Recent

06 July, 2017

Art And Craft



Howard S becker ialah sosok pemikir sosiologis yang kelahiran di amerika. Lahir pada 18 April 1928. Telah banyak memberikan kontribusi besar pada sosiologi penyimpangan, sosiologi seni, dan sosiologi musik. Ia adalah seorang pemikir seni yang mengkaji sebuah istilah untuk menggambarkan beberapa komponen penting yang membentuk seni rupa dunia, seperti konvensi-konvensi, struktur support, institusi-institusi, produksi, konsumsi, dan distribusi karya seni, atau dapat dikenal dengan sebutan “art world”.

Becker dalam bukunya yang berjudul Art World menjelaskan bahwa seni rupa sebagai sebuah aktivitas yang merupakan aktivitas kolektif masyarakatnya. Becker juga menggunakan konsepsi Marx mengenai pembagian kerja, hanya saja Becker memberikan pandangan mengenai konvensi dalam melihat seni. Bagi Becker, konvensi ini menyediakan titik temu antara kaum humanis dan para sosiolog. Sebagaimana gagasan Familier dalam sosiologi seperti norma, aturan, pemahaman bersama, kebiasaan Folkway. Semua gagasan-gagasan dan pemahaman itu merupakan hasil-hasil dari aktivitas kooperatif (becker 1982).

Becker juga menentang beberapa ide-ide yang diantaranya adalah ide dominan tentang seniman dalam masyarakat modern eropa dibayangkan sebagai pencipta atau seniman yang terisolasi, Memproduksi karya seni sebagai ekspresi dari keunikan dan visi estetik individual yang mana bentuknya sebagai basis dari nilai sebuah karya seni.

Perspektif becker perihal estetika terbentuk dari semua aktivitas manusia, melibatkan aktivitas gabungan sejumlah orang. Melalui kerjasama mereka, karya seni yang sering kali kita lihat atau di pertunjukkan merupakan suatu proses kerja seni yang selalu menunjukkan tanda-tanda kerjasama untuk mencapai karya seni yang Artistik.

Kelahiran seorang seniman disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan karya seni seperti patung dan lukisan-lukisan yang ditujukan pada gereja-geraja untuk kepentingan ibadah dan kerohanian, dibuktikan dari banyaknya jumlah lukisan yang terdapat di gereja-gereja pada zaman itu. Saat itu sudah masuk pada zaman renaissance ala sosiologi pada abad ke 14 - akhir abad ke - 17. Pada abad ini juga disebut dengan abad pemurnian atau kelahiran kembali. Pada abad ini semua pusat kegiatan itu terdapat pada gereja-gereja karena konsep yang berkembang adalah tentang ketuhanan. Ini di buktikan dari banyaknya jumlah gereja pada abad itu. Dan juga pada abad ini pusat dari kejadiannya itu bertempat di negara italia.

Istilah ART dan CRAFT atau ARTIST dan ARTISAN. ? Barangkali sudah ada yang mulai berfikir bahwa Craft yang dikenal saat ini adalah merek keju, Jadi yang di maksud dengan ART di sini adalah seseorang yang dapat disebut sebagai genius, spontanitas, dan juga kreatif. Sedangkan CRAFT adalah pengrajin. Craft bersifat kelompok maka disebut sebagai pengrajin, ARTIST dari istilah kata ART artinya Individu dan ARTISAN itu adalah kelompok. Pada abad Renaissance para pekerja seni itu disebut dengan CRAFT (ARTISAN), sebab mereka hanya sekumpulan orang yang membuat karya seni yang telah di fikirkan oleh si ART (ARTIST) tersebut. Itulah sebabnya ARTIST ini lebih di junjung tinggi dibandingkan si ARTISAN.

PIERRE BOURDIEU seorang tokoh sosiologi, antropologi, dan public intelektual. Bourdieu ingin menjadi seorang ahli filsafat namu tak terwujud. Bourdieu lahir pada tanggal 1 agustus 1930 di negara perancis, dan wafat pada tanggal 23 januari 2002. Beliau adalah seorang pemikir seni pula, tapi pada tulisan kali ini kita hanya akan membahas tentang seni itu adalah “SELERA”. Untuk menjelaskan tentang selera bekerja secara sosiologi itu membutuhkan rumusnya tersendiri “HABITUS x MODAL + ARENA = PRAKSIS”, menariknya membahas tentang seni itu menurut selera menurut Bourdieu. Pernah kah kalian berfikir bahwa bagaimana sebuah karya seni itu dapat berhasil ?, tokoh satu ini akan menjelaskan tentang bagaimana sebuah karya seni akan berhasil yaitu dengan cara sebuah karya seni dapat berhasil, ketika budaya yang dituangkan seniman kedalam karya seninya itu identik dengan “kompetensi artistik” penonton. Penonton dapat dijabarkan sebagai individu yang memiliki persepsi yang dijelaskan sebagai masyarakat. Tapi sebelum itu antara seniman dan penonton (masyarakat) harus memiliki pengetahuan tentang sejarah/ kebudayaan.

