seringkali semakin tidak jelas keindahannya. Alhasil, orang sulit mendapat inspirasi dari seni.
Seni dianggap penting, tetapi hanya sebagai keterampilan atau skill. Seni terkadang menggali persoalan manusia. Seni tidak memberi solusi atau memberi inspirasi atau kemungkinan melihat sesuatu secara nyata. Seni penting dalam hal melukiskan kompleksitas kehidupan, kedalaman-kedalaman persoalan bagaimana manusia memaknai hidupnya atau pengalamannya yang seringkali rumit. Seni menampilkan kerumitan cinta lalu melukiskannya. Bahkan persoalan-persoalan dibalik cinta diangkat oleh berbagai jenis seni dan menampilkan perasaan-perasaan dibalik itu. Yang dibicarakan oleh seni sesungguhnya adalah kebenaran eksistensi. Hidup ini dialami sebagai apa kenyataannya. Kebenaran hidup yang rumit atau yang kompleks itulah yang kemudian diekspresikan atau dihadirkan dalam seni.
Ideologi terkait dengan Seni menurut Wolff.
Wolff memandang ideologi sebagai gagasan dan kepercayaan seseorang yang secara sistematis dihubungkan dengan berbagai kondisi material dan kehidupan aktual manusia. Ia melihat adanya kaitan yang erat antara Ideologi dengan konteks budaya dan Ideologi dengan Seni. Menurutnya, Ideologi adalah bagian dari sebuah karya seni, ideologi bukan hanya permasalahan gagasan-gagasan, milai-nilai budaya dan juga kepercayaan tetapi penjelmaannya pada lembaga-lembaga budaya seperti sekolah, gereja, geleri seni, perundang-undangan, partai politik, dan pada artefak budaya misalnya lukisan, bangunan, dsb. Disitulah Wolff melihat bahwa seni merupakan bagian dari aktivitas produk ideologis.
Di dalam Marxisme, posisi Seniman ialah sosok produsen atau pengrajin yang dikontrol oleh kecenderung sosial dan sejarah. Seniman bukanlah sosok yang ideal atau sosok yang mempunyai kebebasan atau mempunyai ide kreatif. Kemudian posisi Karya Seni disini sebagai produk yang diciptakan dengan aspek politik, sosial, dan gagasan atau pemikiran serta kepentingan lainnya. Seni bergantung pada masyarakat karena ditentukan aspek sosial dan sejarahnya. Sedangkan Masyarakat sebagai para agen ideologi yang diekspresikan jiwanya atau kepercayaannya di dalam sebuah karya seni.
Max Weber dengan konsepnya "Rasionalisasi" merujuk pada pergolakan masyarakat modern yang terfokus pada beberapa aspek, yaitu:
1. Afficiecy: Mendapatkan hasil yang maksimal dengan usaha yang minim.
2. Predictability: Prediksi-prediksi masa depan atau bentuk dan kejadian di masa depan.
3. Calculability: Terfokus pada data numerik misalnya statistik an angka-angka.
4. Dokumanization: Teknologi sebagai alat untuk mengontrol manusia.
Weber beranggapan, rasionalisasi mengarahkan perilaku manusia agar dipandu atau diatur oleh akal pikiran dan kepraktisan dan keguaan. bukan perilaku motivasi dari adat dan agama. Ia juga mengungkapkan agama itu simetris dengan estetika. Seni dikhianati kemudian mencoba berdiri sendiri karena dalam seni, bentuk adalah hal utama. Sedangkan dalam agama, mereka malah mengendarai bentuk dan menegaskan bahwa isi atau makna merupaan hal utama.
Estetik pada mulanya ditemukan dalam bentuk simetri. Sebelum semua aspek ada, terlebih dahulu harus membentuk secara simetri. Bentuk menurut Simmel menjadi penting dalam estetika. Pada masyarakat rasional (dewasa ini), bentuk estetika cenderung asimetris karena orang-orang modern cenderung melakukan aktifitas mengulang setiap harinya secara terus menerus, kemudian produk seni yang diciptakan adalah untuk memperliatkan sesuatu di luar dari keseharian itu. Sebaliknya, masyarakat irasional memiliki bentuk estetika yang cenderung simetris untuk memperlihatkan kehidupan yang aktual.
Durkheim mengemukakan pandangannya tentang Totem sebagai karya seni dengan adanya aktifitas kelompok kecil atau individu sendiri hingga aktifitas kelompok besar atau sebuah klan. Totem dianggap ebagai kekuatan eksternal yang kemudian diekpresikan dalam simbol yang sebenarnya merujuk pada religiuitas. Kekuatan yang tidak dapat dijelaskan itulah yang kemudian dijadikan objek konkret yang diambil bentuknya. Totem berfungsi sebagai simbol atau tanda yang membedakan satu orang dengan yang lain atau kelompok satu dengan kelompok lain. Totem juga digunakan sebagai alat komunikasi antar individu dalam suatu kelompok yang mengekspresikn nilai dan koral. Durkheim menjelaskan bagaimana totem adalah bagian dari suatu kreativitas dan juga alat komunikasi bagi individu dan kelompok. Totem juga sebagai pengungkap nama, identitas, dan lambang.
Salah satu contoh kesenian yang ada di Makassar ialah Kondobuleng. Kondobuleng adalah jenis teater tradisional yang mempunyai unsur vokal, gerak, dan musik. Kondobuleng lahir dari tradisi orang Bajo, masyarakat pantai yang tinggal dan menetap di wilayah Teluk Bone. Karena daerah itu adalah daerah pantai, mereka sering menemukan bangau putih di pantai dan ada pula nelayan-nelayan dalam cerita Kondouleng. Saat ini, pertunjukan Kondobuleng bisa kita temukan di Paropo Makassar tepatnya pada sanggar I Lologading. Masyarakat disana mengklaim bahwa mereka yang menjadi pewaris pertunjukan itu.
Menurut kepala adatnya, pertunjukan Kondobuleng hanya bisa dipentaskan oleh orang mempunyai garis keturunan dengan mereka. Itulah mengapa, generasi mereka dilatih agar kelak dapat terus membawa Kondobuleng. Kondobuleng berasal dari bahasa Bugis dan Makassar terbentuk dari 2 kata yaitu Kondo yang berarti bangau atau sejenis burung berkaki, berleher, dan memiliki paruh panjang.
Sedangkan Buleng yang berarti putih meskipun putih dalam Bahasa Makassar adalah Kebo' tetapi buleng artinya juga putih. Pertunjukan Kondobuleng yang dibawakan Sanggar I Lologading diceriakan dengan bentuk komedi dimana ada Bangau putih, para nelayan, dan pemburu. Sanggar I Lologading menggunakan bahasa Makassar dalam pertunjukannya yang juga menjadi pengental unsur komedinya. Sanggar I Lologading tidak mempunyai naska tertulis Kondobuleng karena pertunjukan ini turun temurun dan hanya dihafalkan oleh para pemain. Saat ini, beberapa seniman ada yang menceritakan ulang Kondobuleng degan menambahkan alur cerita tetapi tidak menghilangkan peran bangau putih, nelayan, dan pemburu.





0 komentar:
Post a Comment