Dimana seniman membuat karya seni yang berbentuk kode-kode budaya dan memiliki makna dan penonton menemukan makna baru. Konsep ini adalah makna dari (perang memorial dalam komunikasi). Itupun penonton dibagi menjadi dua yaitu yang awam dan yang berintelek (berpendidikan). Jika orang awam hanya dengan melihat garis besarnya saja atau bentuk jadinya saja tanpa menilai, meninjau sampai kedalamnya. Berbeda dengan kaum berpendidikan yaitu dengan melihat latar belakang story dalam karya seni itu. Itu juga karena penonton memiliki pengetahuan tentang sejarah kebudayaan yang seniman gunakan dalam karya seninya, menurut Bourdieu, seni bisa terbentuk dari adanya perbedaan kelas ketimbang pengakuan atas standar kualitas. Dalam pandangan Bourdieu modal putusan estetis, murni dari kant merupakan cerminan dari produk masyarakat di barat (Eropa) yang dominan.

Menurut prior dimensi sosiologi ala Bourdieu adalah :

Seniman dan karya seni itu adalah produksi nyata yang diproduksi oleh pekerja kebudayaan dalam kondisi sejarah khusus.

Apa yang secara luas disebut “arena sosial” dimulai dari latar sosial karya seni diproduksi, museum, sekolah seni, kota, dan rangkaian seluruh latar sosial tersebut terkait kekuasaan “arena kekuasaan” dalam memproduksi karya tersebut.

Penonton memiliki seperangkat pengetahuan budaya dan modal ekonomi yang mengarahkan sikap mereka, kecenderungan artistiknya, ketubuhannya, dan kompetensi artistiknya-singkatnya habitus mereka.

Ketiga dimensi berfungsi dalam relasinya dengan yang lain. Untuk tujuan analisi kebudayaan, Bourdieu membedakan dimensi-dimensi tersebut. Bourdieu sangat menekankan tentang pengetahuan yang ketat dan diperoleh dari bangku pendidikan yang objektif (kritikus) tentang seni.

Menurut Jenkins Bourdieu tertarik dengan ide tentang perjuangan demi pengakuan sebagai salah satu bentuk dari fundamental kehidupan sosial. Sehingga yang dipertaruhkan adalah akumulasi modal, harga diri, reputasi dan prestise. Salah satu bentuk dari pengakuan adalah selera budaya. Cara selera budaya dimobilisasi dalam perjuangan, pengakuan dan status sosial.Status sosial meliputi praksis yang menekankan dan menunjukkan kehormatan dan perbedayaan budaya yang merupakan ciri krusial dari semua stratifikasi sosial… status bisa dikonsepkan dengan gaya hidup yang terkait dengan permasalahan selera. Status dan gaya hidup merupakan totalitas dari praktik kultural seperti pakaian, tuturan, kenampakan luar dan prilaku-prilaku. Sehingga mendapatkan pengakuan-pengakuan berupa status yang dibayangkan.

Bourdieu menawarkan beberapa strategi diantaranya ialah : Strategi pertama, tergantung pada volume dan komposisi modal yang akan diproduksi dan reproduksi. Strategi kedua, dalam instrument produksi dan reproduksi memalaui hokum waris, adat, pasar tenaga kerja, sistem pendidikan yang tergantung pada relasi kekuasaan antara kelas yang ada. Meski pada dasarnya Bourdieu menolak preferensi selera dari Kant, Bourdieu cenderung reduksionis. Dan tetap memaknai ruang selera sebagai ruang yang arbitrer. Karena pada dasarnya memang dia menolak resensialisme.


BOURDIEU

Persepsi Bourdieu tentang seni menurutnya ialah “selera”. Untuk menjelaskan selera bekerja secara sosiologi, itu membutuhkan rumusnya tersendiri.

Habitus x Modal + Arena = Praksis

Habitus : atau habitat/ latar belakang sosial.

Modal : kapital (uang)

Simbolis (jenjang pendidikan/ status sosial)

Arena : tempat ‘tidak tetap”

Praksis : kenyataan

Tapi keseluruhannya itu masih memiliki makna yang lain lagi menurut Bourdieu, itu karena dalam setiap tulisannya memiliki diksi yang sangat berat.

Dalam tulisannya “outline of a sosiological theori of art perseption”. Menjelaskan tentang bagaimana sebuah karya seni itu ditanggapi oleh masyarakat sesuai selera, misalnya : seniman membuat karya seni kemudian penonton (masyarakat) menilai dan menanggapi hasil dari seniman itu, tidak dengan cara yang dengan biasa, tetapi sipenonton dibagi menjadi dua yaitu, yang awam dan berintelek (berpendidikan). Jika orang awam hanya dengan melihat garis besarnya atau bentuk jadinya saja tanpa menilai/ meninjau sampai kedalamnya. Berbeda dengan kaum berpendidikan yaitu dengan melihat latar belakang/ stori dalam karya seni itu. Itu juga karena penonton memiliki pengetahuan tentang sejarah/ kebudayaan yang seniman gunakan dalam karya senuinya. Karena seniman membuat karya seni itu menggunakan kode-kode budaya yang memiliki makna dan penonton menangkap sebuah makna baru. Sehingga antara seniman dan penonton sama-sama memiliki equilibrium yang cukup. Konsep di atas adalah makna dari perang memorial dalam komunikasi. Equilibrium adalah pengetahuan tentang sejarah/ keseimbangan.

Bourdieu sangat menekankan tentang pengetahuan yang ketat dan diperoleh dari bangku pendidikan yang objektif (kritikus). Kompetensi artistik bisa sangat beragam, namun bourdieu memilih prestise (yang diagungkan) akademisi dan kelas sosial sebagai satu-satunya faktor penentu kemampuan seseorang untuk “memahami” seni. Bourdieu banyak membahas tentang masyarakat modern dan pendidikan. Bourdieu juga mengkritik teori estetika milik immanuel kant “kritikan judgement of taste “ immanuel kant (1724-1804).

Karya seni muncul untuk mengapresiasi suatu keadaan/ kondisi tertentu. Karya seni juga sebagai peristiwa dan memori menurut Bourdieu. Menurut Nick Prior sosiologi seni ala Bourdieu itu dibagi menjadi 3 hal yang saling terkait antara Dimensi, Bentuk, dan Lokasi Yaitu :

Seniman dan Karya Seni itu adalah produksi nyata yang diproduksi oleh pekerja kebudayaan dalam kondisi sejarah khusus.

apa yang secara luas disebut “arena sosial” dimulai dari latar sosial karya seni diproduksi, museum, sekolah seni, kota, dan rangkaian seluruh latar sosial tersebut terkait kekuasaan “arena kekuasaan” dalam memperoduksi karya tersebut.

penonton memiliki seperangkat pengetahuan budaya dan modal ekonomi yang mengarahkan sikap mereka, kecenderungan artistiknya, ketubuhannya dan kompetensi artistiknya-singkatnya habitus mereka.

Ketiga dimensi berfungsi dalam relasinya dengan yang lain. Untuk tujuan analisis kebudayaan, Bourdieu membedakan dimensi-dimensi tersebut.

Bourdieu juga membahas tentang hierarki, yaitu sesuatu yang selalu menunjukkan yang di atas dan di bawah atau tinggi dan rendah. Hierarki adalah kelas yang memisahkan antara tinggi dan rendah, baik dan buruk, dan lain-lain. Dan itu juga menentukan budaya yang tinggi dan rendah bagi kaum yang memiliki hierarki, menurut Bourdieu. Serta bagaimana sosial memandang hierarki yang tinggi dan rendah. Dan belum cukup sampai disitu Bourdieu membahas tentang hierarki dalam hierarki. Maksud dari hierarki dalam hierarki adalah perbedaan kelas dalam kelasnya sendiri hingga membentuk satu yang tertinggi dan terendah, itu mungkin saja menurut Bourdieu.

Menjelaskan kelas klasifikasi kebudayaan tinggi dan rendah, merupakan manifestasi dari realitas relasi kelas. Kebudayaan huruf besar diciptakan oleh karna adanya kekuasanaan dan kebudayaan huruf kecil adalah kenyataan yang dinikmati sekarang ini. Garis besar dari teori perspektif sosiologi Bourdieu ini adalah mengemukakan serangkaian pernyataan tentang cara terbaik untuk memahami hubungan antara kompetensi artistik dan stratifikasi.

0 komentar:

Post a Comment